Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi

Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi
Bab 59 - Penolakan Hana


__ADS_3

...⊛⊛⊛...


Takashi dan Hana mulai sering belajar bersama. Mereka juga sesekali memastikan keadaan Mayu dan wanita lain.


Sampai tibalah Mayu hamil di bulan ke delapan. Perutnya sudah semakin besar. Sebab itulah Takashi dan Hana sepakat akan pergi ke rumah sakit terdekat untuk mengambil peralatan medis. Mereka terpaksa harus meninggalkan para wanita sebentar.


"Kau sebaiknya tetap ada di mansion. Biar aku yang kali ini pergi," ujar Takashi. Dia berjalan bersamaan dengan Hana. Menuju gerbang utama mansion.


"Tidak! Itu akan sulit. Lagi pula keadaan di sini aman. Kita juga tidak akan pergi terlalu lama. Kita akan kembali secepat mungkin. Kalau kau cemas, kau saja yang tinggal," sahut Hana. Dia keluar dari gerbang lebih dulu.


"Dasar keras kepala," komentar Takashi. Dia segera mengikuti Hana. Mereka meninggalkan mansion.


Saat itulah Yuki bergegas kembali mengunci gerbang. Berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang terjadi.


Ketika tiba di rumah sakit terdekat, Takashi dan Hana mulai mencari peralatan yang berguna. Ternyata semuanya tidak semudah yang mereka kira. Terlebih langit mendadak mendung. Tak lama kemudian hujan turun dengan deras. Meskipun begitu, cuaca terasa sangat panas. Pakaian Takashi bahkan sudah dibasahi keringat.


"Ini menyebalkan," keluh Hana. Padahal dia dan Takashi sudah selesai memilih peralatan medis yang harus dibawa. Mereka sedang berada di lobi.

__ADS_1


Takashi baru saja meletakkan alat berukuran besar ke dekat alat lainnya. Dia menatap Hana yang sedang berdiri menghadap jendela.


"Setelah ini kita harus mencari mobil," ucap Takashi sembari membuka semua kancing baju yang dia kenakan. Dirinya jelas kepanasan.


Hana menoleh. Wajahnya memerah saat melihat pakaian Takashi yang terbuka. Ia dapat melihat otot perut Takashi yang tampak berbentuk jelas. Walaupun begitu, Hana langsung membuang muka.


"Kau kenapa membuka baju?" tanya Hana yang tak habis pikir.


"Aku kepanasan," jawab Takashi santai. Lalu duduk ke sofa. Menyandar sambil mendongakkan kepala. Dia melirik ke arah Hana.


"Hana," panggil Takashi.


"Kenapa kau berpaling? Apa penampilanku sekarang sangat mengganggu?" cetus Takashi. Diam-diam dia beranjak ke belakang Hana.


"Tentu saja tidak!" Hana langsung memutar tubuhnya. Dia terkejut saat melihat Takashi sudah ada di depan mata. Jantung Hana sontak berdegup kencang. Ia perlahan melangkah mundur. Namun tangan Takashi sigap memegangi lengannya.


"Lalu kenapa kau terlihat gugup?" Takashi tersenyum sambil mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


"A-apa? Gugup? U-untuk apa aku gugup?" Hana terbata-bata.


"Lihat, kau bahkan bicara sampai tergagap begitu," tukas Takashi. Dia tiba-tiba melayangkan ciuman ke pipi Hana. "Kau gadis pertama yang dicium oleh Takashi," sambungnya.


Mata Hana membulat. Dia reflek memegangi pipi. "Kurang ajar," umpatnya.


"Kau jadi sangat berlagak setelah diperlakukan seperti raja oleh semua orang!" pungkas Hana sinis. Dia mencoba melepaskan tangan Takashi. Meski hatinya sebenarnya menginginkan lelaki itu, namun Hana berusaha tetap pada pendiriannya.


"Benarkah? Tapi bukankah itu yang kau harapkan dariku?" tanggap Takashi. Dia masih belum mau melepaskan Hana.


"Kau!" Hana sudah tidak tahu harus menjawab apa. Dahinya berkerut dalam.


"Jujur saja, kau sebenarnya menginginkanku bukan?" ujar Takashi.


"Tidak!" Hana menolak tegas. Dia menginjak salah satu kaki Takashi. Lelaki itu sontak mengerang kesakitan.


"Berhentilah merayuku!" ancam Hana.

__ADS_1


Takashi memutar bola mata jengah. Sikap Hana yang ketus, membuatnya justru semakin tertarik. Takashi semakin menyukai gadis tersebut


Saat itulah hujan reda. Dia dan Takashi segera kembali ke mansion dengan menggunakan mobil pengangkut barang.


__ADS_2