
...⊛⊛⊛...
Takashi diam-diam beranjak dari kamar. Tepat saat Sakura ada di dalam kamar mandi. Dia bergegas menemui Hana dan Yuki.
"Mereka pasti ada di kamar Mayu," gumam Takashi menduga. Setibanya di kamar Mayu, dia benar-benar melihat ada Hana dan Yuki di sana.
Mayu terlihat keluar kamar mandi. Dia baru menggunakan testpack bawaan Hana dan Yuki. Ternyata benar, Mayu memang sedang hamil.
"Kita sebentar lagi akan punya anak, Takashi-Kun!" seru Mayu. Dia tersenyum senang.
"Aku percaya kau bisa mengurusnya dengan baik," ujar Takashi.
Hari demi hari terlewat. Usia kandungan Mayu sudah berada di bulan ketiga. Bersamaan dengan itu, Sakura, Yuki, dan Nana juga hamil anak Takashi. Jadi di mansion tersebut hanya Hana yang tidak dalam keadaan hamil. Gadis tersebut justru sibuk belajar. Ia berusaha keras menjadi dokter kandungan dadakan.
__ADS_1
Kini Hana sedang berada di perpustakaan yang ada di mansion. Dia menoleh ke arah pintu saat ada seseorang yang muncul di sana. Orang itu tidak lain adalah Takashi.
"Yuki memberitahuku kalau kau akhir-akhir ini sering menghabiskan waktu di sini," ucap Takashi seraya duduk ke kursi yang ada di sebelah Hana.
"Kita punya banyak wanita hamil di sini. Jadi kita juga harus mencari cara agar bisa membantu mereka. Kau pasti ingin semua anakmu lahir dengan sehat bukan?" tanggap Hana. Tanpa menatap Takashi. Dia terus mempelajari buku yang ada di tangannya.
Takashi tersenyum. Dia tiba-tiba merebut buku yang ada di tangan Hana.
"Aku tidak bisa membuatmu melakukannya sendiri. Mulai sekarang, aku juga ingin belajar," kata Takashi. Dia mulai membuka halaman awal buku yang tadi diambilnya dari Hana.
"Oke." Takashi memutar bola mata jengah. Dia segera melihat-lihat buku yang ada di perpustakaan.
Hana yang sejak tadi tak peduli, akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik Takashi. Dia melihat lelaki tersebut membaca sebuah buku. Pendar cahaya matahari yang menembus jendela, menghantam keberadaan Takashi.
__ADS_1
"Kau membaca ilmu tentang melahirkan bukan? Sepertinya di sini buku itu hampir tidak ada," ujar Takashi seraya menatap Hana. Menyadari hal itu, Hana langsung membuang muka.
Senyuman mengembang di wajah Takashi. Dia berhasil memergoki Hana menatap ke arahnya.
"Kau yakin tidak tertarik kepadaku?" tanya Takashi sambil mendekatkan wajah ke hadapan Hana.
"Cih! Tentu saja tidak. Kau harus tahu satu hal, aku juga berkuasa di sini!" balas Hana.
"Itu bagus. Bukankah biasanya yang sama-sama berkuasa adalah raja dan ratunya." Takashi mencoba menggoda Hana. Sikap Hana yang tak acuh, membuatnya tertantang.
"Tapi bukan berarti raja dan ratu harus terikat dalam hubungan!" sahut Hana sambil berkacak pinggang. Ia mengambil beberapa buku dari atas meja. "Kau bisa baca yang ini. Kita berdua bisa menjadi dokter yang baik jika ada wanita yang melahirkan," sambungnya seraya menyerahkan beberapa buku kepada Takashi. Lalu mencoba pergi.
Takashi sigap meraih tangan Hana. Menghentikan kepergian gadis tersebut.
__ADS_1
"Jangan coba-coba merayuku! Aku tidak seperti gadis yang lain. Kau tahu itu!" ucap Hana ketus. Dia menghempaskan tangan Takashi.
"Aku tidak merayumu. Menurutku jika kita ingin bekerjasama untuk membantu wanita yang melahirkan, kita sebaiknya harus lebih sering belajar bersama," usul Takashi. "Ah, dan satu hal lagi. Kita juga harus mencari peralatan medis bukan?" lanjutnya. Membuat Hana sontak memiliki pemikiran yang sama.