Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi

Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi
Bab 55 - Rooftop Mansion


__ADS_3

...⊛⊛⊛...


Satu minggu berlalu. Takashi dan para gadis menjalani keseharian dengan tenang di mansion. Mereka berusaha menghabiskan waktu seperti berada di kehidupan sebelumnya.


Takashi selalu menyarankan agar semua perempuan giat dalam berlatih bela diri dan menggunakan senjata. Semuanya dilakukan untuk berjaga-jaga jika ada serangan mendadak.


Orang yang sering melatih bela diri dan menembak adalah Hana dan Takashi. Keduanya saling bergantian untuk membimbing yang lain. Mereka juga tentu tidak lupa melatih diri sendiri.


Sekarang Takashi sedang bersama Yuki. Dia memperhatikan gadis itu. Yuki sedang belajar memanah. Dia sudah berkali-kali melontarkan anak panah ke papan sasaran. Berusaha keras agar anak panahnya mengenai titik tengah.


"Kau sudah cukup mahir, Yuki." Takashi memuji.


"Bagaimana kau bisa bilang begitu? Sementara panah yang aku tembakkan belum ada satu pun tepat sasaran," tanggap Yuki seraya terus melontarkan anak panah.


"Itu memang betul. Kau sudah cukup hebat. Lihat! Semua anak panah itu hampir mengenai sasarannya. Kau hanya perlu sering berlatih," ucap Takashi. Dia mendekat dan berdiri di samping Yuki. "Cobalah untuk meningkatkan konsentrasimu," sarannya.


"Oke." Yuki mengangguk. Lalu melakukan apa yang disarankan Takashi.


Pupil mata Yuki membesar saat anak panahnya mengenai sasaran. Ia reflek menatap Takashi.

__ADS_1


"Ini berhasil!" seru Yuki.


"Kau yang berhasil!" balas Takashi. Dia dan Yuki terkekeh.


"Kau tahu? Kalau Hana yang mengajari, maka dia akan terus mengomel. Aku merasa diajari oleh seorang anggota militer," ungkap Yuki. Dia dan Takashi duduk berdampingan di sebuah bangku panjang. Menikmati minuman segar bersama-sama.


"Semua orang tahu Hana agak temperamen. Aku dan dia punya cara sendiri dalam melatih kalian," sahut Takashi.


"Aku lebih suka caramu. Aku pikir semua perempuan lainnya juga berpikir begitu," tutur Yuki. "Terima kasih," tambahnya yang tiba-tiba memberikan ciuman ke pipi Takashi. Senyuman lantas mengembang di wajah lelaki itu.


"Apa hanya itu tingkat keberanianmu?" tanya Takashi.


Takashi tersenyum tipis. "Lupakanlah," ucapnya yang langsung mengalihkan pandangan. Saat itulah Yuki mengerti maksud Takashi.


"Aku paham sekarang! Kau membicarakan ciumanku bukan?" tebak Yuki sembari memegangi lengan Takashi. Kemudian berdiri ke hadapan lelaki itu.


"Aku bilang lupakan. Aku hanya asal bicara," jelas Takashi. Dia hendak berdiri. Akan tetapi dihentikan oleh Yuki.


"Jangan pergi!" cegah Yuki.

__ADS_1


"Latihan kita sudah selesai kan?" tanggap Takashi.


"Aku tahu. Tapi aku... A-aku..." Yuki tidak tahu harus bicara apa. Lidahnya terasa kelu. Dia bukan gadis yang ahli mendekati seorang lelaki. Apalagi lelaki yang dirinya sukai.


Tanpa diduga, Takashi menarik Yuki lebih dekat. Lalu memagut bibir Yuki. Gadis itu tak menolak. Keduanya mengawali ciuman dengan lembut. Kebetulan posisi mereka di rooftop mansion.


Lama-kelamaan ciuman Takashi semakin liar. Menyebabkan Yuki ikut bermain sepertinya. Hingga gadis tersebut melangkah mundur dan terpojok ke dinding.


Takashi sigap memegangi kedua tangan Yuki. Meletakkannya ke atas kepala gadis tersebut.


Suara kecup-mengecup memecah kesunyian. Angin sore berdesau. Membuat rambut panjang Yuki dan Takashi berterbangan.


"Eumpph..." Yuki mulai melenguh dalam keadaan mulut yang dibekap dengan ciuman.


Karena sudah beberapa kali berciuman, Takashi menjadi lebih lihai sekarang. Yuki seakan kesulitan mengimbangi. Gairah gadis itu memuncak. Namun Takashi malah melepas tautan bibirnya dari mulut Yuki.


"Jujur, kau salah satu gadis yang paling aku suka di sini. Aku..."


"Diamlah! Bisakah kita lanjutkan saja?" Yuki menarik kerah baju Takashi. Kembali menyatukan bibir ke mulut gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2