Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi

Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi
Bab 27 - Ciuman Kedua Takashi & Nana


__ADS_3

...⊛⊛⊛...


"Itu memang yang terpenting." Mayu kembali sependapat dengan Hana. Semua orang lantas menatap Takashi. Meminta persetujuan lelaki tersebut.


"Ya, aku setuju. Menemukan tempat aman adalah salah satu hal yang utama harus dilakukan." Takashi setuju. Dia dan yang lain memutuskan akan berangkat besok.


Kini Takashi sedang berdiri di depan jendela. Mimpinya tempo hari kembali membayangi.


"Kau kenapa? Apa ideku tadi membuatmu gelisah?" Hana muncul dari belakang. Ia berdiri di samping Takashi.


"Sebenarnya aku pernah memimpikan banyak gadis yang hamil karenaku. Kau bahkan juga salah satunya," ujar Takashi.


Pupil mata Hana membesar. "Itu tidak akan terjadi! Kehadiranku di sini hanya ingin menjadi rekanmu. Dan kalau kau nanti benar-benar membangun sebuah kerajaan, aku lebih memilih jadi jendral dibanding istrimu!" tolaknya tegas.


Takashi melirik Hana dan berucap, "Aku bahkan tidak yakin bisa membangun kerajaan. Aku tidak pernah membayangkan diriku sendiri menjadi raja untuk orang lain."


"Lakukanlah secara alami. Aku sangat yakin, semua gadis di sini kecuali aku, mereka semua tertarik kepadamu. Pilihannya ada di tanganmu, Takashi. Kau bersedia atau tidak?" tukas Hana.


Takashi membisu. Dia hanya menatap kosong keluar jendela. Hana lantas pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Malam semakin larut. Semua orang sudah tertidur lelap.


Nana mendadak terbangun. Kebetulan dirinya tidur bersama Yuki.


Dengan langkah pelan, Nana keluar dari kamar. Dia merasa tidak bisa tidur lagi. Gadis itu berjalan ke balkon. Sepertinya Nana menyukai tempat itu untuk melamun. Ia cukup lama berdiri di sana. Menatap kota Tokyo yang sudah menjadi tempat antah berantah yang dipenuhi zombie.


Di sofa, Takashi terbangun dari tidur. Dia merubah posisi menjadi duduk. Dari sana dirinya dapat menyaksikan Nana yang sedang ada di balkon.


Takashi segera beranjak dari sofa. Kemudian ikut bergabung bersama Nana di balkon.


"Tidak bisa tidur?" sapa Takashi.


"Apa kau marah kepadaku?" tanya Takashi.


"Tidak." Nana menggeleng. "Aku hanya merasa kalau apa yang kulakukan terakhir kali berlebihan. Maaf," tuturnya.


"Kau tidak seharusnya minta maaf. Akulah yang salah. Tapi kau terasa berbeda saat menjadi lebih pendiam begini. Aku suka melihat Nana yang ceria dan selalu tersenyum," ungkap Takashi. Jari-jemarinya mengaitkan anak rambut Nana ke daun telinga.


"Benarkah?" Nana tersipu malu. Dia menatap Takashi. Kepalanya sedikit mendongak karena badan lelaki itu lebih tinggi darinya.

__ADS_1


Takashi mengangguk. "Aku juga ingin mengakui bahwa saat itu aku memang menikmati ciumanmu," ungkapnya.


Nana terdiam. Dia dan Takashi terpaku saling menatap. Sampai atensi keduanya tertuju ke bibir satu sama lain.


Takashi menenggak salivanya sendiri. Lalu barulah dia mendaratkan bibirnya ke bibir Nana. Kini mulut keduanya berpadu jadi satu.


Nana memejamkan mata. Dia mengalungkan tangannya ke leher Takashi. Nana sudah tidak peduli kalau salah satu tangannya sudah buntung.


Takashi dan Nana saling berpagutan bibir. Sesekali mereka memiringkan kepala.


Tangan Takashi perlahan melingkar ke pinggang Nana. Keduanya mulai terbawa suasana. Hingga nafas mereka mulai tak beraturan.


Merasa sudah cukup, Takashi melepas tautan bibirnya dari mulut Nana. Ia dan gadis itu kembali saling bertukar pandang.


"Aku semakin menyukaimu, Takashi. Aku sekarang mengajukan diriku seperti Mayu. Aku bersedia melahirkan anak darimu," ucap Nana.


Mata Takashi membola. Dia menggeleng dan tersenyum. "Aku butuh waktu untuk itu. Lebih baik kita fokus mencari tempat tinggal untuk menetap," tuturnya.


"Baiklah." Nana mengangguk sambil tersenyum. Dia segera mendekap erat Takashi.

__ADS_1


__ADS_2