
...⊛⊛⊛...
Takashi reflek memegangi dada. Kedatangan Hana yang tiba-tiba membuatnya kaget. Selain itu, Hana juga memberikan pertanyaan yang begitu menohok.
"Apa maksudmu? Kau bicara apa?" tanya Takashi tak mengerti.
"Tidak usah berpura-pura. Aku tahu apa yang kau lakukan dengan Mayu tadi malam," sahut Hana.
"Ah, itu... Kenapa? Apa kau cemburu?" tukas Takashi. Dia beranjak begitu saja dari hadapan Hana.
"A-apa? Cemburu?" Hana terperangah. Dia tidak menyangka Takashi memberikan reaksi seperti itu.
Takashi segera duduk ke depan setir bus. Kali ini dia yang akan menyetir. Sedangkan Hana duduk di sebelahnya.
Perlahan bus mulai di jalankan. Perjalanan lantas kembali di mulai.
Hening menyelimuti suasana. Hana terlihat cemberut sembari melipat tangan di dada. Dia sesekali melirik Takashi. Sampai akhirnya lelaki tersebut sadar akan hal itu.
"Kau marah kepadaku?" celetuk Takashi.
"Marah?" Hana menggeleng sambil tersenyum menghina. "Atas dasar apa aku marah kepadamu?"
"Entahlah. Tapi menurutku kau terlihat sedang marah sekarang," tanggap Takashi.
__ADS_1
"Tidak usah pedulikan aku." Hana membuang muka. Dia menghempaskan punggung ke sandaran kursi.
Takashi mengerutkan dahi. Ia benar-benar tak memahami gadis seperti Hana.
Setelah melewati perjalanan panjang, Takashi dan yang lain akhirnya tiba di tempat tujuan. Namun Takashi harus menghentikan bus karena melihat ada banyak sekali zombie dari kejauhan. Zombie-zombie tersebut menutupi jalan menuju pelabuhan.
"Sial! Kita sudah jauh-jauh ke sini!" umpat Hana sambil mengepalkan tinju di kedua tangan.
"Kita tidak punya pilihan selain kembali," ujar Yuki. Dia, Mayu, Nana, dan Mayu bergerombol mendekati kursi kemudi. Mengamati apa yang terjadi dari arah depan.
"Ya, kita terpaksa harus putar balik." Takashi segera memutar busnya untuk menjauh dari pelabuhan.
"Apa perlu kita periksa keadaan pelabuhan lewat sebuah gedung. Mungkin ada jalan lain yang bisa kita masuki," cetus Mayu.
"Tidak ada salahnya mencoba." Takashi mengangguk. Dia segera mencari gedung yang aman dari zombie.
Takashi menghentikan bus dengan pelan. Dia, Hana, dan Yuki, bertugas memeriksa ke atap gedung untuk memeriksa keadaan.
"Aku pikir liftnya masih berguna. Lihat!" seru Yuki seraya menunjuk ke arah lift yang dia maksud.
"Kau benar. Kita bisa sampai lebih cepat juga." Hana berjalan lebih dulu memasuki lift.
"Kalian yakin? Karena aku merasa tidak yakin," ungkap Takashi meragu.
__ADS_1
"Kalau begitu, kau saja yang naik tangga. Aku dan Yuki akan naik lift," sahut Hana tak peduli.
Takashi memutar bola mata malas. Dia terpaksa mengikuti Hana dan Yuki. Mereka segera masuk ke dalam lift.
"Katanya tidak yakin, tapi ternyata naik juga," sindir Hana sinis.
"Aku tidak bisa meninggalkan berduaan," sahut Takashi.
"Aku dan Yuki bisa menjaga diri kami sendiri," balas Hana.
"Terserah kau. Aku sudah lelah berdebat denganmu." Takashi mencoba memaklumi Hana.
Sedangkan Yuki hanya tersenyum. Dia sudah terbiasa mendengarkan perdebatan Takashi dan Hana.
Pintu lift perlahan tertutup. Yuki memilih lantai paling atas.
Lift mulai berjalan. Namun saat di pertengahan, pergerakannya tersendat.
Takashi, Hana, dan Yuki sangat terkejut. Mata mereka terbelalak bersamaan. Ketiganya semakin dibuat kaget saat lift tiba-tiba bergerak ke bawah.
"Aaaarkhhh!!!" Yuki berteriak kencang. Bagaimana tidak? Lift bergerak turun ke bawah dengan kecepatan tinggi. Lampu yang ada di dalam lift juga terlihat berkedap-kedip. Seolah ada gangguan listrik yang terjadi.
Takashi, Hana, dan Yuki reflek merapatkan diri ke dinding. Ketiganya mencoba bertahan.
__ADS_1
"Kita jatuh ke bawah!" pekik Hana.