
...⊛⊛⊛...
Hana berjalan ke depan wastafel. Takashi yang mengerti, segera memberi ruang untuk gadis itu.
"Bukankah aku yang harusnya merasa frustasi?" sindir Hana. Dia dapat melihat ada kegelisahan dari Takashi.
"Aku hanya merindukan kehidupan dulu..." jawab Takashi lirih.
"Aku pikir semua orang sekarang merindukannya. Tetapi dengan keadaan dunia yang sudah begini, kemungkinannya sangat kecil untuk bisa mendapatkan kehidupan seperti dulu. Kaum lelaki saja sudah tidak terlihat lagi." Hana menatap Takashi dengan ujung matanya. "Mungkin bisa saja kau satu-satunya lelaki terakhir yang tersisa," tambahnya.
Takashi membisu. Dia melangkah keluar dari kamar mandi. Membiarkan Hana untuk membersihkan diri.
Kini Takashi berjalan ke balkon. Dia mengamati keadaan sekitar. Rasa bersalah kepada Yuki dan kawan-kawan masih dirasakannya.
"Kau mau teh? Masuklah ke dalam. Aku juga memasak ramen," ujar Hana.
Takashi mendengus kasar. Karena merasa lapar, dia mengikuti Hana. Lalu menyantap teh serta ramen buatan gadis tersebut.
"Ngomong-ngomong, mana Yuki dan Nana? Bukankah terakhir kali kau pergi bersama mereka?" celetuk Hana. Memulai pembicaraan.
"Aku meninggalkan mereka," sahut Takashi.
"Apa?!" Hana tercengang. "Kau jahat sekali," komentarnya.
"Ya, itulah yang aku rasakan sekarang. Aku kembali ke pondok untuk mencari mereka. Tetapi mereka sudah tidak ada di sana. Aku hanya bisa melihat ceceran darahmu."
"Aku memang sempat beristirahat di pondok. Aku berusaha lari dari kejaran geng wanita haus darah."
__ADS_1
"Geng wanita?" dahi Takashi berkerut.
"Iya. Aku mendatangi mereka karena ingin bergabung. Tetapi nyatanya mereka malah menggunakan anggota baru sebagai budak. Tempat mereka cukup luas. Kekuatan geng itu juga sangat luar biasa. Dan--"
"Apa di sana ada laki-laki?" Takashi memotong perkataan Hana.
"Tidak. Satu pun tidak ada." Hana menggeleng. "Jujur saja, sampai sekarang kaulah lelaki yang kutemui," terangnya.
Takashi menghela nafas berat. Dia menekan jidatnya berulang kali. "Harusnya aku tidak terus-terusan bersembunyi di mini market. Sekarang sepertinya aku harus menanggung akibatnya," ungkap Takashi.
"Hei! Kenapa kau berpikir kalau kebertahananmu sekarang adalah beban? Kau harusnya merasa bersyukur. Melihat semuanya dari sisi negatif hanya akan membuat perasaanmu semakin hancur. Coba lihatlah sisi positifnya. Apapun itu," ucap Hana.
"Aku bahkan tidak tahu dengan tujuanku sekarang..." lirih Takashi.
Hana memutar bola mata jengah. Dia menghabiskan teh serta ramennya terlebih dahulu. Lalu berjalan ke hadapan Takashi.
"Kau sudah punya tujuan, Takashi. Yaitu mencari Yuki dan Nana. Aku akan menemanimu untuk mencari mereka!" ujar Hana bertekad.
"Anggap saja ini adalah ucapan terima kasihku. Kita bisa mulai melakukan pencarian besok." Hana tersenyum miring. Dia segera pergi dari hadapan Takashi.
Keesokan harinya, Takashi dan Hana berangkat saat pagi. Mereka membawa senjata andalan masing-masing. Takashi dengan busur panahnya. Sementara Hana membawa pedang katana.
Tempat demi tempat dikunjungi Takashi dan Hana. Keduanya juga harus beberapa kali berhadapan dengan zombie. Akan tetapi mereka tidak kunjung menemukan keberadaan Yuki dan kawan-kawan.
Bahkan selama tiga hari berjalan, Takasi dan Hana masih juga tidak menemukan jejak.
"Aku haus. Andai saja ada minuman segar seperti cola," cetus Takashi sembari memegangi tenggorokan. Dia berjalan dengan langkah gontai.
__ADS_1
Tidak seperti biasanya, Takashi berjalan di belakang. Sedangkan Hana berjalan di depannya. Entah kenapa gadis itu tidak tampak kelelahan sama sekali.
"Berhentilah mengeluh. Kita baru melakukan pencarian selama tiga hari," sahut Hana. Dia berhenti melangkah saat melihat awan hitam yang mengepul di atas langit.
..._____...
...Bonus Visual...
..._____...
..._____...
..._____...
..._____...
..._____...
__ADS_1
..._____...