
Enjoy and
...°...
...°...
...°...
...°...
...°...
"Kamu akhir akhir ini ngehindari aku?"tanya Langit, entah kenapa tiba tiba saja ia merasa tak suka saat Bulan menghindarinya.
...🌕⭐🌕...
Bulan tersenyum miring mendengar itu, Bulan mentap Langit,"Kenapa? Memangnya kenapa kalau aku memang iya ngehindar dari kamu,bukannya sekarang kamu bahagia karena udah bersama Winda?" tanya Bulan.
Langit maju selangkah dan Bulan pun mundur selangkah,"Oke, aku tahu aku salah, kami salah karena nggak bilang apa apa sama kamu, tapi setidak nya jangan nghindar gini, biasa nya kemana mana kira selalu bersama Lan, dan juga aku liat akhir akhir ini kamu deket sama Langit?" tanyanya.
Bulan terkekeh mendengar itu,bagaiman bisa Langit berkata seperti itu?
Disaat dia sudah bersama Winda dan dia tahu akan perasaannya dia malah menyuruhnya tidak menjauh?
"Kamu tahu nggak Lang? Ini yang bikin aku muak sama kamu tahu nggak, kenapa memangnya kalau aku dekat sama Bintang? Toh kamu juga bukan siapa siapanya aku, jadi terserah aku dong mau dekat sama siapa kek, mau pacaran sama siapa kek kamu nggak ada hak buat larang larang aku!"ujar Bulan.
Langit diam, tanganya terkepal,"Iya aku tahu, tapi aku nggak suka liat kamu sama Bintang" seru Langit lagi.
"Udah deh Lang, aku capek, Lima tahun, lima tahun aku ngejar kamu, tapi hasil nya apa? Kamu malah milih Winda dan sekarang kamu mau larang aku? Sadar Lang, kamu sekang punya Winda, jaga pacar kamu baik baik, dan aku harap ini pertemuan kita yang terakhir kalinya, aku nggak mau Winda bakal salah paham!" ujar Bulan, setelah mengatakan itu Bulan hendak pergo dari sana namun ditahan oleh Langit.
Kedua mata Bulan membola saat Langit tiba tiba memeluk dari belakang.
"Lan, aku mohon jangan jahuin aku, aku tahu aku salah, kamu tahu sendirikan gimana Winda ? Jadi aku nggak ada pilihan lain selain nerima dia, pleass Lan!" ujar Langit hampir berbisik ditelinga Bulan.
"Langit, kamu apa apaan sih? Lepasin aku!" ujar Bulan meronta.
"Nggak Lan, aku kangen sama kamu, pleas bentar aja!" ujarnya semakin mengeratkan pelukannya.
"Langit, lepasin, kamu kangan gila ya!" Bulan semakin meronta hingga seseorang menarik paksa tubuh Langit kebelakang.
"Bintang?"gumam Bulan kembali kaget saat melihat cowok itu ada disana.
"Lo apa apaan sih?" seru Langit marah.
"Lo yang apa apaan? Main peluk anak orang sembarangan, kalau mau peluk noh sama pacar lo!" ujar Bintang berdiri dihadapan Bulan, melindungi gadis itu dari kembarannya itu.
"Ini bukan uruana lo ya, minggir!" seru Langit menatap sengit kembarannya, ia masih kesal dengan Bintang soal tadi dilapangan dan sekarang ia mau ikut campur soal Bulan?
Bintang terkekeh,"Gue nggak nyangka ternyata lo semaruk itu ya, belum cukup punya satu cewek? Kenapa? Kurang belayan lo dari si Winda?" tanya Bintang sinis.
"Kurang ajar lo!"
Grup!
__ADS_1
Sebuah bogeman melayang kewajah Bintang, hanya saja dengan cepat Bintang menangkap tangan Langit yang hampir saja mengenai wajah tampannya.
Sedang Bulan dibuat shok dengan tindaka Langit yang tiba tiba, gadis itu bahkan berteriak kecil saking terkejutnya.
"Santai dong bro, jangan main kasar dong ,disini masih ada cewek!" ujar Bintang menghempas kasar tangan saudara nya itu.
Langit semakin menatap marah Bintang, lalu pergi dari sana.
Melihat kepergian Langit, Bintang mendekat kearah Bulan,"Lo nggak papakan?" tanyanya lembut.
Bulan menggeleng, gadis itu masih terlihat shok,"Ka..kamu nggak papa?" tanya gadis itu gugup.
"See, gue baik baik aja!" jawab Bintang.
Bintang nggak nyangka niat hati mau mengistirahatkan tubub di Rooftop, malah melihat pemandangan seperti ini.
Ya tadi setelah selesai pertandingan, Bintanng tak langsung menuju kelas ataupun kantin, cowok itu malah melipir ke Rooftop atas untuk tidur sejenak.
Beberapa hari ini Rooftop memang menjadi tempat dirinya menenangkan diri, disudut tumpukan kardus yang dilihat dari arah tempat Bulan dan Langit berada tidak akan kelihatan, disaa ada sebuah sofa panjang yang menjadi tempat tidur Bintang.
saat sedang menikmati angin sepoi sepoi tiba tiba ia mendengar seseorang masuk, saat ia melihat itu adalah Langit, ia tak peduli.
Namun beberpaa saat kemudian ada suara seseorang yang ia kenal dan itu adalah Bulan.
Dan tanpa sengaja ia mendengar semua percakapan anatara keduanya.
Dan bisa di simpulkan bahwa Bulan sudah lama menyukai Langit sejak mereka masih SMP, dan dengan bodohnya Langit malah menerima Winda dan sekarang dia malah menyuruh Bulan agar tidak menjauh dari nya?
Ckckckck!!
...🌕⭐🌕...
"Eh Btw, katanya lo lagi dekat sama Bintang ya Lan?" tanya Santia.
Bulan yang baru dengar kabar itu hampir saja tersedak jus yang sedang ia minum.
"Kamu dengar dari mana?"tanya Bulan.
"Elah Lan, nggak usah begitu juga wajah lo, kita mah mau sama siapa lo dekat asal nyaman buat lo kita oke oke aja, iya nggak?" ujar Nana menatap kedua temannya yang lain.
Amel dan Santia mengangguk,"Sejak kapan? Kenapa kita baru pada tahu?" tanya Amel kepo.
"Haiiss...aku sama Bintang bisa dekat itu karena kejadian yang aku ceritaain kekalian waktu pertama sekolah!" jawab Bulan.
Nana,Amel dan Santai memicingkan matanya menatap Bulan,"Yakin lo cuman sebatas itu?" tanya Amel.
Lagi lagi Bulan mengangguk,"Iya, kalau nggak percaya nanyak aja sama orangnya!" jawab Bulan.
"Tapi menurut kaca pembesar gue, Bintang kek nya suka deh sama lo!" ujar Nana.
Bulan terkekeh mendengar itu,"Kok kalian pada ngawur sih, mana mungkin Bintang tuh suka sama modelan aku?" ujar Bulan geleng geleng kepala.
"Lah kenapa? Wong lo orang nya cantik dapet,tajir melintir iya, dan lagi body oke, apa kurang coba?" tanya Santia.
"Ada kurang satu!" ujar Amel.
__ADS_1
"Apaan?" tanya Nana,Bulan,Santia kompak.
"Kurang tinggi!" jawab Amel.
"Pffff, bwahhahahaha!" ketiganya tertawa, sedangkan Bulan hanya bisa menatap jengkel ketiga temannya itu.
Saat sedang asik asiknya ngobrol tiba tiba.
Brak!
"Eh ayam ayam, mampus!" kejut Santai.
Bulan,Nana,Amel dan Santia segera menoleh kearah samping.
Ternyata itu adalah Winda bersama antek anteknya.
"Heh cabe mercon lo apa apaan sih datang datang main gebrak aja, lo kira ini meja punya nenek lo apa?" seru Nana.
"Lo diem, gue nggak ada urusan sama lo ya?" tunjuk Winda.
Plak!
"Nggak usah nunjuk nunjuk teman gue lo ya cabe!" ujar Amel.
"Udah udah, kenapa pada ribut sih? dan kamu, ngapai kamu kisini?" tanya Bulan.
Meski keduanya sepupuan tapi kalau boleh jujur Bulan nggak suka sama Winda, bukan apa karena gadis itu sangat angkub dan sombong.
Winda menatap Bulan sengit,"Lo kalau mau masa masa sekolah lo tenang, gue ingetin jauhin Langit, nggak usah jadi cewek kegatelan deh, lo tahu Langit itu pacar gue!" ujar Winda.
Mendengar temannya dihina teman temannya nggak terima dong.
"Lo ngomong apa barusan hah?, ncaga woi, lo tuh udah kayak cabe diparasan nggak bisa dinego karena udah MURAH!" ujar Amel marah.
"Woi, jaga ya mulut lo!"seru teman Winda.
Orang orang yang ada di Caffe sana semuanya melihat kearah mereka.
"Amel udah, malu diliatin orang,"ujar Bulan,"Dan kamu, perlu kamu tahu ya, aku udah nggak suka sama Langit, terserah kamu mau percaya atau nggak, dan ya, lain kali tolong dijaga ya mbak pacarnya biar nggak kegatelan sama cewek lain, ayo guys kita pergi aja, udaranya udah nggak bagus untuk dihirup bareng cabe cabean!"
setelah mengatakan itu Bulan dan yang lain segera meninggalkan Caffe tersebut.
"Sialan, awas lo Bulan!" gumam Winda menatap marah kepergian Bulan dkk.
...°...
...°...
...°...
...°...
...°...
Bersambung.....
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen dan Vote nya ya, semoga suka dan terimakasih sudah mau mampir dan meninggalkan jejak nya🥰🙏...
Terimakasih sudah mampir🥳🥳