Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi

Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi
Bab 9 - Yuki & Nana


__ADS_3

...⊛⊛⊛...


"Nikmatilah waktu kalian. Aku harus pergi," imbuh Hana yang tampak sudah siap untuk pergi.


"Kau akan pergi? Kau tidak ingin bergabung bersama kami saja?" tukas Yuki.


"Maksud kalian bergabung untuk menjadi pengikut lelaki pecundang sepertinya?" Hana menunjuk Takashi dengan gerakan dagu. "Cih! Lebih baik aku pergi sendiri," tambahnya dengan gaya arogan.


"Cih! Kau pikir aku mengajakmu ikut denganku?" balas Takashi. Dia meringiskan wajah seolah merasa jijik.


"Hei! Tuan Takashi!" Hana mencabut pedang katana dari sarung. Lalu mengarahkan ujung katana ke leher Takashi. Hal itu sontak membuat Nana dan Yuki gelagapan. Apalagi Takashi, yang harus merasakan besi tajam nan dingin mengancam lehernya.


"Di sini kau yang berhutang kepadaku. Aku sudah membantumu dua kali. Pertama menyelamatkan nyawamu, dan kedua menyelamatkan dua pacarmu ini!" pungkas Hana dengan ekspresi sangarnya.


"Hana! Apa yang kau lakukan! Takashi bisa terluka!" geram Nana. Dia tentu tidak suka menyaksikan Hana mengarahkan ujung pedangnya ke leher Takashi. Mengingat dirinya sudah terlanjur mengagumi lelaki tersebut.

__ADS_1


Nana mendorong Hana menjauh. Hingga Takashi tak lagi terancam dengan katana milik Hana.


Takashi mendengus lega. Dia langsung memegangi lehernya. Saat itulah Yuki menghampiri. Memastikan keadaan Takashi baik-baik saja.


"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Yuki dengan raut wajah cemas. Nana yang berada di sampingnya ikut memeriksa keadaan Takashi.


"Aku pikir begitu," jawab Takashi kebingungan. Ia langsung mendelik ke arah Hana.


"Jika kau marah, perlukah kau berbuat sampai sejauh itu?" protes Takashi.


Hana memutar bola mata malas. "Selamat bersenang-senang dan selamat tinggal. Aku harap kita tidak akan bertemu lagi," pamitnya. Lalu langsung membuka folding gate begitu saja.


Takashi, Yuki, dan Nana sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Dimana mereka tidak dapat melihat Hana. Melainkan hanya dapat mendengar suara keributan yang dibuat gadis tersebut.


"Hana sangat hebat menggunakan pedangnya. Tidak heran dia tidak takut pergi berkeliaran sendiri," ungkap Yuki seraya duduk ke bangku kosong di bagian kanan Takashi.

__ADS_1


"Ya, tapi aku tidak suka sikap sombongnya itu. Aku yakin Takashi juga membencinya." Nana duduk di bangku bagian kiri Takashi. Dia memandangi lelaki itu sambil menopang dagu dengan satu tangan.


Hal serupa juga dilakukan Yuki. Dia menyatukan dua tangan di atas paha. Kemudian menatap Takashi dengan lirikan mata penuh akan kekaguman.


Wajah Takashi memerah. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Hal yang paling dirinya inginkan adalah melarikan diri secepat mungkin.


Sungguh, Takashi tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Terlebih ketika sekolah dulu dia sama sekali tidak populer.


Takashi memang tampan. Tetapi dia merupakan anak yatim piatu yang miskin. Dulu dia lebih sering dibuli. Dikejar oleh satu wanita saja tidak pernah. Bahkan gadis yang disukai Takashi mencampakkannya karena kemiskinan.


"Aku sebaiknya juga pergi. Terima kasih, Yuki, Nana." Takashi bangkit dari tempat duduk. Dia segera menyandang tas ransel ke punggung.


"Kalau begitu kami juga akan pergi. Aku dan Yuki memutuskan akan ikut denganmu!" ucap Nana. Dia dan Yuki terlihat bersiap-siap seperti Takashi.


Mendengar pernyataan Nana, mata Takashi membulat. Menjaga dirinya sendiri saja dia kesulitan. Sekarang Takashi juga harus bertanggung jawab dengan dua gadis yang ingin ikut dengannya.

__ADS_1


"Apa?!" Takashi menggeleng beberapa kali. "Tidak! Kalian tidak bisa ikut denganku. Carilah lelaki lain," tolaknya secara baik-baik.


"Kau satu-satunya lelaki yang kami temui sekarang!" jawab Yuki dengan wajah memelas. Berharap Takashi berubah pikiran.


__ADS_2