
...⊛⊛⊛...
Bruk!
Lift terhempas ke titik paling bawah. Takashi, Hana, dan Yuki tersentak bersamaan. Mereka terduduk ke lantai. Lampu di dalam lift seketika mati.
Hana buru-buru membuka pintu lift dengan tangan. "Cepat bantu aku!" ujarnya.
Takashi dan Yuki langsung turun tangan untuk membantu. Mereka bekerja sama membuka pintu lift sekuat tenaga.
Perlahan pintu lift dapat terbuka. Bau busuk dan pemandangan ruang bawah tanah langsung menyambut.
"Ugh! Bau sekali," keluh Yuki. Dia reflek menutup hidung. Hal serupa juga dilakukan Takashi dan Hana.
"Kita tidak punya pilihan lain. Hal terpenting adalah keluar dari lift ini," ucap Takashi. Dia mengambil kain di bagian ujung jaketnya. Lalu memakaikan kain tersebut untuk menutupi hidung dan mulut Yuki. Selanjutnya, barulah Takashi membuat untuk dirinya sendiri.
Hana yang sadar dirinya tidak kebagian, hanya terdiam dan menunduk. Dia juga ingin merobek bajunya. Tetapi baju Hana begitu pendek. Jika gadis itu merobeknya, maka akan menjadi semakin pendek.
__ADS_1
Takashi melepas jaketnya. Lalu mengambil kain lagi dari jaket itu. Dia tahu Hana juga patut dipedulikan. Meski memang gadis tersebut begitu menyebalkan.
"Ini! Pakailah." Takashi menyodorkan seutas kain dari jaketnya kepada Hana.
Awalnya Hana ragu untuk mengambil. Rasa gengsinya terlalu tinggi.
"Kalau kau tidak mau, ya sudah." Karena tidak kunjung diambil, Takashi menyimpan kembali kain yang ingin dia berikan. Namun Hana buru-buru merampas kain itu. Lalu berjalan lebih dulu ke depan.
Takashi dan Yuki bertukar pandang. Keduanya memaklumi sikap Hana.
Takashi dan yang lain membuka pintu lift sampai celah dapat memungkinkan untuk dilewati. Satu per satu mereka keluar dari lift.
"Apa perlu kita berpencar?" cetus Hana.
"Itu hal bodoh," jawab Takashi. Mata Hana langsung mendelik.
"Aku hanya mengusulkan cara tercepat untuk mencari jalan keluar," sahut Hana.
__ADS_1
"Ya! Tapi aku hanya berusaha mencegah kemungkinan terburuk!" balas Takashi.
"Bisakah kalian berhenti? Ini bukan saatnya bertengkar. Kita harus pergi dari sini! Aku merasakan firasat buruk sekarang," sergah Yuki. Ia lantas menjadi orang yang lebih dulu mengambil jalan. Takashi dan Hana pun mengikutinya.
Takashi, Yuki, dan Hana melangkah cepat ke sebelah kanan. Membuka pintu yang ada di sana. Betapa terkejutnya mereka saat mendapatkan bau busuk yang semakin jelas. Pemandangan di sana juga terlihat mengerikan. Tampak banyak sekali potongan tubuh manusia yang sudah membusuk.
"Sial!" umpat Hana. Dia menutup hidung walau hidungnya sudah ditutupi dengan kain.
"Astaga, apa yang terjadi kepada mereka?" imbuh Takashi.
"Apa kita cari jalan lain saja. Lorong ini dipenuhi mayat. Kita juga tidak tahu mereka zombie atau tidak," usul Yuki yang merasa ngeri.
Takashi yang penasaran, mendekati salah satu mayat yang ada di lantai. Dia mengambil busur panah. Kemudian menyentuh mayat dengan benda itu.
"Menjijikan," komentar Hana. Dia mengikuti Takashi memeriksa keadaan salah satu mayat.
Tampilan mayat-mayat di sana memang sangat mengerikan. Keadaannya yang lembab membuat bau busuk kian menguar. Warna kebanyakan mayat di sana juga sudah menghitam.
__ADS_1
"Mereka sepertinya tidak hidup. Kita harus maju saja. Lagi pula aku tidak melihat ada jalan lain," ujar Takashi.
Hana dan Yuki mengangguk. Keduanya segera mengikuti Takashi berjalan melewati mayat-mayat yang berserakan di lorong.