
...⊛⊛⊛...
Takashi dan yang lain segera membuat perlindungan. Mereka memilih tempat dimana Shima sedang tidur. Semuanya bisa diselesaikan Takashi dan para gadis dengan mudah. Kerjasama menjadikan pekerjaan dapat dilakukan lebih cepat.
"Apa Shima masih tidur?" tanya Nana.
"Ya, sepertinya begitu," jawab Takashi.
"Ternyata selama ditinggal oleh ibunya, dia hanya makan mie instan tanpa dimasak. Shima tadi sangat senang saat Mayu memasak sesuatu untuknya," ucap Nana. Dia dan Takashi tengah berada di luar bangunan. Hari sebentar lagi malam. Hal itu dapat terlihat jelas dari matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat.
"Aku dengar kau dan Hana bertemu zombie spesies baru. Itu pasti mengerikan..." ungkap Nana yang perlahan menundukkan kepala. "Aku tidak tahu apakah gadis lemah sepertiku bisa bertahan," tambahnya.
Nana merasa rendah diri. Mengingat dia adalah satu-satunya gadis yang tidak pandai bela diri dibanding Hana dan kawan-kawan. Gadis tersebut tampak terpaku memandangi tangan kirinya yang buntung.
"Jangan berkecil hati." Takashi memegang lembut tangan Nana yang buntung. Dia tersenyum. "Bagaimana kalau aku mengajarimu cara bertarung? Aku memang tidak begitu pandai, tapi--"
__ADS_1
"Tentu saja aku mau!" Nana langsung setuju tanpa harus berpikir dua kali. Rendah dirinya seketika berubah menjadi rasa antusias.
"Ayo kita lakukan sekarang. Sebelum hari semakin gelap!" ajak Takashi. Dia mengajak Nana masuk ke gedung sebelah. Keduanya mendatangi balkon yang ada di atap. Takashi dan Nana tentu tidak lupa membawa senjata untuk berlatih.
"Jujur saja, kau itu gadis yang kuat, Nana. Kau hebat bisa bertahan sampai sekarang," kata Takashi. Dia membuka tas dan mengambil sebuah pisau.
"Menurutku itu hanya keberuntungan. Aku selalu merepotkan orang-orang yang pergi bersamaku. Termasuk Yuki. Dia beberapakali terluka karena aku." Nana bercerita.
"Tapi aku yakin kau tidak hanya diam. Aku beberapa kali melihatmu berusaha melawan zombie dengan pisau. Seperti saat di toilet terakhir kali misalnya. Coba perlihatkan kepadaku bagaimana kau menggunakannya." Takashi memberikan pisaunya kepada Nana. Gadis itu lantas mengambil pisau Takashi.
"Aku menggunakannya dengan asal. Yuki memberitahuku untuk melawan zombie dengan cara menusuk kepala mereka," ucap Nana.
Nana tersenyum. Dia segera menunjukkan gerakannya saat menggunakan pisau. Terlebih ketika dirinya berhadapan dengan zombie.
"Aku sekarang hanya bisa menggunakan satu tanganku. Dan ini membuatku semakin kesulitan," ungkap Nana sembari terus memperagakan pergerakannya.
__ADS_1
"Jadikanlah kekuranganmu sebagai kekuatan, Nana. Karena aku lebih menyukai sikapmu setelah kehilangan tangan sekarang dibanding sebelumnya." Takashi menghampiri Nana. Memberitahu gadis itu memegangi pisau dengan cara yang benar.
"Apa kau mengejekku?" sahut Nana.
Takashi terkekeh. Dia terus mengajari Nana. Memberikan saran terbaiknya dalam menghadapi zombie.
"Saat berhadapan dengan zombie. Hal paling utama untuk melawan mereka adalah kecepatan. Jika kau kalah cepat, maka kau akan kesulitan menyelamatkan diri," kata Takashi.
"Bergerak cepat maksudmu di sini adalah menggunakan senjata bukan?"
"Tidak menentu. Jika keadaan sangat mendesak, maka lebih baik menghindar dengan cepat."
"Oke, aku mengerti." Nana mengangguk. "Apakah kau juga akan mengajariku menggunakan pistol?" tanyanya yang merasa sudah selesai dengan pisau. Dia mengembalikan pisau Takashi.
"Sepertinya tidak untuk sekarang. Aku takut suara tembakan akan memancing kedatangan zombie," ucap Takashi. Dia menolak pisau yang disodorkan Nana. "Lupakan. Kau bisa mengambilnya."
__ADS_1
"Benarkah?" Nana memastikan. Dia menatap Takashi dengan binar kagum. Saat dirinya hendak memeluk lelaki itu, suara seseorang terdengar.
"Hari sudah malam. Aku sarankan kalian segera kembali." Pemilik suara tersebut tidak lain adalah Hana. Usai berucap begitu, dia langsung pergi dengan gaya tak acuh.