
...⊛⊛⊛...
Dor!
Dor!
Dor!
Takashi langsung menggunakan senapan untuk menembaki zombie level 2 itu. Namun lima kali tembakan belum juga mampu menumbangkan makhluk mengerikan tersebut.
Gerakan zombie itu sangat gesit. Membuat Takashi kesulitan menembak kepalanya.
Karena terus mendapat tembakan, zombie sontak marah. Dia langsung menjadikan Takashi sasaran. Zombie menghampiri Takashi dengan beberapa lompatan.
Menyaksikan zombie berlari ke arah Takashi, Hana segera bertindak. Keduanya bekerjasama untuk menembakkan peluru ke arah zombie.
Mata Takashi membulat sempurna tatkala zombie melompat tepat ke arahnya. Walaupun begitu, dia tidak menyerah menarik pelatuk senjata apinya.
Hana yang melihat bergegas mencabut pedang katana. Lalu berlari ke hadapan Takashi. Tepat saat zombie melompat ke arah lelaki itu.
Hingga ketika mendarat, zombie itu terkena hujaman pedang hana.
__ADS_1
Jleb!
Pedang katana Hana menembus sampai ke punggung zombie.
Zombie belum sepenuhnya tumbang. Saat itulah Takashi menggunakan kesempatan menembak kepalanya. Setelah dua peluru ditembakkan, barulah zombie level 2 itu mati. Hana segera mencabut pedang katana dari zombie tersebut.
Kini yang tersisa hanya nafas tak beraturan dari Takashi dan Hana. Keduanya menjauh dari zombie dan duduk ke lantai.
"Zombie jenis apa itu? Dia sangat kuat..." ujar Takashi sembari sibuk mengatur nafas.
"Mungkin zombie yang sudah terlalu lama hidup berkamuflase menjadi sesuatu hal lain," tanggap Hana yang juga sedang mengontrol nafas. Dia berdiri dan mengelap pedangnya dengan kain.
"Aku sepertinya sudah menyelamatkanmu untuk yang kedua kalinya." Hana mendekat. Dia terlihat juga memasukkan senjata ke dalam tas.
"Maksudmu tadi?" Takashi menoleh. Dia menarik sudut bibirnya ke atas. Takashi memang sudah bertekad, jika Hana bersikap sombong, maka dirinya akan melakukan hal yang sama. "Itu lebih pantas disebut kerjasama," ralatnya.
"Tapi tanpa pedangku, kau tidak bisa dengan mudah membunuh monster zombie itu." Hana menunjuk ke arah zombie yang sudah tergeletak tak bernyawa di lantai.
"Sudahlah. Ayo kita pergi!" Takashi beranjak lebih dulu. Hana lantas mengikuti. Dalam sekejap keduanya keluar dari museum. Mereka berjalan dengan langkah senada.
"Menurutmu ibunya Shima masih hidup?" ucap Takashi.
__ADS_1
"Entahlah. Dalam keadaan dunia begini, memang sulit memastikan kondisi seseorang. Tapi firasatku mengatakan kalau dia sudah mati. Atau bisa saja berubah jadi zombie," sahut Hana. Dari kejauhan, dia dan Takashi bisa melihat Yuki. Gadis itu tampak sibuk sendiri dengan sebuah benda elektronik.
Takashi dan Hana bertukar pandang. Keduanya segera menghampiri Yuki.
"Kau sedang apa?" tanya Hana.
"Setahuku alat ini adalah map elektronik. Tapi sepertinya rusak. Makanya aku berusaha memperbaiki," jawab Yuki. Dia terlihat mengguncang-guncang benda elektronik yang dipegang.
"Kau akan membuatnya tambah rusak kalau begitu," imbuh Hana.
"Serahkan kepadaku!" Takashi dan Hana berucap bersamaan. Mereka sontak bertukar tatapan tidak suka.
Yuki yang melihat, mengerutkan dahi. Menatap bingung Takashi dan Hana secara bergantian.
"Aku tidak yakin kau bisa melakukannya. Biar aku saja," kata Takashi. Dia mengulurkan tangan ke arah Yuki. Meminta gadis itu menyerahkan benda yang dipegangnya.
"Tentu saja aku bisa!" Hana merebut benda yang dipegang Yuki begitu saja.
Takashi memutar bola mata malas. Dia memilih mengalah dan menatap Yuki dan berkata, "Bagaimana? Apa kalian menemukan petunjuk tentang ibunya Shima?"
Yuki menggeleng. "Tidak. Sepertinya dia pergi ke tempat yang jauh," tuturnya.
__ADS_1