HANYA SEKEDAR PENGGANTI

HANYA SEKEDAR PENGGANTI
HSPTI-07


__ADS_3

Enjoy and



...°...


...°...


...°...


...°...


...°...


Hari ini adalah hari kelima pencarian Azizzah, namun Tim SAR dan juga orang suruhan Adam belum juga menemukan hasil apapun,


hampir seluruh laut mereka mencari keberadaan Azizzah namun tetap tidak ditemukan.


"Tuan, kami sudah berusaha sebisa mungkin, tapi tim kami dan anak buah anda tidak mendapatkan asil apaun!" ujar salah satu Tim SAR.


Adam memejamkan matanya, dia masih yakin jika Azizzah masih hidup"Lalu?".


"Dengan berat hati kami mengatkan jika dua hari kedepan kami juga belum menemuka apapun maka Nona Azizzah dinyatakan meninggal!".


Fauzzan yang mendengar itu hanya bisa pasrah,sedangkan Adam, pria itu hanya bisa terdiam.


Hari ini Fauzzan ikut bersama Adam untuk menerima laporan dan hasilnya tak sesuai yang mereka harapkan.


Memang manusia hanya bisa berencana namun tetap Allah lah yang berkehendak.


Fauzzan menepuk pundak Adam,"Kamu harus iklasin Zizzah Dam, Aku yakin dia akan tenang disana, jangan larut dalam kesedihan, lanjutkan hidupmu, ingat bahwa saat ini ada seseorang yang sudah menjadi tanggung jawabmu,mulai saat ini ada seseorang yang akan menunggumu ketika kamu pulang , aku tak pernah memilih milih kasih, Azizzah adik ku, Begitu juga dengan Ayra dia juga adik kecil ku keduanya adikku yang paling berharga, jika karena satu Adik kamu menyakiti Adik ku yang lain, maka Aku pertama kali yang akan maju untuk melindunginya, ingat itu!" setelah mengatakan nya Fauzzan langsung pergi dari sana.


Rahang Adam mengeras mendapat ancaman itu,"Sialan! Kalian pikir ini kemaunku??? Aku juga gak menginginkan perenikahan ini, Kalian pikir aku mau? Ini semua karena kalian yang memaksaku,AKU TERPAKSA MENIKAHINYA, AAAKKHHHHHH.....SIALAN ...SIALAN!!!!!" Adam memukul mukul pembatas jalan itu dengan keras bahkan tanggannya terluka dan mengeluarkan darah segar Adam tak peduli, Adam benar benar frustasi rasanya batu besar jatuh menghantam dirinya dengan bertubi tubi.


Pria itu tak bisa menerima kenyataan begitu saja.


Menjelang siang hari Adam kembali keediaman Laakia, kedua orang tuanya sudah kembali beberapa hari yang lalu, begitu juga dengan kedua kakak laki laki Ayra mereka kembali kerumah masing masing merski juga sering datang, sedangkan Adam memilih menetap sementara hanya karena ia masih menunggu kabar tentang Azizzah.


Dengan wajah lesu pria itu memasuki rumah yang terlihat cukup sepi, karena penghuninya berangkat kerja, hanya ada beberapa palayan rumah yang ada.


Ayra yang baru saja dari dapur melihat suaminya pulang langsung menhampirinya.


"Mas kamu udah pulang? Bagaimana kabar tentang kakak?" tanyanya sambil mengikuti langkah sang suami menaiki anak tangga.


Adam tak menjawab pria itu terus berjalan, namun tiba tiba langkah nya terhenti saat lengannya dicegat oleh Ayra.

__ADS_1


"Lepas!" ujarnya dingin.


"Astaghfirullah, Mas ini kenapa? tanganmu terluka" ujar Ayra khawatir.


Adam menyentak tangan Ayra, lalu menatap gadis itu datar, "Jangan ikut campur dan jangan pernah menyentuhku" setelah mengatakan itu Adam langsung masuk kedalam kamar milik Azizzah.


Ya..selama pria itu tinggal dirumah orang tua Ayra,diam diam Adam selalu tidur dikamar Azizzah tanpa sepengetahuan orang lain kecuali Ayra, Adam akan kekamar Ayra hanya saat mandi dan berganti pakaian saja.


Sedangkan Ayra, gadis itu tidak mempermasalahkannya, karena ia tahu jika suaminya itu pasti sangat kehilangan atas apa yang menimpa kakaknya.


Ayra hanya bisa pasrah mendapatkan penolakan dari pria itu, Ayra kembali turun dan menuju dapur, ini adalah hari kelima dirinya menjadi seorang istri, namun belum ada perubahan apapun dari sang suami, Ayra menghela nafasnya mengingat perlakuan Adam terhadapnya.


"Ya Allah berikanlah hamba kekuatan untuk menghadapi sikap dingin suami hamba" ucapnya lirih sambil menyiapkan makan siang.


...°°°°°°...


Tepat azan maggrib berkumandang Adam bangun dari tidurnya, niat hati hanya mengistirahatkan tubuh dia malah ketiduran,


Adam melihat jam didinding dan itu menunjukkan pukul tujuh malam.


"Selama itu aku tertidur?" gumamnya.


Saat hendak mengusap wajahnya ia melihat tangan kanannya yang tadi terluka kini sudah diperban dengan begitu rapi, keningnya mengerut.


Disana ada nampan yang diatasnya sepiring nasi yang ia yakini sudah dingin dan segelas air putih.


Pas sekali pria itu memang sedang lapar, jadi ia kembali duduk ditepi ranjang, tanpa sadar tangan kanan sedang terluka pria itu menggenggam gelas.


"Ahhkk!!"


Praang!!


Gelas yang dipegangnya jatuh kelantai dan hancur, Ayra yang memang sedang berada dikamarnya yang bersebelahan dengan kamar kakaknya pun mendegar suara itu.


Lantas dengan bergegas ia keluar kamar dan tanpa permisi masuk kedalam kamar sang kakak yang tak terkunci.


"Astaghfirullah Mas!" gadis itu kaget melihat pecahan kaca berserakan dilantai.


Dengan hati hati gadis itu berjalan,"Mas kamu ngak papa?" tanya Ayra khawatir, matanya menatap telapak tangan Adam, perban itu mulai berdarah lagi.


Ia melihat kebawah lagi, "Apa Mas mau makan?" tanyanya Adam tak menjawab pria itu hanya diam tanpa menatap kearah Ayra yang ada didepannya.


"Tunggu sebentar!"


Gadis itu keluar sambil membawa nampan berisi makanan dingin itu, Adam tak peduli apa yang akan dilakukan gadis itu, saat ini tangannya berdenyut nyeri.

__ADS_1


Tak berapa lama Ayra kembali datang sambil membawakan nampan yang sama namun dengan isi yang berbeda, bahkan gadis itu juga membawa kotak P3K.


Lalu seseorang masuk kedalam,"Bik Ami, tolong ya" ujar Ayra.


"Siap Non" ucap Bik Ami.


Setelah selesai, Bik Ami keluar, Ayra menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Adam.


"Permisi ya Mas!" ujarnya sambil meraih tangan sang suami.


Adam menjauhkan tangannya saat tangan Ayra hendak menyentuhnya,"Jangan menyenyuhku!" tukas Adam menatap tajam Ayra.


Gadis itu mengehela nafas,"Iya iya Aya tahu itu, tapi sekarang tangan Mas harus diobati terlebih dulu jika tidak akan infeksi, memang kalau nanti tangannya busuk Mas mau dipotong? Ngakkan? yaudah dilarang sentuhnya pending dulu sekarang diobatin dulu." ujar Ayra lembut.


"Kamu kira aku bocah kecil?" dengus Adam.


"Iya iya Mas Adam bukan anak kacil, yaudah sinii tangannya" ujarnya lagi sambil mengulur tangannya kedepan.


Adam menatap telapak tangan mungil didepanya itu lalu bergantian menatap wajah gadis itu yang sedang menatapaya itu.


"Ayo Mas, gak Aya gigit kok!"


Adam berdecak mendengar perkataan itu, gadis ini bener bener menganggapnya seperti bocah, dengan terpaksa akhirnya Adam meletakkan tangannya yang terluka diatas tangan Ayra.


Kemudian dengan telaten Ayra mengobati luka tersebut,hingga ia membalutkanya kembali seperti semula.


"Naah sekarang sudah selesai, waktunya makan" ujarnya, lalu ia mengambil piring diatas nampan.


"Ayo aaaa.."


Adam menatap datar wajah gadis itu, "Mas ayo dong kebas ini tangan Aya"


Dengan teramat amat sangat terpaksa Adam menerima suapan yang diberikan Ayra untuknya.


"Naahh pinternya suami Aya" ucapnya sambil tersenyum lebar.


Adam yang melihat senyum itu tertengun, senyum itu entah bagaimana mngingatnya akan Azizzah.


Adam tersentak saat Ayra menenepuk pelan tangannya, Adam melihat jika tangannya yang satu sedang terulur kedepan handak menyentuh wajah Ayra.


Seakan tersadar Adam bangkit dari duduknya dan dengan segera keluar dari kamar itu dan menuju kamar Ayra untuk mandi.


Lagi lagi Ayra hanya bisa pasrah dan bersabar atas sikap penolakan suiaminya tersebut.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2