Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi

Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi
Bab 13 - Takashi & Tiga Gadis


__ADS_3

...⊛⊛⊛...


Melihat Takashi, Sakura buru-buru berdiri. Dia tiba-tiba memeluk Takashi. Tindakannya tentu membuat lelaki itu kaget.


Nana terlihat membuang muka. Dia seolah tidak tahan terhadap pemandangan yang dilihatnya. Sedangkan Yuki tampak tenang dan tersenyum tipis.


"Sa-sakura... Apa yang kau lakukan?" tanya Takashi tergagap. Tubuhnya membeku dalam pelukan Sakura. Matanya bergerak dengan kaku karena tidak tahu harus berbuat apa.


"Aku sangat senang bertemu denganmu! Aku pikir aku tidak bisa bertemu dengan seseorang yang kukenal," jawab Sakura antusias. Dia mengeratkan dekapannya. Menyebabkan mata Takashi semakin terbelalak. Lelaki itu jadi kesulitan bernafas.


"I-iya. Tapi bisakah... Kau longgarkan pelukanmu?... Aku tak bisa bernafas..." lirih Takashi.


"Maaf!" Sakura sontak melepas pelukannya dari Takashi. Dia menyapu pakaian yang dikenakan Takashi dengan tangan. "Aku terlalu senang sampai lupa diri," jelasnya.


"Takashi! Apa gadis ini pacarmu?" tanya Nana. Raut wajahnya tampak gelisah.

__ADS_1


Takashi menggeleng. "Bukan! Rumah kami dahulu berdekatan," sahutnya memberitahu.


"Iya, kami dahulu bertetangga. Aku dan ibuku seringkali mengantarkan Takashi makanan," ujar Sakura seraya memegangi tali tas ransel yang melingkar di bahunya.


"Apa kau sendirian sekarang?" tanya Takashi.


Ekspresi Sakura seketika berubah menjadi sendu. Ia perlahan menundukkan kepala. "Awalnya tidak. Tapi ibuku harus..." ucapnya yang tidak sanggup menyelesaikan.


"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu mengatakannya. Karena apa yang kau rasakan juga dirasakan oleh kami." Yuki memegangi pundak Sakura. Mencoba menenangkan perasaan gadis itu.


"Iya! Aku tidak akan menyerah. Aku juga berharap bisa bertemu lelaki yang lebih dewasa dariku. Orang sepertiku jelas tidak bisa menjadi pemimpin untuk kalian," ungkap Takashi. Setelah memastikan semua orang dalam keadaan sehat, dia dan para gadis mulai menjelajah. Berupaya keras menemukan jejak lelaki lain.


Tanpa terasa, siang berganti malam. Tiga gadis yang ikut bersama Takashi mulai kelelahan. Tetapi tidak untuk Takashi. Dengan tenangnya dia berjalan memimpin di depan. Lelaki tersebut bahkan tidak sadar kalau tiga gadis di belakang, berusaha semaksimal mungkin untuk mengikuti.


"Takashi, bisakah kita istirahat? Aku dan yang lain sudah lelah," seru Nana dari belakang. Dibanding semua orang, dia merupakan gadis yang mulai merasa tidak kuat lagi untuk berjalan.

__ADS_1


"Sebentar lagi. Setidaknya kita bisa menemukan sesuatu walau hanya sedikit," ucap Takashi tanpa menoleh ke belakang.


Nana mendengus kasar. Yuki lantas merangkul pundaknya. Dia menawarkan minuman kepada teman seperjuangannya itu.


"Terima kasih," kata Nana sembari menerima minuman pemberian Yuki. Selanjutnya, dia kembali melangkah maju bersama yang lain.


Langit malam tidak memperlihatkan bintang. Pertanda bahwa cuaca sedang mendung. Benar saja, selang sekian menit hujan pun turun.


"Apa kita akan berteduh?" tanya Yuki sambil menatap punggung Takashi yang masih enggan menoleh.


"Tidak! Kita harus..." Takashi akhirnya menengok ke belakang. Kini dia tahu kalau tiga gadis yang mengikutinya tampak kewalahan. Takashi jadi merasa bersalah. Tanpa berpikir lama, dirinya segera mengajak semua orang beristirahat.


Takashi dan para gadis berteduh di sebuah rumah sederhana. Kebetulan di tempat itu tidak ada zombie atau pun manusia. Takashi juga menemukan pakaian yang cocok. Sehingga dia memutuskan untuk berganti pakaian dan membuang seluruh bajunya yang kotor.


Rumah yang didatangi Takashi kebetulan memiliki tiga kamar. Takashi memilih salah satu kamar untuk ditiduri. Lelaki itu menghempaskan tubuh ke ranjang. Lalu memejamkan mata.

__ADS_1


Saat hampir tertidur, Takashi merasakan kehangatan dari arah kanan dan kirinya. Dia lantas membuka mata. Pupil mata Takashi membesar tatkala menyaksikan Yuki dan Nana tidur mengapitnya.


__ADS_2