
...⊛⊛⊛...
Para gadis menerima Takashi kembali. Kini semua orang berkumpul. Termasuk Hana sendiri. Gadis itu memutuskan akan menjadi bagian anggota Takashi.
Sakura memberikan Takashi minuman cola. Kebetulan dia dan yang lain menemukan satu pak minuman cola kemarin.
"Terima kasih, Sakura." Takashi dengan senang hati menerima minuman pemberian Sakura.
Baru menerima pemberian dari Sakura, selanjutnya Yuki memberikan roti dan sebungkus keripik kentang untuk Takashi. Sedangkan Mayu tampak menyodorkan tisu. Mereka berempat sedang duduk bersama di sofa.
Takashi tersenyum. Kali ini dia menerima dengan senang hati semua kebaikan para gadis. Takashi merasa lebih baik dari sebelumnya. Seharusnya dia bersikap seperti sekarang sejak dulu.
Hana memperhatikan Takashi dan para gadis dari pintu balkon. Sebenarnya dia sedang memikirkan sesuatu. Terutama terkait masa depan.
Sementara itu, Nana lebih memilih duduk di balkon. Dia tidak seperti biasanya. Gadis tersebut sepertinya benar-benar berniat menjauhi Takashi.
Dari dalam, Takashi dapat menyaksikan Nana yang duduk sendiri di balkon. Dia tentu ingat dengan kejadian terakhir kali yang dilakukannya dan Nana. Takashi merasa bersalah. Sebab saat mendapat ciuman Nana, dia tidak bisa membantah kalau dirinya sempat terbuai.
"Aku pikir kita harus merancang tujuan kita selanjutnya," cetus Hana. Berhasil membuat lamunan Takashi terhadap Nana pudar dalam sekejap.
__ADS_1
Kini seluruh pasang mata tertuju kepada Hana. Mereka tentu sependapat dengan gadis itu.
"Perlukah kita terus mencoba mencari jejak lelaki lain?" ujar Yuki seraya menatap Takashi. Dia tahu kalau Takashi selalu bertekad ingin menemukan lelaki lain.
"Aku rasa tidak. Kita hanya akan mempertaruhkan nyawa kita untuk itu. Nana bahkan sudah kehilangan tangan kirinya," tanggap Takashi. Ia menatap Nana kembali.
"Aku setuju dengan Takashi. Tunggu sebentar. Aku pikir kita semua harus membahas ini bersama-sama." Hana beranjak ke balkon. Dia mengajak Nana untuk ikut berdiskusi dengan yang lain. Gadis itu lantas menurut.
Sekarang semuanya sudah berkumpul di ruangan yang sama. Membahas perihal tujuan mereka selanjutnya.
"Apa ada yang punya ide terkait tujuan kita selanjutnya?" ujar Takashi. Dia menatap semua orang secara bergantian. Lalu meminum colanya.
"Maksudmu kau membicarakan tentang hubungan..." Mayu mencoba menebak. Arah pikirannya berkaitan erat dengan masalah reproduksi. Memang salah satu cara untuk menghentikan kepunahan adalah melahirkan seorang anak.
Mata Takashi terbelalak. Sebagai satu-satunya lelaki dia tentu kaget mendengar ide Hana. Wajahnya langsung memerah.
"Itu gila! Ma-maksudmu aku harus melakukannya kepada kalian?" Takashi merasa tak percaya.
"Tentu tidak! Terutama aku! Aku bahkan tidak sudi kau menyentuhku. Usulanku hanya berlaku untuk yang bersedia. Apalagi kau sebagai satu-satunya lelaki di sini," balas Hana.
__ADS_1
"Aku setuju dengan Hana. Aku bahkan bersedia untuk menjadi perempuan yang mengandung anak Takashi," imbuh Mayu. Dia menatap Takashi. Lalu merangkul pundak lelaki tersebut. Dia wanita pertama yang mengajukan diri. Mengingat dirinya sudah berpengalaman memiliki keluarga.
"A-apa?" wajah Takashi semakin memerah. Sekarang dia teringat dengan mimpinya tempo hari. Apakah itu akan menjadi nyata?
"Kalau nanti kita bisa melahirkan banyak anak, aku rasa kita bisa membangun kerajaan sendiri," kata Mayu.
"Itulah yang kupikirkan," sahut Hana.
"Kalau begitu Takashi akan menjadi rajanya?" tebak Sakura.
"Ya. Dia akan menjadi rajanya," jawab Hana.
"Tapi aku tidak--"
"Tidak usah terburu-buru, Takashi. Kita bisa melakukan semuanya pelan-pelan," potong Mayu sembari meletakkan jari telunjuk ke bibir Takashi. Lelaki itu hanya bisa mematung dalam keadaan wajah yang memerah bak kepiting rebus.
"Karena Takashi masih bingung, sebaiknya kita memberikan dia waktu," usul Sakura.
"Ya, sambil menunggu keputusannya, aku pikir kita harus mencari tempat besar yang bisa dijadikan markas untuk menetap!" seru Hana bertekad.
__ADS_1