HANYA SEKEDAR PENGGANTI

HANYA SEKEDAR PENGGANTI
HSPTI-14


__ADS_3

Enjoy and



...**°...


...°...


...°...


...°...


...°...


...°**...


Beberapa hari yang lalu setelah mengetahui suaminya pergi kebandung, Ayra terlihat tak bersemangat,


Gadis itu terlihat lebih banyak melamun.


Bukannya marah, hanya saja ia mengkhawatirkan suaminya itu.


Sudah dua hari namun pria itu juga belum kembali.


Zelona yang melihat Ayra melamun pun menegurnya,"Ra...Ayra??"


Gadis itu terkejut, lalu menatap Zelona,"Iya ada apa?"


"Loe nggak papa?" tanya Zelona menatap cemas temannya tersebut.


Ayra tersenyum, "Iya aku ngak papa kok!"jawab gadis itu.


Zelona mangut mangut,"Oh iya, nanti pulang temenin gue ke Mall mau ngak?"tanya Zelona.


Sejenak Ayra menimbang, beberapa hari ini ia memang selalu dirumah menunggu kepulangan suaminya, tidak papakan jika hari ini ia akan keluar?


"Baiklah!" jawabnya tersenyum,


Tepat siang hari setelah selelai solat dzuhur sesuai janji kini kedua gadis itu sedang berdiri didepan pagar kampus menunggu taksi, karena hari ini keduanya tidak membawa mobil melainkan diantar sopir.


Tin! Tin! Tin!


Keduanya menoleh kesebuah mobil putih mewah berhenti didepan keduanya, jendela mobil itu turun.


"Pak Zion?" ujar kedua gadis tersebut.


Pria itu mengangguk,"Kalian mau kemana?"tanyanya.


Sejenak keduanya saling pandang,"Kami mau ke Mall pak" jawab Zelona tersenyum manis.


Zion mengangguk sekali,"Kalau begitu ayo biat saya antar?" ajaknya.

__ADS_1


Keduanya kembali saling melirik, Awalnya Ayra ingin menolak namun melihat tatapan Zelona yang seperti mendapat lotre itupun akhirnya mengangguk pasrah.


Dengan antusias Zelona langsung saja masuk kedalam mobil dibagian depan, sedangkan Ayra hanya menggelang kepala melihat tingkah temannya tersebut.


Sebelum naik kemobil, Ayra meyakinkan dirinya jika didalam sana dirinya tidak hanya berdua bersama Zion melainkan mereka ada bertiga, dengab bissmillah gadis itu masuk kedalam mobil bagian belakang.


Melihat Ayra yang duduk dibelakang Zion hanya bisa pasrah, tadinya ia berharap jika Ayra akan duduk disampingnya.


Akhirnya mobil itupun segera melaju.


Dalam perjalanan Ayra hanya diam, sedangkan Zelona asik bercerita yang ditanggapi senyum sesekali oleh Zion, karena fokus pria itu ada dibelakanngnya.


Zion sesekali menatap wajah Ayra dari kaca spionnya, bukannya tak menyadari akan tatapan tersebut, hanya saja Ayra tak mau menanggapinya.


Teringat akan sesuatu, dengan cepat Ayra mengambil ponsel miliknya.


Ia mencari nomor suaminya lalu mencoba menelponnya, lama nada sambung itu berbunyi namun tidak dijawab.


Hingga akhirnya Ayra memutuskan untuk mengirimi suaminya pesan saja.


📨 Mas, Aya izin pamit ke Mall sebentar sama teman ya, jika nanti Mas Adam membacanya tolong dibalasnya Mas, Assalamu'alaikum!


Setelah mengirimi pesan itu Ayra kembali menatap jalanan yang penuh dengan kendaraan.


Sedangkan dikantor, Adam baru saja menyelesaikan rapatnya yang tertunda dua hari yang lalu.


Pria itu langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kurai kebesarannya, pria itu meraih ponselnya saat suara notif masuk disana.


Adam segera membuka pesan singkat tersebut,


Pria itu mengerutkan alisnya saat membacanya lalu segera membalasnya.


📨Mall mana? Dengan siapa? Jam berapa kau akan pulang?


Setelah mengirimnya, tak berapa lama pesan kembali masuk


💌Mall Xxx, Aya bersama Zelona, dia teman kampus Aya, Mas tenang saja dia perempuan, Aya tahu batas seorang perempuan yang sudah bersuami, insya Allah Aya akan segera pulang jika sudah selesai Mas.


Entah mengapa Adam bernafas lega saat mengetahui dengan siapa Ayra disana, perasaan yang tadinya merasa tak nyaman menjadi lebih baik.


...°°°°°°°...


Sebelum Azan Asar, Ayra sudah tiba dirumahnya, gadis itu dengan gontai memasuki gerbang rumah tersebut.


Saat melewati garasi mobil, tanpa sengaja matanya menatap sebuah mobil yang begitu familiar disana.


"Itukan mobilnya Mas Adam? Apa dia sudah kembali?" gumamnya.


Dengan semangat emlat lima gadis itu berlari kecil menuju rumahnyanya.


Setelah mengucapkan salam, Ayra langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya, dengan jantung yang berdebar, Ayra membawa langkahnyanya, tak bisa dipungkiri sungguh dua hari tak melihat wajah suaminya hal itu membuat Ayra tak terbiasa.

__ADS_1


Meski suaminya itu terkesan cuek,dingin namun nyatanya ia sangat merindukan sang suami.


Dengan tergesa Ayra membuka pintu kamarnya, bersamaan dengan itu Adam baru saja menyelesaikan mandi dan keluar dari kamar mandi yang masih menggunakan handuk dibagian bawahnya.


Adam sedikit terkejut dengan kedatangan istrinya itu, sedangkan Ayra melihat Adam ada dikamar mereka dengan tanpa sadar gadis itu menjatuhkan tasnya lalu berhambur memeluk tubub suaminya dengan begitu erat.


Deg!


Adam mematung kala Ayra memeluknya, Adam tak bisa berkata kata, bahkan untuk menghindar saja ia tak bisa, beberapa hari yang lalu ia memang tidak mengatakan apun pada Ayra tetang kepergiannya kebandung, karena dirinyapun mendadak kesana karena anak perusahaannya yang ada disana sedang bermasalah ia kira akan segera selesai namun ia menghabiskan dua hari disana.


Bahkan disana ia juga bertemu dengan Fauzzan kakak kedua dari istrinya tersebut.


Adam berdehem menyadarkan Ayra, sadar sengan apa yang ia lakukan dengan cepat Ayra melepas pelukannya,


Wajah gadis itu memerah kala melihat jika sang suami masih menggunakn handuk.


"Ma..maaf Mas!" cicit nya pelan.


Adam menyunggingkan senyum tipisnya melihat tingkah istrinya tersebut,"Ada apa?" tanyanya santai sambil berjalan masuk keruang ganti,


Sekuat tenaga Adam mencoba mengatur detak jantungnya sendiri, inilah menagapa Adam selalu menghindar dari Ayra, ia tak mau jantungnya bereaksi saat berdekatan dengan istrinya tersebut.


Adam selalu meyakinkan diri bahwa hatinya hanya milik Azizzah seorang.


Ayra mengekor dibelakang suaminya,dan mencari baju ganti untuk suaminya, Adam hanya melihat saja tanpa memprotes.


"Kapan Mas pulang? Kenapa ngak kabarin Aya?" tanya gadis itu sambil menyerahkan baju ganti untuk Adam.


Pria tampan itu menatap manik hitam yang berembun hampir menjatuhkan isinya, dan benar saja tak lama air bening itu jatuh melewati pipi mulus gadis itu.


Melihat itu Adam tak tega, dengan lembut pria itu menghapus air nata tersebut,"Maaf kemarin aku terburu buru berangkat kebandung karena tiba tiba anak pereusahaan yang ada disana sedang ada gangguan jadi aku lupa mengabarimu, disana aku juga bertemu dengan Bang Fauzzan!" jelas Adam panjang, entah menagapa rasanya Adam harus menjelaskan itu pada istrinya ini.


Mendengar perkataan tersebut, bukannya diam Ayra malah terisak, melihat itu Adam jadi gelagapan sendiri.


"Heii..kenapa malah makin parah? Akukan udah bilang maaf tadi, aku-"


"Enggak Mas, hiks..hiks..se..seharusnya Aya yang mi..minta maaf sama Mas, ka..karena Aya..udah mikir ya...yang bukan bukan ten..tentang Mas..hiks..hikss..Maafin Aya Mas!!!" ujar gadis itu terisak.


Adam mengerutkan alisnya, Adam memegang kedua bahu Ayra lalu meminta gadis itu untuk menatapnya.


"Memangnya apa yang kamu pikirkan?" tanyanya masih bingung.


Lihatlah Adam kembali menelan ludahnya sendiri kala melihat wajah yang biasanya ceria itu dipenuhi air mata membuat Adam merasa bersalah.


Bahkan wajah istrinya itu memerah karena menangis.


"Aya pikir Mas Adam ke ba..bandung ka...karena kak Zizzah...huuuaaa maa....maafin Aya Mas!" ujar gadis itu semaki kejer.


Adam langsung membawa gadis itu kedalam pelukannya,kedua mata pria itu tertutup menikmati pelukan tersebut, wangi dari tubuh Ayra selalu berhasil membuat Adam jauh lebih baik.


Dua hari tak melihat sang istri nyatanya membuat Adam merasakan kerinduan yang kentara hanya saja pria itu menekannya dengan dalih nama Azizzah.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2