HANYA SEKEDAR PENGGANTI

HANYA SEKEDAR PENGGANTI
HSPTI#S2-42


__ADS_3


...°...


...°...


...°...


...°...


...°...


...°...


...°...


Setelah tiba di sekolah Bulan langsung menuju ke mading sekolah untuk melihat dimana letak kelas barunya.


Gadis itu terlihat harap harap cemas, ia berharap tahun ini dirinya bisa kembali sekeles dengan teman temannya.


Dengan nafas yang sudah stabil gadis itu pun tiba disana.


Rupanya sudah banyak orang.


"Bulan!"


Mendengar namanya dipanggil gadis bersurai hitam panjang itu menoleh.


Gadis itu langsung melebarkan senyumnya saat netra hitamnya melihat ketiga temannya.


"Kesini ngapain disitu?" Ujar Amel melambaikan tangannya.


"Bentar aku liat ini dulu" sahut Bulan.


"Ngak usah kita udah liat tadi" sahut Nana dan diangguki oleh yang lain.


Akhirnya Bulan menghampiri ketiga temannya tersebut.


"Aku kelas berapa?" Tanya Bulan.


Sebelum menjawab ketiga gadis itu saling pandang lalu kembali fokus pada Bulan.


Bulan mengerutkan alisnya.


"Lan..kita sekelas" ujar Santi dengan senyum lebar.


Mendengar itu mata Bulan pun melebar,"Serius? Kalian serius? Kita sekelas?" Tanya Bulan antusias.


Ketiga gadis itu mengangguk, setelah itu empat sekawan itupun berpelukan ala teletabis dan berlompat lompat karena kegirangan dengan diiringi tawa.


Tinggkah keempatnya pun menjadi pusat perhatian bagi anak anak yang ada disana.


Mereka yang sudah mengenal keempat gadis itu hanya geleng geleng kepala, sedangkan murid murid baru menatap mereka heran.


Sedangkan disisi lain empat gadis yang menggunakan seragam cukup ketat dan rok diatas lutut dengan make-up  itu menatap sinis kearah mereka.


"Cih..kayak bocah, pantesan si Langit lebih pilih lo dari pada dia" ujar Erika sinis.


Winda tersenyum mendengar itu, ia pun tak kalah sinis menatap salah satu dari empat gadis didepannya itu.


Sebulan yang lalu Winda memang sudah resmi menjadi pacar seorang Langit, cowok terpopuler disekolah itu karena selain tampan dan pintar Langit juga seorang anak dari pemilik sekolah tersebut.


Sebenarnya Winda, Bulan dan Langit dulunya mereka berteman sejak SMP, namun siapa sangka jika Bulan dan Winda sama sama memendam perasaan terhadap Langit.


Berbeda dengan Bulan yang secara terang terangan menunjukkan rasa sukanya pada Langit hingga membuat laki laki itu menjadi ilfil akan tingkahnya.


Sedangkan Winda, gadis itu dari dulu terlihat lebih pendiam dan lebih tenang  menanggapi perasaanya hingga mereka masuk SMA yang sama.

__ADS_1


Sejak Bulan dan Winda saling tahu jika mereka menyukai pria yang sama membuat kedua gadis itu tak mau mengalah dan berakhir saling benci hingga sekarang.


Dengan caranya sendiri Winda pada akhirnya resmi menjadi pacar Langit sebulan yang lalu tanpa sepengetahuan Bulan, padahal semua siswa dan siswi sekolah tersebut sudah digemparkan dengan berita tersebut seminggu.


...🌕⭐🌕...


Sudah hampir beberapa menit memutari sekolah itu Bintang belum juga menemukan tempat tujuannya.


"Nih kantor kapsek nya yang mana dah? Mana nih lorong banyak bener lagi, ck, siapa sih yang buat sekolah begini bikin pusing aja" gerutunya yang sedari tadi muter muter mencari kantor kepala sekolah.


Saat hendak berbelok kenan, bersamaan dengan itu seseorang baru saja keluar dari ruang guru hingga...


Bruuukk!!


Buku buku yang dibawa seseorang itupun jatuh berhamburan kelantai.


"Astaga..." Keluh gadis itu menatap nanar buku buku tersebut.


Sedangkan Bintang hanya diam saja menatap buku buku yang berserakan itu.


"Sorry gue ngak sengaja" ujar Bintang dengan nada yang kelewat santai.


Mendengar itu sang gadis pun mendongak menatap sang pelaku.


"Kamu buta ya, ngak liat aku lagi bawa buku sebanyak itu?" Seru sang gadis dengan suara jengkelnya.


Bukannya menjawab, Bintang malah mengerutkan alisnya saat menatap wajah gadis didepannya.


'Kayak pernah liat, tapi dimana?' gumamnya dalam hati.


Melihat laki laki itu yang malah diam dan bukannya membantu membuat sigadis makin marah.


"Yak..bukannya nolongin dan minta maaf malah bengong" bentak gadis itu.


Seketika mata Bintang melebar kala ingatannya kembali berputar tentang kejadian semalam.


"Maksud kamu apaan, semalam apanya? Jangan asal ngomong ya aku nggak kenal sama kamu?" Balas gadis itu.


Bintang malah berdecak,"Ngak usah pura pura lupa ingatan deh, gue ingat betul semalam gara gara lo nyebrang jalan seenak jidad motor gue jadi rusak, dan bukannya tanggung jawab lo malah maen pergi gitu aja." tukas Bintang menatap tajam gadis itu.


Gadis itu semakin mengerutkan dahinya, semalam?


Semalam apanya? Memangnya semalam dia kenapa?


Tunggu, tunggu, semalam?


Tiba tiba banyangan semalam saat dirinya hendak kerumah Nana menggunakan motornya ia malah dikejar anjing tetangga samping rumah Nana.


Karena ketakutanpun ia memutar balik dan mambawa motornya dengan kecepatan penuh dan tanpa melihat kiri kana ia menerobos sebuah motor.


Dan karena ulahnya pun sipengendara motor itu membanting setangnya dan berakhir menabrak pohon, dan saking paniknya bukannya minta maaf ia malah kabur karena takut dengan anjing yang mengejar dirinya.


Setelah ingatan itu masuk keotak cantiknya, gadis yang tak lain dan tak bukan adalah  Aurel menepuk jidadnya.


'Mampus!'


"Jadi ingatan loe udah kembali kan, so, gue minta ganti rugi" ujar Bintang menyodorkan tangannya kearah gadis itu.


Melihat itu sang gadis malah menampilkan gigi rapainya dengan lebar.


"Oh..ja..jadi semalam itu kamu ya, maaf deh, semalam aku bener bener takut karena dikejar anjing, sekali lagi minta maaf" ujar gadis itu merasa malu dan bersalah


Bintang mendengus, melipat kedua tanggannya didepan dada lalu menatap tajam kearah gadis itu.


"Ngak mau tahu, gara gara loe motor gue dibengkel sekarang, ganti rugi!" Ucapnya lagi.


Gadis itu menghela nafas dengan gusar.

__ADS_1


"Oke, oke berapa no rek kamu?" Tanyanya.


Bintang menaikkan alisnya,"Buat apa?" Tanya laki laki itu.


Bulan berdecak,"Ya biar bisa transfer, tadi kamu minta ganti rugikan yaudah mana?"


Mendengar itu Bintang manatap gadis itu sinis,"Gue ngak butuh duit loe, gue punya, banyak malahan" jawabnya.


'Dih sombong amat dah'


"Lah.. terus maunya apa, buruan deh aku lagi buru buru ini" ketus gadis itu mulai jengkel.


"Posel loe." Bintang menjulur tanggannya kedapan gadis yang belum ia tahu namanya.


"Buat apa? Ooh jangan jangan kamu mau modus ya" tuduh gadis itu menunjuk wajah Bintang.


Laki laki itu berdecak dan menepis tangan gadis itu pelan."Dih... PD amat jadi, sorry loe bukan type gue, dah buruan hp loe katanya buru buru".


Gadis yang tak lain adalah Bulan pun melotot mendengar ucapan cowok resek itu namun tak urung ia tetap merogoh saku rok nya lalu mengeluarkan benda pipih yang berlogo buah Apel yang digigit sebelah dengan boba tiga lalu menyerahkan pada laki laki itu.


Dengan cepat Bintang pun mengetik nomornya disana lalu menghubunginya.


Terdengar getaran ponsel lainnya, lalu Bintang memtuskan sambungan.


"Berhubung loe lagi buru buru, nanti gue pikirin ganti ruginya apa" ujar Bintang.


Gadis itu berdecak dengan kasar ia merebut ponselnya lalu hendak berbalik.


"Tunggu!" Ucap Bintang manahan tangan gadis itu.


"Apa lagi?" Tanyanya malas.


"Kantor kapsek sebelah mana?" Tanya Bintang.


Bulan mengerutkan alisnya, ia menatap laki laki itu dari bawah hingga atas,"Kamu baru?" Tanyanya dan diangguki oleh Bintang.


Helaan nafas terdengar lagi dari gadis itu.


"Lantai dua, paling ujung" ujarnya lalu pergi dari sana.


Mendengar itu Bintang melongo,"Pantesan gue cari cari dilantai bawah kagak ketemu rupanya dilantai dua? Anjir emang ya yang punya sekolah!" Umpatnya dengan kesal.


...°...


...°...


...°...


...°...


...°...


Bersambung...


✓Winda Sultan Bramansyah



Tokoh lainnya


Teman teman Bulan




__ADS_1


__ADS_2