
...⊛⊛⊛...
Posisi Takashi sekarang ditindih oleh zombie level dua. Zombie itu mengangakan mulut. Berusaha menggigit Takashi yang sedang bertahan sekuat tenaga.
Kekuatan zombie yang menyerang, membuat Takashi kewalahan. Dia semakin panik saat zombie lain mulai berlari ke arahnya.
Gigi Takashi menggertak kuat. Dia mendorong zombie di atas badannya sekuat tenaga. Tak peduli dengan air liur zombie yang nyaris menetes ke wajahnya.
"Aaaargghh!!!" geram Takashi. Dia menendang kaki zombie dengan tenaga maksimal. Zombie tersebut tersentak sambil berteriak. Saat itulah Takashi mengambil kesempatan untuk menembak zombie.
Tidak tanggung-tanggung, Takashi menembakkan peluru ke mulut zombie. Dia terus menembak sampai bisa membuat zombie itu tumbang.
Darah bercipratan kemana-mana. Termasuk ke wajah Takashi sendiri. Meskipun begitu, usahanya sukses membuat zombie level dua tersebut mati.
Takashi berdiri. Ia bergegas mengejar bus yang telah dijalankan Hana.
"Takashi, cepat!" pekik Sakura yang berdiri di pintu bus. Dia mengulurkan satu tangan ke arah Takashi.
"Pelankan sedikit, Hana!" perintah Nana yang juga berada di dekat pintu.
__ADS_1
Hana menurut. Dia memelankan bus demi Takashi. Lelaki itu otomatis bisa naik ke bus. Tentu saja dengan bantuan Sakura dan Nana. Selanjutnya, barulah Hana melajukan bus ke jalanan. Meninggalkan ratusan zombie yang tidak putus asa mengejar.
Beberapa menit berlalu. Suasana di dalam bus sangat hening. Bahkan dua orang dari mereka ada yang menangis. Mereka tentu menyayangkan kematian Shima. Orang yang paling terpukul sekarang adalah Mayu. Mengingat wanita itu sudah menganggap Shima seperti anak sendiri.
Mayu terlihat ditenangkan oleh Yuki. Jadi Takashi memutuskan mengamati dari tempat duduknya. Dia sendiri duduk di kursi yang ada di sebelah Hana. Keduanya memang seperti pilot dan co-pilot.
"Aku merasa perjuangan kita untuk menyelamatkan Shima berakhir sia-sia," cetus Hana seraya fokus mengemudi.
"Kita sudah berusaha maksimal," tanggap Takashi. Ia menghela nafas kasar.
"Kau lagi-lagi menjadi satu-satunya lelaki," komentar Hana.
"Apa kau homo?" tanya Hana. Mata Takashi sontak membulat sempurna.
"Pertanyaan macam apa itu?!" balas Takashi tak terima.
Hana tergelak. Dia sangat suka membuat Takashi marah. "Tidak ada. Hanya pertanyaan iseng untuk membuatmu kesal," sahutnya.
"Kau memang selalu membuatku kesal!" cibir Takashi.
__ADS_1
Empat jam lebih terlewat. Hana menyadari kalau bus sudah kehabisan bensin. Dia lantas membangunkan Takashi yang kebetulan tertidur di sampingnya.
Hana membangunkan Takashi dengan menggunakan kaki. Dia menendang lelaki itu sampai hampir terjatuh dari kursi.
Takashi terbangun dari tidur. Dia langsung melotot ke arah gadis yang sudah tega menendangnya.
"Bensin kita hampir habis. Kita harus singgah di pom bensin terdekat. Atau mengganti bus ini dengan kendaraan lain," ungkap Hana. Tanpa rasa bersalah.
"Tapi perlukah kau sampai harus menendangku?" balas Takashi. Dia dan Hana segera memperhatikan sekitar jalanan.
Sungguh sebuah keberuntungan ketika Takashi melihat ada pom bensin dari kejauhan. Hana lantas menghentikan bus di sana.
Semua orang turun dari bus. Mereka juga akan memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Lagi pula bus yang mereka kendarai juga membutuhkan jeda.
Mayu terlihat berjalan sendirian memasuki sebuah toko furniture. Di sana dia duduk termangu sambil sesekali minum air dari botol.
"Mayu tidak mau bicara sejak melihat kematian Shima. Cobalah bicara dengannya, mungkin kalau bersamamu dia akan berbeda," ujar Yuki. Memberi saran.
Takashi mengangguk. Dia menghampiri Mayu.
__ADS_1