
...⊛⊛⊛...
Takashi langsung meringiskan wajah ketika bau tidak enak menghantam indera penciuman. Sekarang dia berusaha mencari jalan keluar.
Perlu waktu berjam-jam untuk mencari celah. Sampai akhirnya Takashi bisa keluar dari bawah tanah. Dia keluar lewat pintu selokan bundar yang ada di jalanan.
Merasa lelah, Takashi beristirahat ke tempat aman. Dia membuka tas ransel. Takashi melihat ada cukup banyak makanan di dalam tas. Hal itu membuatnya teringat dengan para gadis.
Takashi kini sadar. Bahwasanya dia sudah terbiasa dengan keberadaan Yuki dan kawan-kawan. Rasa khawatir dan bersalah juga mendadak menghantui.
"Aku sepertinya terlalu berlebihan. Aku tidak seharusnya berkata begitu kepada mereka," gumam Takashi. Dia merenung cukup lama. Sampai keinginan untuk kembali terlintas dalam benak.
Alhasil Takashi berbalik arah. Dia kembali mendatangi para gadis ke pondok.
Setibanya di pondok, Takashi menemukan kalau Yuki dan kawan-kawan telah pergi. Rasa cemasnya bertambah ketika melihat banyak tetesan darah di lantai.
__ADS_1
Takashi lantas mengikuti jejak darah. Dengan hati-hati dia mengamati darah yang berceceran di tanah. Jejak darah tersebut mengarah ke arah kota. Tepatnya ke bangunan terdekat.
Takashi berlari memasuki bangunan rumah besar. Namun bukannya menemui Yuki dan kawan-kawan, dia justru bertemu dengan Hana. Gadis itu tampak terluka parah.
Dengan langkah cepat, Takashi mendekati Hana. Dia memperhatikan luka yang didapat oleh gadis tersebut. Lengan Hana terus mengeluarkan banyak darah. Wajahnya juga begitu pucat. Pertanda kalau sudah cukup banyak darah yang terbuang.
"Kau tidak tergigit kan?" tanya Takashi.
Hana menggeleng. "Aku tertembak... Masih ada peluru di dalam tubuhku... Bisakah kau mengeluarkannya..." lirih Hana. Dia berupaya keras menahan sakit. Keringat tampak bercucuran di sekujur tubuhnya.
"Bagaimana aku bisa melakukannya?" tanggap Takashi.
Takashi bergegas mengambil pisau lipatnya. Lalu merobek lengan baju Hana. Awalnya dia ragu untuk membelah luka gadis itu. Takashi merasa tidak tega. Terlebih Hana mulai melemah.
"Cepat lakukan! Apa kau ingin melihatku mati?!" desak Hana.
__ADS_1
"Baiklah! Aku akan melakukannya." Karena dipaksa, Takashi tidak punya pilihan lain. Dia segera membelah luka tembak Hana.
"Mmmphhh!!!" Hana memekik dalam keadaan mulut tertutup dia. Menggigit tangannya sendiri agar tidak menimbulkan suara berisik.
Takashi berusaha mengeluarkan peluru secepat mungkin. Hingga akhirnya dia berhasil melakukannya. Sekarang sudah tidak ada peluru yang bersarang di tubuh Hana.
"Periksa tasku! Di sana ada peralatan peralatan medis untuk menjahit luka," perintah Hana yang langsung dilakukan Takashi.
Setelah menemukan peralatan medis, Takashi menutupi luka Nana dengan jahitan dan obat. Di akhir dia menutupi luka Hana dengan perban. Selanjutnya Takashi menggendong Hana dengan gaya bridal. Dia membawa gadis itu ke kamar. Dengan tujuan agar Hana bisa beristirahat.
Takashi mendengus kasar. Dia mencari pakaian di rumah besar dirinya berada. Lalu masuk ke kamar mandi. Di sana Takashi membersihkan diri.
Selepas mandi, Takashi mengenakan pakaian. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Takashi memikirkan kehidupan dunia dahulu. Tepatnya sebelum virus zombie datang melanda dunia.
"Aku merindukan kehidupan normal. Aku bahkan merindukan kehidupan menyedihkanku dulu. Sekarang aku merasa lebih menyedihkan dibanding dulu." Takashi merasa emosional. Perasaan bersalahnya terhadap para gadis juga menjadi alasan kekalutannya sekarang.
__ADS_1
Ceklek!
Hana muncul dari balik pintu.