Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi

Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi
Bab 11 - Mencari Jejak Lelaki Lain


__ADS_3

...⊛⊛⊛...


Takashi bersembunyi di balik tembok demi menghindar dari Yuki dan Nana. Dia berharap dua gadis itu tidak menemukannya.


Terdengar suara derap langkah Yuki dan Nana yang perlahan mendekat. Takashi sigap membekap mulutnya sendiri. Dia menunggu dua gadis itu pergi tanpa harus mengetahui tempat persembunyiannya.


Setelah tidak terdengar suara, Takashi keluar dari tempat persembunyian. Dia masuk ke dalam rumah yang ada di sebelah. Takashi memutuskan beristirahat di sana.


Sesudah memastikan keadaan aman, Takashi telentang ke sebuah sofa dan tertidur. Dia cukup kelelahan karena selama semalaman tidak bisa tidur.


Tanpa sepengetahuan Takashi, Yuki dan Nana datang. Dua gadis itu ternyata mengetahui tempat persembunyian Takashi sejak awal.


Yuki memandangi Takashi yang tertidur sangat pulas. "Hmmh... Dia benar-benar tampan. Melihatnya begini, aku jadi ingin terus berada di sisinya," ungkapnya sambil menopang dagu dengan dua tangan.


"Andai aku bertemu dengannya sebelum serangan zombie melanda, aku yakin pasti aku akan tetap menyukainya," sahut Nana. Dia duduk ke sebelah Takashi. Menatap lelaki tersebut sembari menikmati roti isi cokelat.


Beberapa jam terlewat. Takashi akhirnya terbangun dari tidur. Matanya membulat sempurna tatkala menemukan Nana tidur di sebelahnya. Gadis itu telentang memiring dan menjadikan Takashi sebagai bantal. Dia memberikan pelukan erat dari samping.


Sementara Yuki tampak sibuk melihat majalah lama di sofa sebelah. Tanpa pikir panjang, Takashi merubah posisi menjadi duduk.

__ADS_1


Mengetahui Takashi terbangun, Nana juga ikut bangun. "Kau akhirnya bangun juga," ujarnya seraya tersenyum cerah.


"Kau tertidur lama sekali," komentar Yuki.


"Kalian kenapa masih mengikutiku?!" timpal Takashi. Dia menatap Yuki dan Nana secara bergantian.


"Maafkan kami, Takashi. Kami tidak punya tempat untuk dituju." Nana memberi alasan. Dia perlahan menundukkan kepala.


Takashi mendengus kasar. Dia berdiri dan menyandang tas ransel ke punggung.


"Bagaimana kalau aku bisa memberi kalian tujuan?" cetus Takashi.


"Ayo kita temukan jejak lelaki lain! Aku yakin, tidak hanya aku lelaki yang masih bertahan hidup!" jelas Takashi.


"Ya, aku harap juga begitu. Semoga keajaiban itu datang seperti saat kami bertemu denganmu," ucap Nana penuh harap.


Takashi menggelengkan kepala. Dia mencoba memaklumi sikap centil Nana.


"Ya sudah, ayo kita pergi sekarang. Pergi saat siang hari lebih baik!" ajak Takashi. Dia menjadi orang yang memimpin jalan lebih dulu. Berjalan dengan hati-hati. Memindai penglihatan sebaik mungkin.

__ADS_1


"Umurmu berapa, Takashi?" tanya Yuki penasaran.


"Tujuh belas tahun. Aku baru saja lulus SMA," jawab Takashi. "Lalu kau?" tanyanya. Melanjutkan pembicaraan.


"Aku 21 tahun dan Nana 23 tahun," sahut Yuki. "Tapi tidak apa-apa. Aku tidak mempermasalahkan lelaki yang lebih muda," sambungnya sembari merangkul pundak Takashi.


"Apa-apaan." Takashi terkekeh. Langkahnya harus terhenti ketika menemukan sebelah sepatu bot lelaki di jalanan. Sepatu itu tampak belepotan dengan darah.


Takashi, Yuki, dan Nana mendekati sepatu bot tersebut. Mereka memeriksa keadaan darah yang ada di sana.


"Darahnya masih segar bukan?" imbuh Nana. Dia tampak membaui darah yang ada di sepatu bot.


"Ugh! Kau kuat sekali mendekatkan hidungmu ke benda itu. Bukankah itu sangat bau?" kata Yuki seraya meringiskan wajah.


"Sangat bau," tanggap Hana sambil mengusap hidungnya beberapa kali. Dia cepat-cepat menjauh dari sepatu bot.


"Pemilik sepatu ini pasti seorang lelaki," ujar Takashi yakin.


"Aku tidak bisa seyakin itu sebelum benar-benar bertemu pemiliknya," sahut Nana.

__ADS_1


"Ayo kita temukan dia!" ajak Takashi. Dia beranjak lebih dulu. Di ikuti oleh Yuki dan Nana dari belakang.


__ADS_2