
...⊛⊛⊛...
Semua orang bergegas menghampiri anak lelaki yang dibawa Nana. Wajah anak itu terlihat pucat.
"Hei, namamu siapa?" tanya Yuki sembari berjongkok. Menyamakan tingginya dengan anak tersebut.
"Namaku Shima," jawab anak itu. Dia menatap semua orang yang kini berdiri mengelilinginya.
"Apa kau sendirian?" sekarang Takashi yang bertanya. Shima lantas mengangguk.
"Shima tadi bercerita kalau tadinya dia bersama ibunya. Tapi kata Shima ibunya belum juga kembali sampai sekarang." Nana menjelaskan.
"Apa kalian bertemu dengan ibuku?" tanya Shima penuh harap.
Takashi dan yang lain saling bertukar pandang. Mereka terdiam.
"Bisakah kalian membantuku untuk mencarinya? Aku takut dia lupa jalan. Terakhir kali kulihat ibu pergi ke arah sana." Shima menunjuk ke arah yang dirinya maksud. Kebetulan jalan yang ditunjuk Shima adalah arah tujuan Takashi selanjutnya.
"Tentu saja kami akan membantu. Kami kebetulan juga akan pergi ke arah sana. Aku yakin ibumu pasti ada di suatu tempat," cetus Mayu sembari memegangi pundak Shima. Dia segera menggendong anak itu.
"Berapa umurmu, Shima? Apa kau sudah makan?" Mayu membawa Shima ke dalam bus. Wanita itu memperlakukan Shima bak anak sendiri. Mayu memberikan makanan kepada anak berusia dua belas tahun tersebut.
Sementara Shima dijaga oleh Mayu, Hana dan Takashi pergi bersama untuk mencari senjata tambahan. Terutama peluru. Mereka tentu harus berjaga-jaga terhadap serangan zombie.
"Bebanmu bertambah satu, Takashi." Hana menepuk dada Takashi dua kali. Dia jelas membicarakan Shima yang kemungkinan akan menjadi bagian anggota kelompok.
__ADS_1
"Beban? Aku sekarang sudah menganggap semua orang keluarga. Kecuali kau," tukas Takashi.
"Itu bagus. Lagi pula aku tidak pernah berniat menjadi bagian keluargamu," balas Hana. Dia dan Takashi mendatangi sebuah museum. Berusaha mencari celah untuk masuk. Sebab ada reruntuhan yang menutupi jalan masuk.
"Benarkah? Lalu kenapa kau ada bersamaku sekarang?" Takashi tak ingin kalah.
"Karena aku tahu kau tidak cukup kuat bertahan sendirian!" Hana berjalan ke hadapan Takashi. Hingga membuat lelaki itu tersudut ke tiang. "Mengaku saja. Kau butuh gadis kuat sepertiku bukan?" ujarnya seraya melipat tangan ke depan dada.
Takashi memutar bola mata jengah. Lalu mendorong Hana menjauh.
"Tidak juga. Bilang saja kalau kau tertarik padaku." Takashi segera beranjak. Dia sengaja bersikap arogan karena tidak mau kalah dari Hana. Takashi tentu sudah mengenal bagaimana sikap gadis itu.
"A-apa? Tertarik kepadamu?" Hana tercengang. Dia melangkah cepat mengikuti Takashi.
"Meski kau lelaki terakhir di bumi, aku tetap tidak--"
Hana berdecak kesal. Meskipun begitu, dia tetap mengikuti Takashi. Bekerjasama dengan lelaki itu untuk memecahkan kaca jendela. Setelahnya, mereka berhasil masuk ke dalam museum.
"Lihat! Ada banyak senjata." Mata Takashi berbinar ketika melihat susunan senjata terpajang di dalam wadah kaca. Dia dan Hana buru-buru memeriksa senjata yang ada.
"Semua senjata ini kebanyakan berasal dari abad-21," ungkap Hana yang sudah menganalisis senjata. Kebanyakan senjata yang ditemukannya dan Takashi adalah pistol dan senapan.
"Aku tidak peduli senjata ini berasal dari zaman apa. Hal terpentingnya adalah kegunaan senjata ini," sahut Takashi.
"Aku tahu! Tidak usah sok pintar," balas Hana. Ia menatap sinis Takashi yang sedang mencoba senapan teropong. Lelaki itu memindai sekitar dengan senapan tersebut. Hingga dia iseng menembakkan peluru secara acak.
__ADS_1
Dor!
"Hei! Kenapa kau buang-buang peluru?!" timpal Hana.
"Kita harus melakukan percobaan untuk membuktikan senjata ini berfungsi atau tidak," jawab Takashi.
"Tapi kau menimbulkan suara berisik!"
"Aku berani menembak karena yakin tidak ada zombie di sini. Kau tahu sejak awal kita datang, tempat ini sangat sepi."
"Tapi tetap saja!" Hana memberengut.
"Kau satu-satunya gadis yang hobi memarahiku. Pantas saja wajahmu terlihat tua," komentar Takashi.
"Apa?!" Hana mengepalkan tinju di kedua tangan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara berkoar dari sebelah ruangan.
Takashi dan Hana sontak menoleh ke sumber suara. Tak lama kemudian, dinding tiba-tiba runtuh. Sosok makhluk mengerikan keluar dari sana. Dia lebih besar dua kali lipat dari manusia dewasa. Tubuhnya berwarna pucat seperti mayat. Mulut dan jari-jemari sosok itu terlihat berlumuran darah. Di bagian kepalanya terdapat seperti ada sesuatu seperti akar pohon.
"Rrrrrrr!!!" Makhluk mengerikan tersebut menggeram dahsyat. Atensinya segera tertuju ke arah Takashi dan Hana. Pergerakannya sangat gesit dibanding zombie biasa. Dia bisa menempel ke dinding dan atap. Melompat dari satu sisi ke sisi lainnya.
"Apa itu?!" tanya Hana. Dia dan Takashi kaget bukan kepalang.
"Dia seperti zombie tapi lebih besar!" tanggap Takashi. Dia dan Hana segera mengambil senjata andalan masing-masing.
Ilustrasi zombie level 2 :
__ADS_1