
...⊛⊛⊛...
Takashi dan Nana segera kembali ke tempat dimana semua orang berkumpul. Mereka tidak lupa menutup pintu.
Hening menyelimuti suasana. Yuki dan Sakura terlihat sudah tidur. Hal serupa juga dilakukan oleh Nana. Namun dia memilih tidur di samping Shima.
Sementara Takashi sibuk memakan roti. Dia dudu di depan jendela. Dirinya memilih tidak tidur karena berniat ingin berjaga.
"Ini untukmu," ujar Mayu sembari menyodorkan segelas kopi untuk Takashi.
"Terima kasih." Takashi menyambut kopi pemberian Mayu.
"Aku sudah selesai. Sekarang siapa tadi yang ingin mandi setelahku?" cetus Hana. Dia baru saja keluar dari kamar mandi. Gadis itu nampak membilas rambut dengan handuk.
"Aku." Mayu yang tadinya duduk di sebelah Takashi, langsung berdiri. Dia segera menoleh ke arah Takashi. "Kau mau ikut, Takashi?" tawarnya.
Mata Takashi terbelalak. Wajahnya lagi-lagi memerah karena rayuan wanita yang lebih tua darinya.
__ADS_1
"I-ikut? Maksudmu mandi be-bersamamu?" Takashi menebak dengan perasaan ragu.
"Tentu saja. Lalu apalagi? Aku hanya ingin mengajarimu bagaimana caranya menjadi lelaki jantan. Kau terlihat seperti pecundang saat malu-malu begini. Benarkan, Hana?" Mayu meminta pendapat dari Hana. Gadis tersebut tergelak.
"Mau bagaimanapun, bagiku Takashi adalah seorang pecundang," tukas Hana. Menyebabkan mata Takashi langsung mendelik ke arahnya.
"Jangan terlalu membenci Takashi, Hana. Nanti kau kena batunya sendiri." Mayu berjalan melintas di depan Hana. Lalu masuk ke kamar mandi.
"Kau dengar kan? Jangan terlalu membenci!" Takashi berkata dengan penuh penekanan.
"Aku tidak membencimu. Aku hanya mengejekmu," balas Hana. Dia menarik kursi di dekat Takashi. Kemudian mendudukinya.
Hana menggeleng. "Tidak. Terima kasih. Aku tadi sudah makan ramen bersama Sakura dan yang lain," tolaknya. Dia masih sibuk mengeringkan rambut.
Takashi mendengus kasar. Dia segera menatap keluar jendela kaca di depannya. Mengamati keadaan di luar yang terlihat sepi. Takashi tenggelam dalam hening.
"Aku tidak menyangka kota Tokyo yang selalu kukagumi, bisa berubah jadi porak-poranda dalam sekejap," ungkap Takashi.
__ADS_1
"Ya, wabah yang terjadi memang sangat sulit dicegah," tanggap Hana.
"Apa kau tahu bagaimana awal mula wabah virus zombie ini terjadi? Aku pernah membaca di berita. Katanya semuanya karena bio-teknologi Kaguya. Apa itu benar?"
"Aku rasa begitu. Karena saat hari pertama bio-teknologi mereka dirilis ke publik, wabah zombie langsung muncul hari itu juga. Kau tahu kan perusahaan mereka tidak hanya ada di Jepang. Tapi juga berbagai negara di dunia."
"Harusnya mereka tidak merilis bio-teknologi itu begitu saja. Mereka harusnya melakukan uji coba terlebih dahulu. Aku--"
"Mereka melakukannya, Takashi!" sergah Mayu. Dia sengaja memotong perkataan Takashi. Hana dan Lelaki itu sontak menengok ke arah Mayu.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Hana.
Mayu berjalan mendekat. "Karena aku salah satu karyawan di perusahaan Kaguya. Aku bekerja di bagian pemasaran," ujarnya.
"Benarkah? Pantas saja kau punya pistol secanggih itu," sahut Takashi tak percaya.
Mayu tersenyum tipis. Dia segera melanjutkan ceritanya dengan perasaan emosional. Mayu mengatakan bahwa ada salah satu ilmuwan yang berkhianat. Ilmuwan itulah yang sudah mencampurkan virus buatannya ke dalam bio-teknologi Kaguya.
__ADS_1
"Ilmuwan? Kenapa dia melakukan itu?" Hana menuntut jawaban.
"Aku tidak tahu. Tidak ada orang yang tahu dengan tujuan ilmuwan bernama Arata itu. Tapi aku pernah tidak sengaja mendengar pertengkaran Tuan Kaguya dan Arata di kantor. Sayangnya, aku tidak bisa mendengar perdebatan mereka dengan jelas." Mayu bercerita sambil mengulang ingatannya.