
...⊛⊛⊛...
"Akh!"
"Akh! Takashi.. " Yuki tak berhenti mengerang saat Takashi melakukan penyatuan dari belakang. Sesekali Yuki juga mengelu-elukan nama Takashi. Kini keduanya sedang berada di gudang yang ada rooftop.
Keadaan Yuki tengah telanjang bulat. Dia dalam posisi menungging sambil berpegang erat ke meja. Wajahnya memerah padam. Mulut Yuki terus menganga karena tak bisa berhenti mendes-ah.
Berbeda dengan Takashi. Dia mengenakan kemeja dalam keadaan kancing yang terbuka lebar. Takashi terus memaju mundurkan badannya. Menghentak lepas dan terengah-engah.
Sekian menit terlewat. Yuki terlihat sudah kewalahan. Dia merasa lemas. Bersamaan dengan itu, Takashi melepaskan penyatuan. Lelaki tersebut memutar tubuh Yuki untuk menghadapnya.
Takashi melahap buah dada Yuki secara bergantian. Hal itu membuat Yuki reflek menggigit bibir bawahnya. Dia tersenyum sambil memperhatikan Takashi dengan mata yang sudah sayu.
Takashi mengangkat Yuki. Lalu mendudukkannya ke atas meja. Membuka lebar kedua kaki Yuki.
"Kita belum selesai?..." tanya Yuki. Di sela-sela pengaturan nafas.
"Kau ingin aku berhenti?..." jawab Takashi.
"Aku tidak tahu... Aku..."
__ADS_1
"Satu ronde lagi," ujar Takashi. Memaksa dengan tutur bicara lembut.
Yuki lantas mengangguk. Lagi pula dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk lebih dekat dengan Takashi. Keduanya kembali bercinta. Memperdengarkan kembali suara lenguhan.
Sementara di luar, tepatnya di depan mansion. Hana duduk sambil menggunakan teropong. Ia berjaga di bangunan tinggi yang sengaja dijadikan pos untuk berjaga.
Hana mendengus kasar. Ia menoleh ke arah air mancur. Di sana ada Mayu yang berdiri sambil memegangi perut. Wanita itu juga terlihat memuntahkan sesuatu dari mulut.
"Mayu!" Hana bergegas turun dari pos. Dia menghampiri Mayu. Lalu menanyakan keadaan wanita itu.
"Aku sepertinya hamil..." lirih Mayu. Dia tahu karena berpengalaman pernah menjadi seorang ibu.
"Benarkah?" mata Hana terbelalak.
"Kau sebaiknya istirahat terlebih dahulu. Nanti aku akan carikan alat testpack untukmu keluar. Tapi sebelum itu, aku harus memberitahu Takashi." Hana menuntun Mayu kembali ke kamar. Selanjutnya, dia segera pergi ke rooftop.
Sesampainya di rooftop, Hana melihat Takashi dan Yuki tampak keluar dari gudang. Yuki terlihat merapikan pakaian dan rambutnya. Hal yang sama juga dilakukan Takashi.
"Hana! Se-sejak kapan kau disitu?" Yuki menjadi orang yang lebih dulu menyadari kehadiran Hana.
"Tenang saja. Aku baru saja sampai ke sini," sahut Hana. Dia berjalan ke arah Takashi.
__ADS_1
Yuki lantas mendengus lega. Dia memegangi dadanya. Takut kalau Hana mendengar apa yang dirinya dan Takashi lakukan di gudang.
"Ada apa?" tanya Takashi.
"Mayu sepertinya hamil!" ungkap Hana.
"Apa?!" Takashi dan Yuki kaget bersamaan.
"Syukurlah..." Yuki merasa senang.
"Tapi itu belum pasti. Makanya Mayu ingin memastikan dengan alat testpack. Aku harus mencarinya keluar!" ujar Hana.
"Baiklah! Aku akan ikut bersamamu!" ujar Takashi.
"Tidak usah. Lagi pula tidak ada zombie di luar sana," sahut Hana.
"Tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendiri!"
"Lalu bagaimana dengan para gadis di sini? Bagaimana kalau ada sesuatu yang terjadi?" timpal Hana. Mengingat dia dan Takashi adalah anggota terkuat. Jika keduanya pergi, maka tidak ada yang menjaga para gadis di mansion.
"Kalau begitu biar aku yang menemani Hana!" Yuki segera mengajukan diri.
__ADS_1
"Ya, itu lebih baik." Tanpa pikir panjang, Hana langsung setuju.