
Enjoy and
...°...
...°...
...°...
...°...
...°...
Pagi ini kediaman utama Frediksoon dihebohkan dengan Zion yang tiba tiba pulang dari Paris dan membawa seorang gadis.
Semua keluarga itu sedang berkumpul saat ini.
Zelona yang ditatap sedemikian rupa pun merasakan gugup luar biasa, bagaimana tidak ini untuk pertama kalinya ia menginjakkan kakinya dikediaman yang bagaikan istana ini.
Ralat ini yang kedua kalinya, tapi jika masuk kedalam ini yang pertamakalinya.
Tadi ia sempat protes dengan Zion yang tiba tiba datang entah dari mana dan menculiknya saat hendak menuju tempat Ayra.
Padahal ia ingin bertemu dengan sahabatnya itu.
Katanya pria ini ingin mengenalkan dirinya dengan Keluarganya, katanya lebih cepat lebih baik,
Zelona pun sependapat dengan Zion, hanya saja dari kata "Keluarganya" ia berpikir hanya menemui kedua orang tua pria itu saja, tapi siapa sangka jika ia akan dibawa langsung ke kediaman utama keluarga Frediksoon dan bertemu dengan keluarga besarnya.
Ahhkk rasanya Zelona ingin memukul kepala pria ini.
Untung cinta...
Dan lihatlah sekarang dirinya bagaikan seekor kelinci kecil yang ditatap ribuan serigala yang kelaparan.
Gadis itu benar benar mengutuk pria yang ada disampingnya ini yang sedang memperlihatkan senyum tertampannya pada keluarganya.
'Sialan Pak Zion!'
Disini ia sedang gugup setengah mati sedang pria itu malah tersenyum tanpa beban.
"Jadi dia kekasihmu Zion Prasetio Bratama??" Tanya Kakek Jo menekan ucapannya diakhir.
"Iya Kakek, dia pacar Zion, sayang ayo kenalkan dirimu!" Ucapnya melihat Zelona.
Gadis itu menurut,"Hallo semuanya, saya Zelona pacarnya kak Zion!" Ujar gadis itu tersenyum kaku.
Keringat dingin membasahi tangannya.
'Astaga gue berasa di introgasi karena sudah mencuri putra meraka yang berharga!' batinya menjerit mendapatkan tatapan yang sulit ia artikan.
"Kakak? Memangnya kakak umur berapa?" Tanya seorang gadis remaja yang ia ketahui Nona muda keluarga Frediksoon, cucu perempuan satu satunya dan adik kandung Ace, Krystal Barnard Frediksoon.
"Umurku 23 tahun!" Jawabnya tersenyum kikuk.
Mendengar itu semua orang cukup kaget,"Jadi kamu masih kuliah?" Kini seorang wanita seumuran ibunya bertanya yang ia kenal sebagai ibu kandung Zion, Tiffani Barnard Bratama.
"I..iya tante, saya masih kuliah tapi sudah semester akhir dan dua bulan lagi saya sudah lulus!" Jawabnya jujur.
Tiffani memicingkan matanya mendengar itu.
"Lalu kalian berdua bertemu dimana?" Zelona mengalihkan tatapanya pada wanita cantik lainnya yang ia kenal Menantu pertama Frediksoon, Farah Astuti Frediksoon.
__ADS_1
"Ah....Bibi kami bertemu di paris beberapa minggu yang lalu ia kan sayang?" Jawab Zion yang langsung merangkul pundak Zelona.
Gadis itu hanya bisa tersenyum pasrah dengan ucapan pria disebelahnya.
"Ekhem!" Deheman Ace membuat Zion menurunkan rangkulannya, pria itu terkekeh.
"Kamu asli orang sinikan? Lalu kenapa kamu malah ada diluar negeri?"tanya Tiffani Lagi, sebenarnya sedari tadi ia merasakan ada yang janggal saat pertama kali melihat wajah Zelona, sepertinya familiar jadi dari itu ia ingin memastikan sesuatu.
"I..iya tante, saya asli orang sini kok, Daddy dan Mommy juga asli sini, saya pergi keparis untuk menghindari perjodohan!" Jawabnya lagi.
"Perjodohan?" Ujar mereka serempak.
Semua keluarga saling pandang,"Lalu kenapa tidak menerimanya kenapa malah kabur?" Tanya Nenek Mia.
'Astaga naga, gue benar benar seperti jadi tersangka disini!'
Zelona bingung harus menjawab bagaimana, gadis itu sedikit menyenggol pria disampingnya meminta bantuan.
Tapi karena pria itu yang memang tidak peka pun hanya menatapnya dan tersenyum.
Lagi lagi Zelona mengutuk pria ini.
Aahkk menyebalkan kenapa dia bisa menyukai pria yang kurang peka seperti ini.
"Kenapa diam?"tanya Tiffani.
"Emmm anu..itu karena saya menyukai orang lain!" Jawab Zelona semakin gugup.
Zion sendiri masih sibuk dengan buah yang ada ditangannya.
"Siapa orang itu?" Tanya kakek Jo.
Lagi lagi Zelona menyenggol pria disampingnya dan juga mendapat respon yang sama,
Karena kesal Zelona akhirnya menjawabnya.
Kriik! kriikk! krikkk!
Semua orang menatapnya tanpa berkedip, begitu juga dengan Zion yang mengangga tak percaya dengan jawaban gadis itu.
Eh...
Zelona seperti orang bodoh saja ditatap begitu, baru saja hendak membuka mulutnya suara tawa dari mereka percah begitu saja.
'Apa lagi sekarang? Kanapa mereka ketawa, emang kata kata gua ada yang lucu? Perasaan enggak deh!' Bingungnya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Zion juga ikut bingung dengan reaksi keluarganya, disana hanya Ace yang diam menatapnya seolah ia orang bodoh.
Pria itu menyenggol bahu Zelona, menatap gadis itu seolah bertanya,'Kenapa mereka tertawa?'
Mengerti dengan maksud tatapan itu Zelona pun ikut menggedikkan bahunya tak tahu.
"Kenapa kalian tertawa?" Tanya Zion binggung.
Mereka menghentikan tawa,"Haaahh...Zion, kakek merestui hubungan kalian berdua, jadi minggu depan kalian akan segera bertunangan dan setelah gadis itu lulus kalian akan segera menikah!" Ujar Kakek Jo berdiri dari duduknya diikuti sang istri.
Hah??
"Maksud Kakek?" Tanya Zion dan Zelona bersamaan.
Lagi lagi mengundang gelak tawa keluarganya,"Hahah kalau udah jodoh emang ngak kemana ya?" ujar Krystal, gadis itu yang paling kencang tertawa.
"Kami tidak akan menjodohkan mu lagi dengan pilihan kami, karena Zelona sekarang menjadi pilihanmu maka tidak perlu menunda lagi, seperti kata kakek mu minggu depan kalian akan bertunangan" sambung Jakop ayahnya Ace.
__ADS_1
"Ya Mom setuju dengan Kakek dan Pamanmu,jadi persiapkan diri kalian untuk minggu depan!" Tukas Tiffani dengan senyum lebarnya.
Lalu mereka pergi satu persatu dari sana, dengan diiringi tawa yang kembali berlanjut.
Zion dan Zelona manatap cengo keluarga tersebut,
Zion menoleh kearah Ace yang masih disana,"Bang??"
Ace mendengus,"Dasar Bodoh!" Setelah mengatakan itu pria itu pun ikut pergi dari sana meninggalkan dua manusia yang masih mencerna perkataan keluarganya itu.
...°°°°°...
Sedangkan ditempat lain, Ayra baru saja membantu para pelayan menyiapkan sarapan pagi.
Pagi ini ka akan kekampus.
Sedangkan suaminya?
Ayra tidak tahu sejak semalam Adam pergi sampai sekarang pria itu belum juga kembali.
Ayra tak mau ambil pusing dengan keberadaan suami yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu.
Wanita itu lebih memilih untuk segera bersiap siap,
Tak berapa lama kemudian setelah selesai Ayra keluar dari kamarnya dan turun kelantai bawah.
Baru saja kakinya menyentuh lantai itu suara bariton menghentikan langakhanya.
"Ayra!" Wanita itu menoleh keasal suara ternyata itu Adam.
Ayra mengerutkan alisnya, sejak kapan pria itu pulang?
Dan kenapa lagi dengannya, lihatlah wajahnya yang menatapku tajam itu.
"Ada apa, bisakah Mas mengatakan dengan cepat, Aya sedang terburu buru!" Jawabnya.
"Kemarin kamu bertemu dengan Zizzah?" Tanyanya, kedua tangannya ia silangkan didepan dadanya tatapan nya masih sama.
Ahh..
Ternyata itu.
"Iya!" Jawabnya.
"Apa yang kamu lakukan padanya?" Tanyanya.
Ayra semakin mendalamkan kerutan didahinya,"Apa maksud Mas? Apa yang Aya katakan pada Kak Zizzah?" Tanyanya, pasalnya kemarin seingatnya ia tak melakukan apapun.
Adam berdecak,"Kamu membuatnya menangis? Padahal dia hanya memintamu untuk menerima pernikahan kami tapi kamu dengan sombongnya berkata menyuruhnya untuk pergi?" Tukas Adam semakin menatapnya tajam.
Mendengar itu membuat amarah Ayra memuncak,"Jadi dari semalam Mas pergi tanpa berkata apapum dan pagi baru pulang Mas malah menangakan itu? Baik akan Aya jawab..
Apa menurut Mas, seorang istri akan rela membagi suaminya dengan wanita lain? Apa lagi wanita itu kakaknya sendiri? Apa Aya salah jika Aya menyuruh kakak untuk menjahui Mas dan tidak mengganggu rumah tangga kita? Apa menurut Mas ada wanita yang inggin dimadu?" Adam terdiam medengar itu.
Ayra menggelang,"Tidak Mas, tidak akan ada wanita yang mau seperti itu, Aya pun tidak ingin Mas, ah... Apa lagi yang kakak adukan pada Mas? Ingat Mas, Aya tak pernah melarang kalian untuk bersama, silahkan kalian menikah itu mungkin lebih baik dari pada kalian tinggal serumah tanpa adanya ikatan pernikahan hanya akan membuat dosa Mas dan Aya semakin menumpuk, tapi jangan lupa tandatangani surat cerainya, Aya harap pulang nanti surat itu sudah tertandatangani, kalau begitu Aya pamit dulu, Assalamu'alaikum!"
Dengan hati yang menggebu gebu Ayra keluar dari rumah, bahkan bekal yang sudah ia siapkan tadi pun tak sempat ia bawa
Dengan kasar ia menghapus air mata yang entah sejak kapan membahasi pipinya,
Lalu masuk kedalam mobil dan pergi dari sana.
...°°°°°°...
__ADS_1
**Bersambung...
Jangan lupa like,komen dan vote ya, makasih sudah mau mampir dan membaca, semoga suka🥰🙏🥰🙏**