
Enjoy and
...°...
...°...
...°...
...°...
...°...
...°...
Flassback
Tepat pukul lima sore Ayra keluar dari gedung fakultas tersebut, saat hendak mencari taksi sebuah mobil berhenti didepannya.
Kaca mobil itu turun dan menampilkan sosok kakaknya disana.
"Aya, ada sesutu yang ingin kakak bicarakan denganmu, ayo ikut kakak!"
Ayra tak langsung mengiyakan, namun detik berikutnya wanita itu masuk kedalam mobil milik kakaknya.
Tak berapa lama mereka tiba disebuah Caffe.
Setelah memesan keduanya saling diam sesaat hingga Azizzah berkata.
"Maaf!" Ujarnya sambil menunduk.
Ayra menarik nafas dalam dalam,"Kakak tidak perlu minta maaf, ini bukan kesalahan kakak!" Jawab Ayra.
Azizzah menggelang pelan,"Ini salah kakak karena sudah mencintai suami kamu!" Ujarnya lagi.
"Jika kakak tahu itu suami Aya, jadi Aya harap kedepannya kakak bisa menjahuinya kakak Bisa per-"
"Tidak Ay"Azizzah menatap adiknya dengan tatapan sendu,"Kakak tidak bisa pergi, aku tahu dia suamimu, tapi kamu juga tidak lupakan bukan jika kami dulu sepasang kekasih yang hampir menikah? Aku sangat mencintainya Ay, dia juga mencintaiku kau pun tahu itu Ay, aku tahu ini menyakiti dirimu, tapi aku tak bisa membohongi diriku, jadi kakak mohon Ay!"
Ayra memalingkan wajahnya, ia tak sanggup mendengarnya lagi, hati nya sudah cukup hancur dengan kenyataan yang ia dengar dari suaminya jangan lagi.
"Ayra!" Azizzah meraih tangan sang adik,"Kakak mohon terimalah kakak jadi madu mu hmm, kakak janji akan meminta Adam untuk berbuat adil, hiks...hiks..kakak tidak bisa hidup tanpanya Ay, hiks..hiks..tolong mengertilah Ay..hiks!".
Sudah cukup, Ayra sudah tidak tahan lagi, ia tak akan sanggup jika melihatnya lagi, dengan sedikit kasar Ayra menarik tangannya yang digenggam sang kakak.
Ia berdiri dari duduknya,"Aku pergi kak!" Imbuhnya tanpa menoleh lagi lalu pergi dari sana meninggalkan Azizzah yang menangis tersedu di sana.
Hah?
Adam dan Azizzah memintanya untuk mengerti, lalu siapa yang akan mengerti dengan persaannya yang terluka saat ini?
Kenapa mereka membuatnya seolah olah dirinyalah yang menjadi tersangka, seolah olah disini dirinyalah yang menjadi penjahatnya karena telah menghalangi keduanya bersama.
Gadis itu keluar dari sana dengan air mata membasahi kedua pipinya.
'Ya Allah, apa yang harus hamba lalukan?'
Dari kejahuan tepatnya disebuah restorant yang berseberangan dengan Caffe itu seseorang menatap kepergiannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Flassback off
...°°°°°...
__ADS_1
Ayra Pov
Sesuai janji kini aku sudah berada diruang Mas Adam, berdiri dihadapanya.
Mas Adam menatapmu dengan kening yang berkerut, tentu saja karena melihat mataku yang bengkak sehabis menangis tadi,
Tapi aku tidak peduli, aku hanya ingin bertanya alasan dia memanggilku dan aku bisa keluar secepatnya dari ruangan ini.
Entah kenapa tiba tiba aku merasa marah ketika melihat wajahnya.
"Apa yang Mas mau bicarakan?"tanyaku langsung.
Kulihat Mas Adam mendengus,"Duduk Ay!"
"Tidak usah Aya berdiri saja!" Jawabku.
Mas Adam berdecak,"Ck..baiklah terserah kau saja, lalu dengarkan ini, aku akan menikah dengan Azizzah dua hari lagi!" Ujarnya begitu saja.
"Aku akan tetap menikah meski kamu tidak setuju,dan jika kamu tidak membiarkan Azizzah untuk tinggal disini aku akan membelinya rumah lain!" Imbuhnya lagi.
Hah!!
Sudah ku duga dia akan mengatakan hal itu, dan lihat lah belum apa apa dia bahkan tak menanyakan pendapatku apakah aku setuju atau tidaknya.
Adil?
Hampir saja aku tertawa, bahkan aku sangat yakin setelah dia menikah dengan wanita yang dia cintai, aku tak yakin jika dia bisa berbuat adil padaku karena mengingat aku ini sama sekali tak pernah ia cintai.
"Itu saja yang ingin Mas bicarakan?" Tanyaku menatapnya datar.
"Iya, dan aku harap kamu bisa datang saat pernikhanku dengan Azizzah!" Tukasnya lagi.
Kali ini aku benar banar terkekeh mendengar permintaanya tersebut, adakah istri gila menghadiri pernikahan suaminya yang kedua?
Aku menggelang, baiklah saatnya giliranku, aku mendekat selangkah kedepan mejanya, lalu aku mengeluarkan sebuah map coklat yang sedari tadi kusembunyikan didalam kerudung besarku.
Awalnya aku tak ingin memberinya ini tapi meliahat dan mendengar perktaanya keputusan yang kupilih memang sudah tepat.
Ku letakkan map itu diatas meja.
"Apa ini?" Tanyanya.
"Buka dan bacalah, itu hadiah dari Aya untuk kalian berdua,"Ucapku tersenyum, lalu memutur tubuh hendak keluar, baru tanganku memegang gagang pintu aku berkata lagi,"Dan maaf Aya tak akan bisa menghadiri pernikahan kalian, semoga kalian bahagia!" Setelahnya aku keluar dari sana.
Blamm!!
Dadaku sesak rasanya, kuremat kuat kuat dadaku.
"Huuffff...kamu pasti kuat Ay, kamu tidak boleh terlihat lemah!" Gumamku lalu menjauh dari sana.
Ayra POV off.
...°°°°°...
Setelah kepergian Ayra, Adam membuka isi map tersebut, lalu helaan nafas kasar keluar dari bibirnya kala melihat isi map tersebut.
"Wanita itu benar benar, apa dia segitunya ingin bercerai dengaku?" Ucapnya kesal.
Ia melempar map itu keatas mejanya dengan kasar, disana bahkan sudah terbubuh tanda tangan wanita itu.
Adam memijat pangkal hidungnya yang berdenyut,rasanya kepalanya hampir pecah.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
__ADS_1
Apa dia benar benar akan menceraikan Ayra?
Lalu bagaimana dengan Keluarganya?
Sebenarnya ia sudah mendapatkan ijin dari Mama dan Papanya setelah mati matian ia bujuk, tapi mereka tetap memberinya syarat.
Ya..ia boleh menikah lagi dengan syarat mendapat ijin dari Ayra tanpa bercerai darinya.
Tapi wanita itu...
"Aahhhkkk.......!!!" Adam benar benar frustasi.
Tiba tiba ponselnya berdering, Adam melihat siapa yang menelponnya, lalu senyum terukir dibibirnya kala tahu siapa yang menelponnya.
"Hallo sayang!" Sapanya lembut.
"..."
Senyum dibibirnya hilang saat mendengar suara isak tangis diseberang sana.
"Aku akan kesana sekarang juga!"
Adam memutuskan sambungan telponnya lalu meraih jaket dan kunci mobilnya lalu keluar dari ruang kerjanya.
Ayra yang sedang berada diatas balkon kamarnya pun melihat kepergian Adam yang terlihat terburu buru.
Ayra hanya menatap kepergian mobil Adam dengan Nanar.
Wanita itu tak lagi sedih, ia sudah memutuskan jadi ia tak akan membuang Air matanya untuk seseorang yang tak pernah menghargai keberadaannya.
Setelah melihat menghilangnya mobil Adam, Ayra masuk kedalam kamar, tak lupa ia juga mejutup pintu balkon.
Dua hari lagi Adam akan menikah dengan kakaknya, jadi dengan langkah pasti ia masuk kedalam ruang ganti.
Di ambilnya koper besar miliknya saat pertama kali ia mambawa kamari lalu ia memasukkan barang barang penting miliknya kedalam koper.
Firasatnya mengatakan jika tak lama lagi dirinya akan berstatus janda tanpa anak.
Ah..ngomong ngomong soal anak, Ayra memang sedih akan hal itu.
Pernikahannya dengan Adam sudah berjalan beberapa bulan tapi ia belum juga mendapatkan kabar baik itu, mungkin Allah belum memberinya tanggung jawab untuk menjadi seorang ibu.
Meski dalam lubuk hati yang terdalam ia sangat menginginkan seorang anak, ia ingin menjadi wanita yang sesungguhnya dengan melahirkan seorang bayi.
Wanita itu menatap sedih perutnya yang masih saja rata.
Lalu kembali memberaskan barang barang miliknya.
Jika nanti Adam sudah mendatangani surat cerainya maka dia tinggal pergi dari sana.
...°...
...°...
...°...
...°...
...°...
...°...
**Bersambung....
__ADS_1
jangan lupa like,komen dan vote, semiga suka, makasih sudah mau membaca🙏🥰**