HANYA SEKEDAR PENGGANTI

HANYA SEKEDAR PENGGANTI
HSPTI-12


__ADS_3

Enjoy and



...°...


...°...


...°...


...°...


...°...


...°...


Setelah tadi pagi berpamitan dengan kedua mertuanya,Ayra diantar suaminya kempus,


Dan disinilah dirinya berada, dibawah pohon rindang yang ada disalah satu taman kampus.


Setelah makulnya tadi, Ayra langsung ketaman, sedangkan Zelona, gadis itu pamit kekantin dan nanti akan menyusul setelah menesan beberapa cemilan.


Angin sepoi sepoi menerbangkan ujung pasminanya,


Gadis itu terlihat sedang mengerjakan sesuatu dilaptopnya, hingga seseorang menyapa dirinya.


"Assalamu'alaikum Ayra?"


Gadis itu mendongak dan mendapati Zion disana,"Wa'alaikumsallam pak Zion?" jawabnya.


"Jika sedang berdua kamu bisa memanggilku dengan nama saja Ra!" ujar Zion masih dengan jarak yang wajar.


Gadis itu tak menjawab,"Kamu sedang mengerjakan sesuatu?" tanya Zion, kini pria itu memilih duduk disebuah bangku taman yang ada disana.


Sedangkan Ayra, gadis itu duduk lesahan dirumput beralaskan sebuah buku dekat dengan bangku tersebut.


"Iya Pak,lalu bapak sendiri kenapa disini? Bukannya bapak sedang mengajar?" tanya nya, ia sedikit merasa tak nyaman dengan keberadaan Zion.


Selain dirinya yang sudah bersuami ia juga tak mau menimbulkan fitnah atau sekedar rumor.


"Aku baru saja selesai mengajar kebetulan lewat sini dan melihatmu disini jadi aku kesini" jawab Zion dengan senyum lembutnya.


Ayra mangut mangut, gadis itu hendak bangun dari sana untuk pergi, karena ia mulai merasa tak nyaman dengan tatapan orang orang disana,


Saat sedang memasukkan laptopnya kendalam tas tiba tiba Zelona menghampirinya.


"Hai Ra?? Eh...ada pak Zion? Selamat siang pak!" sapa Zelona tersenyum manis kearah dosen tampan nya tersebut.


Sejak pertama kali mengajar disana, Zelona memang sudah menaruh hati pada pria tampan tersebut,


Bahkan diam diam gadis itu mengaguminya dan mengambil fotonya secara diam diam.


Ayra yang melihat kedatangan Zelonapun menghela nafas lega.


"Siang juga Zelona!" balas Zion pun ikut tersenyum.


"Pak boleh minta tolong?" tanya Zelona mantap Zion serius.


Zion mengerutkan alisnya, begitu juga Ayra yang penasaran atas permintaan Zelona, meski baru beberpaa hari mengenal Zelona namun Ayra merasa nyama dengan gadis itu meski sedikit blak blakan tapi Ayra menyukainya.


"Minta tolong apa Zelona?" tanya Zion bingung.


"Tolong jangan senyum pak!" ujar Zelona.


"Kenapa?" tanya Zion.

__ADS_1


"Gantengnya kelewatan!" tukas Zelona dengan nyengir kudanya.


Mendapat gombalan dari mahasiswinya Zion terkekeh, ia tak menyangka jika Zelona tipe cewek yang blak blakan,


sedangkan Ayra hampir saja tersedak air ludahnya sendiri kala mendengar ucapan Zelona.


Gadis itu tak menyangka jika temannya ini begitu berani menggoda dosennya.


"Kau ini bisa saja!" imbuh Zion, sesekali pria itu menatap Ayra yang terlihat syok dengan ucapan Zelona.


Hal itu kembali membuat Zion terkekeh geli melihat wajah Ayra,'Dia sangat menggemaskan!'


Ayra tersadar dari lamunannya saat ponsel miliknya berdering, gadis itu segera meraih benda tersebut saat melihat siapa yang menelponnya.


Sebelum menerimanya, Ayra meminta izin pada Zion dan Zelona untuk menganggkat telponnya.


"Assalamu'alaikum Mama?" sapanya sopan.


Zion dan Zelona menatap kearahnya kala melihat Ayra sedang menelpon seseorang.


'Wa'alaikumsallam sayang, Ay kamu dimana nak?'


"Aya masih dikampus Mah, ada yang bisa Aya bantu?" tanya gadis itu lembut bahkan nada bicaranya sangat nyaman didengar.


Zion kembali dibuat kagum dengan gadis teraebut,'Bahkan dia begitu sopan saat berbicara dengan orang tua? Bagaimana nanti jika dengan suaminya? ah..pasti sangat beruntung laki laki yang akan menjadi suaminya kelak, apakah aku akan menjadi salah satu pria beruntung itu?!'


Zion masih betah menatap Ayra yang masih sibuk dengan ponselnya,sedangkan Zelona sesekali melirik kemana arah pandang Zion.


'Apa Pak Zion menyukai Ayra??' batinnya menebak.


'Nanti pulang, bisa tolong belikan Mama kue yang ada di toko kue Xxx sayang?'


Ayra tersenyum mendengar ucapan Mama mertuannya tersebut,"Ya Allah Mah, Aya kira apa tadi, jika hanya itu Mama bisa meminta tolong Aya kapan saja, insya Allah nanti pulang akan aya belikan!" jawabnya.


'Alhamdulillah, maaf ya sayang, Mama malah ngerepotin kamu, padahal tadi Mama udah minta tolong suami kamu, tapi Adam sedang ada rapat, jadi Mama minta tolong sama kamu, Mama jadi ngerasa gak enak!'


'Yasudah, kalau gitu Mama tutupnya, Assalamu'alaikum!'


"Wa'alaikimsallam!"


Setelah sambungannya terputus Ayra baru sadar jika sedari tadi Zion dan Zelona sedang menatapnya.


"Siapa tadi Ra?" tanya Zelona yang penasaran.


"Ah itu tadi Mama Mer-" ucapan Ayra terputus karena kini ponsel milik Zion yang berbunyi.


Tanpa menunggu pria itu segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut.


"Ada apa?" tanyanya.


Zion terlihat fokus dengan ponselnya, hingga tak berapa lama pria itu menyudahinya.


"Emm kalau begitu kalian lanjutkan saja, saya pamit dulu, Assalamu'alaikum!" ucapnya.


"Wa'alaikumsallam!" jawab Ayra dan Zelona.


Melihat kepergian Zion, Ayra kembali bergutat dengan laptopnya, sedangkan Zelona menatap punggung Zion yang mulai menjauh.


"Ayra?" panggil Zelona tiba tiba.


"Iya?" jawab Ayra sejenak melihat Zelona lalu kembali fokus.


"Menurut loe bagaimana Pak Zion?" tanya Zelona mencoba memastikan sesuatu.


Mendapat pertanyaan seperti itu,Ayra menghentikan kegiatannya lalu ditatap temannya itu.

__ADS_1


"Maksudmu gimana Na?" tanyanya bingung.


"Maksud gue loe suka pak Zion nggak?" tanya Zelona tiba tiba.


Ayra membulatkan matanya mendapat pertanyaan itu,"Astaghfirullah Na, apa maksudmu?"


Zelona menghela nafas, ia tak harus marah jika memang Ayra menyukai Zion,karena itu hak Ayra dan juga ia tak memiliki hak untuk melarang Ayra ataupun Zion untuk menyukai siapa karena dirinya bukan siapa siapa pria itu.


"Sepertinya pak Zion suka sama loe!" gumam Zelona pelan namun masih bisa didengar Ayra.


Melihat wajah murung Zelona,kini Ayra bisa menebak jika temannya itu ternyata menyukai dosen mereka tersebut.


Ayra tersenyum, lalu gadis yang sudah bersuami itu penepuk pundak Zelona pelan.


"Kamu menyukai pak Zion?"tanya Ayra.


Zelona tersentak,"Gimana loe bisa tahu?" tanyanya nampak terkejut.


"Gimana aku gak tahu jika wajahmu sudah menjelaskan semuanya!" jawab Ayra terkekeh geli saat melihat Zelona yang salah tingkah.


Wajah Zelona merona mendengar perkataan Ayra,"Loe sendiri suka sama Pak Zion?" tanyanya.


"Ah sepertinya aku lupa mengatakan sesuatu padamu Na" ucap Ayra.


"Apa itu?"


"Sebenarnya, aku sudah menikah, dan meskipun aku belum menikah aku juga nggak akan suka sama pak Zion!" ujar Ayra.


Zelona nampak terkejut mengetahui fakta bahwa Ayra sudah menikah,"Loe serius udah nikah Ra?"


Ayra mengangguk sambil memperlihatkan cincin dijari manisnya sambil tersenyum.


...°°°°°°...


Sesuai janjinya pada sang mertua, kini Ayra sedang berada di toko kue, disana gadis itu sedang menunggu pesanannya siap.


Saat tiba tiba seseorang menepuk bahunya.


"Sedang apa kau disini?" Ayra terkejeut dan dengan reflek memutar tubuhnya.


"Maa..Mad Adam?" kagetnya.


"Sedang apa kau disini?" tanyanya lagi.


"Ini Mas, Aya lagi beli kue buat Mama!" jawabnya.


Adam melirik kebelakang, lalu kembali kearah Ayra,"Mama telpon kamu?" Ayra mengangguk.


Pria itu mengehela nafas,Saat Ayra mau bertanya sedang apa pria itu disini pelayan toko memanggilnya jika pesanannya sudah selesai.


Adam yang melihat itupun urung memesan kue,karena memang alasan keberadaannya disini untuk membeli kue buat Mamanya.


"Emm...apa Mas Adam mau pulang?" tanya Ayra yang berjalan keluar bersama Ayra.


"Nggak!" jawab Adam ketus.


Ayra mangut mangut,"Baiklah kalau gitu Aya pamit ya Mas,Assalamu'alaikum!" ujarnya sambil meraih tangan Adam dan menciumnya takzim.


Adam tak manjawab,setelah melihat kepergian istrinya dengan taksi, Adam menghela nafas, entah kenapa dirinya harus bertemu dengan istrinya itu, padahal ia sudah berusaha agar tak sering menjumpai istrinya itu meski dirumah ia tetap akan bertemu dengan gadis itu.


Alasannya setiap ia bertemu dengan Ayra, ada perasaan aneh yang ia rasakan, Adam tak mau menebak ataupun mencari tahu perasaan apa itu,


maka dari itu beberapa hari ini ia mencoba menghindari istrinya itu.


"Azizzah...aku merindukanmu!" gumamnya lirih

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2