Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi

Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi
Bab 44 - Keanehan Daisuke


__ADS_3

...⊛⊛⊛...


"Daisuke?" Mayu mengenali lelaki paruh baya yang menyambut. Tetapi perhatian lelaki tersebut justru tertuju ke arah Takashi.


"Kau lelaki kan?" lelaki paruh baya itu langsung bertanya kepada Takashi.


"Bukankah sudah jelas?" Takashi menjawab dengan kening yang mengernyit.


"Daisuke? Kau mengingatku kan?" Mayu berjalan ke hadapan Daisuke.


"Mayu!" Daisuke memeluk Mayu dengan erat. Wanita itu sampai kaget dibuatnya.


"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi. Apa mereka semua teman-temanmu?" ungkap Daisuke bersemangat.


"Ya, mereka--"


"Ayo ikut aku! Aku juga punya banyak teman di sini," ujar Daisuke. Memotong ucapan Mayu. Dia berjalan sambil merangkul Takashi.


Daisuke menuntun semua orang untuk memasuki lift. Ketika pintu lift terbuka, Takashi dibuat kaget dengan banyaknya orang yang ada di dalam. Parahnya, semua orang di sana adalah perempuan. Seluruh pasang mata sontak tertuju ke arah Takashi. Terlebih wajah lelaki tersebut lebih tampan dibanding Daisuke.


"Astaga, dia tampan sekali!"

__ADS_1


"Tuan Daisuke! Apa dia akan tinggal di sini?"


"Hey tampan! Namamu siapa?"


Beberapa wanita saling berdahuluan untuk menyapa Takashi. Lelaki itu bingung harus bagaimana. Takashi terus berjalan lurus sampai berada di sisi Daisuke.


"Kita harus bicara empat mata, Takashi." Daisuke berujar sambil menarik sudut bibirnya. Dia berhenti melangkah dan berbalik badan.


"Kalian tunggulah di sini. Nikmati makanan dan fasilitas yang ada. Aku dan Takashi harus mendiskusikan sesuatu," ucap Daisuke.


"Hanya kalian berdua?" tanggap Hana sinis. Dia merasa mendapat perlakuan diskriminasi.


"Ya, kami sebagai lelaki terakhir di bumi harus membahas hal penting terkait masa depan dunia kita sekarang," sahut Daisuke. Dia dan Takashi segera memasuki sebuah ruangan. Mereka menghilang ditelan pintu.


"Ya, dia salah satu ilmuwan yang bekerja di sini. Sepertinya dia satu-satunya orang yang selamat saat virus zombie menyerang," kata Mayu.


Di waktu yang sama, Takashi dan Daisuke sedang duduk saling berhadapan.


"Kau mau mendiskusikan--"


"Apa kau lihat semua wanita yang ada di luar?" Daisuke memotong pembicaraan Takashi begitu saja.

__ADS_1


"Ya?" Takashi mengerutkan dahi.


"Mereka semua pernah aku tiduri," ujar Daisuke bangga.


"Bisakah kau langsung bicara ke intinya?" Takashi tak mengerti. Dia merasa Daisuke terkesan bicara melantur. Gerakan matanya juga terlihat tidak fokus.


"Maksudku, keadaan dunia sekarang harus bisa dimanfaatkan dengan baik. Mereka semua sangat menghargaiku! Aku merasa kehidupanku lebih baik dibanding saat virus zombie belum menyerang. Kita bisa menjadi raja, Takashi. Aku ingin kita bekerja sama untuk membangun peradaban. Sepertinya kau lelaki tangguh yang ahli memegang senjata. Aku ingin kau jadi tentara pelindung di tempat ini. Kalau kau mau, kau juga bisa meniduri wanita yang ada di sini," ujar Daisuke panjang lebar.


Takashi terperangah mendengarnya. Daisuke nampaknya hanya ingin memanfaatkan Takashi sebagai pelindungnya.


"Kenapa aku? Karena aku yakin ada salah satu wanitamu yang tangguh. Dia bisa jadi pelindungmu," jawab Takashi.


"Sayangnya tidak ada. Pelindung kami di sini hanyalah robot pengendali yang ada di perusahaan ini. Sekarang robot itu tinggal dua buah. Karena sudah banyak robot kami gunakan untuk mengelabui zombie."


"Maaf, Tuan Daisuke. Kedatanganku dan yang lain hanya ingin memeriksa laboratorium Kaguya. Kami--"


"Apa kau bilang? Memeriksa laboratorium?" Raut wajah Daisuke seketika berubah jadi serius.


"Ya, kami ingin memastikan apakah ada penawar atau tidak," jelas Takashi.


"Tidak ada. Penawar itu tidak pernah ada!" tegas Daisuke. Dia mendekatkan wajah ke hadapan Takashi. "Dan jangan pernah coba-coba masuk ke laboratoriumku!"

__ADS_1


"Itu bukan laboratoriummu kan?"


"Dulu memang bukan. Tapi sekarang iya!" balas Daisuke. Tatapannya begitu mengancam. Membuat Takashi semakin yakin kalau ada yang aneh dengan Daisuke.


__ADS_2