
...⊛⊛⊛...
"Bagaimana kalau kita pergi ke perusahaan Kaguya? Jujur saja, aku ingin memeriksa sesuatu di sana." Sakura memberikan usul.
"Bukankah itu perusahaan tempat Mayu bekerja?" tanya Takashi.
"Ya, bukankah kau bilang tempat itu sudah diterobos oleh para zombie? Jadi bisa dipastikan ada banyak zombie berdiam di sana," kata Nana.
"Aku tahu. Tapi aku hanya terpikirkan mengenai obat penawar. Bagaimana kalau ilmuwan berhasil menemukan sesuatu di sana?" ujar Sakura.
"Tapi kata Mayu para ilmuwan di perusahaan Kaguya tidak sempat membuat apapun karena serangan zombie." Nana menatap Mayu. Menuntut kejelasan dari wanita tersebut.
"Aku hanya mendengar itu dari temanku. Saat zombie menyerang, kebetulan aku dalam perjalanan menjemput anakku ke sekolah." Mayu menjelaskan.
"Berarti kemungkinan adanya obat penawar masih ada harapan?" kelopak mata Hana melebar. Dia merasa antusias.
"Mu-mungkin saja. Tapi teman yang memberitahuku itu bekerja di laboratorium. Jadi aku percaya kepadanya. Aku bahkan tak pernah berniat mendatangi perusahaan Kaguya lagi," ungkap Mayu panjang lebar. "Tapi aku akan ikut jika kalian memutuskan pergi ke sana," sambungnya. Mayu tidak mau menyurutkan semangat rekan-rekan seperjuangannya.
__ADS_1
"Kalau begitu, apa salahnya mencoba. Mencari penawar lebih baik dari pada harus menyerahkan diri kepada Takashi." Hana melirik Takashi dengan sinis.
"Hei! Kenapa kau bicara seolah-olah aku menjijikan?! Apa kau tidak sadar kalau kau yang mencetuskan rencana tentang kerajaan itu?!" timpal Takashi tak terima.
"Aku tahu." Hana menjawab singkat. Dia segera beranjak untuk duduk ke kursi kemudi. Hana menjalankan bus menuju perusahaan Kaguya.
Seakan sudah setuju, Takashi dan yang lain segera duduk ke kursi masing-masing. Kini mereka memiliki tempat tujuan baru.
Keberadaan perusahaan Kaguya sendiri tidak cukup jauh dari pelabuhan. Hanya butuh waktu sekitar setengah jam untuk tiba di sana.
Hana harus menghentikan bus ketika melihat jalanan ditutupi tumpukan mobil. Dia dan yang lain segera turun dari bus.
Hana dan Mayu tampak berjalan paling depan. Sedangkan Takashi ada di belakang. Langkahnya senada dengan Sakura.
"Bagiku kau tidak pernah berubah, Takashi." Sakura berujar sambil terus melangkah.
"Apa maksudmu?" tanggap Takashi.
__ADS_1
"Dimataku kau selalu terlihat dewasa. Terutama dari sikapmu. Kau juga sangat peduli dengan orang-orang sekitarmu."
Takashi terkekeh. "Aku rasa kau sedang membicarakan tentang dirimu sendiri," sahutnya.
"Aku serius." Sakura menautkan jari-jemarinya ke tangan Takashi. Lelaki itu lantas tersenyum.
Takashi dan para gadis terus berjalan. Perlahan awan di langit mulai menghitam. Sampai akhirnya hujan tiba-tiba turun.
Kebetulan perusahaan Kaguya sudah ada di depan mata. Takashi dan yang lain berlarian ke sana. Mereka langsung mencoba membuka pintu perusahaan besar tersebut. Namun anehnya pintu gedung terkunci.
"Apakah mungkin ada orang di dalam?" duga Hana sembari mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Atensinya segera tertuju ke kamera CCTV yang ada di atas.
"Lihat! Aku rasa kameranya menyala," seru Hana seraya menunjuk kamera CCTV.
Mayu melambaikan tangan ke arah CCTV. "Apa ada seseorang di sana? Di sini kami hanya ingin meminta ban--"
Belum sempat Mayu selesai bicara, pintu secara otomatis terbuka. Kening semua orang mengernyit. Termasuk Takashi sendiri.
__ADS_1
Sesosok lelaki paruh baya terlihat berdiri menyambut kedatangan Takashi dan kawan-kawan. Matanya tampak membulat sempurna.