
Enjoy and
...°...
...°...
...°...
...°...
...°...
...°...
Setelah menemani Farah berbelanja, Ayra langsung pergi kekampus diantar oleh wanita itu.
Setelah berpamitan.
Dengan langkah lesu wanita itu menuju kelasnya, biasanya ia akan pergi bersama Zelona, sahabatnya yang sudah mengghilang selama hampir dua minggu..
'Haahhh aku merindukan Lona!'
Gadis itu pergi entah kemana, padahal beberapa bulan lagi mereka akan wisuda.
'Semoga saja kamu baik baik saja Lona!'
Setelah tiba di kelas Ayra duduk ditempatnya, dan tak berapa lama seorang dosen pun masuk dan makul pun berjalan.
...°°°°°°°...
Paris
Seorang gadis cantik berambut panjang terlihat sedang duduk dihalte bus.
Gadis itu duduk termenung memandang langit langit malam yang diselimuti awan hitam.
Helaan nafas terdengar sesekali darinya.
Sudah hampir dua minggu ia berada dinegara orang,dirinya terpaksa berada disini karena sebuah perjodohan yang tak pernah ia inginkan.
Awalnya ia pikir dengan pergi dari rumah adalah sebuah keputusan yang baik, tapi lihatlah sekarang..
Gadis itu terlihat sangat lusuh.
Rambutnya yang kusut,wajahnya yang kusam dan lagi kedua jari jari tangannya yang terluka akibat ia mencoba memasak sendiri.
Yaa..awalnya semua baik baik saja, hingga kemarin tiba tiba semua Atm nya tidak bisa digunakan, dan saat ia menelpon Daddynya itu ternyata ulah sang Daddy yang memblokir kartunya itu.
Daddynya akan membuka lagi Atm nya asalkan dirinya pulang, tentu saja dengan kegengsian yang dipunya Zelona menolak akan hal itu.
Ia pikir ia bisa mengurus dirinya sendiri dan mencari kerjaan disana.
Seorang mahasiswi yang bahkan belum mendapatkan gelar serjana siapa yang akan menerima dan memberinya pekerjaan?
Dan untuk pertama kali dirinya mencoba memasak sendiri dan hasilnya ini yangn ia dapatkan.
Miris sekali...
Gadis itu terkekeh hingga lama kelamaan menjadi sebuah tangisan yang tertahan.
Air bening itu berjatuhan kepangkuannya, tak pernah terbayang olehnya hidupnya akan seperti ini saat meniggalkan rumah.
Ingin pulang? Tapi tidak punya uang.
suara gemuruh terdengar menandakan akan turunnya hujan.
Dan tak berapa lama rintik hujan turun hingga menjadi deras.
Bahkan langitpun ikut menambah penderitaannya, lengkap sudah.
Dibawah langit mendung, dan hujan yang begitu deras Zelona menangis meratapi nasipnya yang kacau,
Kedua tangan gadis itu menutup wajahnya ,tubuhnya semakin bergetar karena isak tangis yang semakin menjadi.
Tiba tiba ia merindukan keluarganya, merindukan teman satu satu nya tubuhnya semakin bergetar kala mengingatnya.
Hingga seseorang berdiri didepannya sambil menyodorkan sebuah payung.
__ADS_1
"Are you okay miss?" Tanya orang tersebut.
Mendengar suara yang begitu familiar Zelona mendongak dan ia kaget saat melihat siapa yang ada didepannya saat ini.
Begitu juga dengan pria itu yang tak lain adalah Zion,
ia tak akan menyangka jika ia akan bertemu dengan gadis ini, mahasiswi nya sendiri
Ralat mantan mahasiswi.
Melihat pria itu yang berdiri didepannya dan menyodorkan payung untuknya membuat gadis itu kembali menjatuhkan air matanya
Dan tanpa permisi Zelona berhamburan kedalam pelukannya, memeluk pria itu dengan begitu erat dan tangisnya kembali pecah.
Sedangkan Zion, ia hanya bisa terdiam medapat pelukan yang tiba tiba dari gadis ini, ia tak tahu apa yang terjadi dengannya jadi ia membiarkan gadis itu untuk memeluknya tanpa membalas,membalas pun tidak bisa karena kedua tangganya yang memegang payung.
...°°°°°...
"Jadi kanapa kamu ada disini?" tanya Zion sambil menyerahka segelas teh hangat, saat ini keduanya ada diapartement pria itu.
Tadi setelah Zelona puas menangis pria itu membawanya kamari,
Bajupun sudah terganti dengan hoodie kebesaran milik Zion dan juga celana training miliknya.
Sebuah selimut tebal pun membalut tubuh gadis itu, Zelona menerima gelas tersebut,"Terimakasih pak!" ucapanya.
Zion mendudukkan tubuhnya disofa berhadapan dengan Zelona.
"Jadi kenapa kamu disini?"tanyanya lagi.
Zelona menghela nafas sendu mendengar itu, ia menunduk,"Saya kabur dari rumah!" jawabnya pelan namun masih bisa didengar oleh Zion.
"Kabur? Kenapa?" tanyanya lagi.
"Karena saya tidak mau dijodohkan!" jawabnya lagi.
Zion mangut mangut,"Kenapa harus kabur,kenapa tidak bicarakan dengan orang tuamu jika kamu menolaknya?"
Lagi Zelona menghela nafasnya,"Saya sudah bilang tapi Daddy saya tetap ingin saja menikah dengan pria yang bahka tidak saya kenal!" jawabnya cemberut.
"Lalu kenapa tidam teriman saja?" tanyanya lagi.
Zelona mendongak menatap lawan bicaranya yang saat ini sedang menyender tubuhnya dan menatap langit langit ruang tamunya.
Ah iya, Zion hampir saja lupa jika gadis ini menyukainya.
"Lalu Bapak sendiri kenapa ada disini? Bukan seharusnya bapak ada di kota dan mengajar?" tanya Zelona
Pria itu menghela nafas mendapat pertanyaan seperti itu.
"Saya sudah tidak mengajar lagi, dan alasan saya ada disinu juga sama sepertimu, dijodohkan tapi gadis yang dijodohkan dengan ku malah ka-"
"APAA????" pakik Zelona bahkan gadis iyu berdiri dari duduk.
Zion mendelik mendengar teriakan gadis itu,"Hei kenapa kamu malah berteriak?"
"Bapak dijodohkan? Sama siapa? Apa dia secantik saya? bapak menerimanya?" tanyanya beruntun.
Bahkan kini wajahnya sangat dekat dengan Zion, pria itu mendorong pelan dahi gadis itu,"Aku tidak tahu siapa gadis itu, dan aku menolakknya tentu saja!" jawabnya
Gadis itu menghela nafas lega dan kembali duduk.
Zion terkekeh,"Kenapa kamu yang terlihat lega?"
"Tentu saja, karena bapak menolaknya!" jawabnya.
Keduanya pun saling terdiam, larut dalam pikiran masing masing.
Hingga tiba tiba sebuah ide gila muncul dikepala Zion, pria itu kembali duduk tegak dan menatap Zelona.
"Zelona?" panggilnya.
"Iya Pak!"
"Kamu ingin pulang kerumah?"tanyanya, mendengar itu Zelona mengangguk cepay namun detik berikutnya menggeleng
"Enggak pak, kalau saya pulang nanti saya dijodohkan!"imbub gadis itu.
"Aku tahu, maka dari itu aku akan membantumu!" tukasnya.
__ADS_1
Zelona terlihat berpikir,"Membantu? Bagaimana caranya?"
Zion tersenyum smirk,"Ayo kita kerja sama menjadi sepasang kekasih!" tukasnya sambil menyodorkan tanganya kedepan
Zelona menatap tangan itu bergantian dengan wajah Zion, ia berpikir sejenak, mungkin jika mereka menjadi sepasang kekasih orang tuanya akan membatalkan perjodohan itu.
"Bagaimana? rencana ini menguntungkan kita berdua untuk menghindari perjodohan itu!" sambung Zion.
Benar juga ini juga keberuntungan bagi dirinya karena bisa berpacaran dengan pria yang ia cintai meski hanya sekedar berpura pura tak apalah...
"Baik, ayo kita jadi kekasih bohongan!"ucapnya pun tersenyum sambil menerima uluran tangan tersebut.
...°°°°°°°...
Kembali ke jakarta.
Saat Ayra memasuki rumahnya saat menjelang maggrib, ternyata diruang tamu Adam sudah menunggunya.
"Baru pulang?" Tanya Adam, pria itu melangkah mendekat kearah istrinya.
"Kalau Mas sudah tahu kenapa harus bertanya?"ketusnya.
Adam menghentikan langkahnya dan menatap bingung istrinya karena tidak bisanya wanita itu akan menjawan dengan ketus pertanyaanya.
Adam menghela nafas mengalah, ia juga baru pulang dari kantor dan lapar jadi ia tak ingin berdebat dengan istrinya karena ada sesuatu yang akan ia katakan pada wanita itu.
"Ay mas lapar bisakah kamu membuat Mas Ma-!"
"Aya akan menyuruh bik Nina memasak untuk Mas!" Potongnya lalu pergi dari sana manaiki tangga menuju kamarnya.
Adam mendengus mendapat respon seperti itu, ada apa dengan wanita itu?
Apa belum cukup beberapa hari ini dia menghindarinya?
Tsk..itu membuatnya jengkel.
"Nanti pukul delapan keruang kerjaku, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu!" Tukas Adam menatap punggung itu.
Langkah Ayra terhenti,"Iya!" Jawabnya tanpa berbalik dan melanjutkan langkahnya.
Lagi lagi Adam berdecak, ia tak suka dengan sikap wanita itu yang seperti ini, sangat kekanak kanakan pikirnya.
Tak mau memikirkannya lagi Adam memilih keruang makan, perutnya sedari tadi sudah minta untuk diisi.
Sedangkan dikamar.
Wanita itu menutup pintu kamarnya dan mengguncinya,tubuhnya merosot kelantai kakinya yang sedari menahan berat tubuhnyapun tak sanggup lagi.
Tangis yang dirinya tahan sejak tadi pagi akhirnya tumpah juga.
Ayra memeluk kedua lututynya dan menangis disana.
Ia tak pernah menyangka jika hal seperti ini akan terjadi dalam kehidupannya, rumah tangga yang ia pikir aka berjalan dengan bahagia malah menjadi seperti ini.
Disini siapa yang harus ia salahkan??
Kepada siapa ia harus marah?
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia tak mungkin bisa hidup dengan seseorang yang bahkan tak pernah mencintai dirinya.
Ia tak akan sanggup berbagi suami meski itu dengan kakaknya sendiri, ia tak akan sanggup melihat kebersamaan mereka bedua nantinya.
Ia akan terluka,dirinyalah yang akan tersakiti disini, karena lagi lagi dirinya hanyalah sedekar pengganti.
Ya...keputusn untuk mengakhiri adalah pilih yang tepat saat ini, ia akan merelakan kebahagiaannya dengan kebahagiaan kakaknya..
Ia tak sanggup saat melihat air mata kakaknya yang memohon padanya untuk mengizinkannya menikah dengan suaminya sendiri..
...°°°...
...°...
...°...
...°...
...°...
Bersambung...
__ADS_1
*Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, like,komen dan follow, kalau mau juga bisa lemparkan vote juga ya,
Terimakasih sudah membaca🥰🙏🥰🙏*