
...⊛⊛⊛...
"Dia memang lelaki!" Nana menjauhkan tangan wanita yang memegang wajah Takashi. Wanita itu mengambil satu langkah mundur.
"Kenalkan namaku Mayu. Aku menyelamatkan kalian semua dari zombie-zombie bau ini. Kalian bisa membalasnya dengan menjadikanku sebagai bagian kelompok," ucap Mayu. Dia berniat ikut menjadi bagian anggota kelompok. Semua itu karena keberadaan Takashi.
Nana, Yuki, dan Sakura langsung menatap Takashi. Sebagai pemimpin, mereka tentu menunggu keputusan lelaki tersebut.
"Lakukan apa yang kau mau. Dan terima kasih atas bantuanmu tadi," ujar Takashi. Dia tidak punya pilihan lain selain membiarkan Mayu ikut. Mengingat wanita itu memiliki senjata mumpuni dan sudah menyelamatkan nyawanya.
"Namamu siapa?" tanya Mayu.
"Takashi," jawab Takashi.
"Aku Nana, dan dia Yuki. Lalu di belakang Yuki itu adalah Sakura." Nana melakukan sesi perkenalan. Dia menerima kehadiran Mayu karena persetujuan Takashi.
Mayu cukup menyenangkan untuk dijadikan teman. Dia ternyata wanita yang sudah menikah dan punya anak. Mayu sendiri berusia 27 tahun. Ia menjadi orang paling tertua dalam kelompok Takashi.
Perjalanan lantas kembali dilanjutkan. Yuki, Nana, dan Sakura memberitahukan tujuan perjalanan kepada Mayu.
__ADS_1
"Apa?! kalian akan ke markas militer?" Mayu tampak terkejut.
Takashi sontak menoleh dan berhenti melangkah. Begitu pun yang lain. Mereka menanti penjelasan lebih lanjut.
"Aku sudah ke sana! Tempat itu dipenuhi banyak sekali zombie. Aku yakin tidak ada manusia yang bertahan hidup di sana," jelas Mayu.
"Tapi kau tidak masuk ke sana kan? Kau tidak bisa menyimpulkan begitu saja," balas Takashi tak percaya.
"Aku sangat yakin. Kau juga akan merasa yakin kalau melihat jumlah zombie yang ada di sana," sahut Mayu.
"Kita bisa pakai senjatamu. Bukankah itu bisa mengalahkan zombie dengan mudah?" imbuh Yuki mengusulkan.
Perasaan Takashi seketika kalut. Pupus sudah harapannya untuk menemui lelaki lain selain dirinya. Takashi benar-benar semakin terbebani. Mendengar markas militer dipenuhi banyak zombie, rasa lelahnya seolah bertambah. Belum lagi dengan keberadaan Mayu yang sudah menjadi bagian kelompok. Takashi bahkan tidak yakin apakah dia termasuk bagian dari kelompok. Keinginan untuk melarikan diri seringkali terlintas dalam benaknya.
"Hari sudah malam. Sebaiknya kita cari tempat istirahat," seru Sakura.
Takashi mengangguk. Dia dan yang lain segera mencari tempat istirahat. Sampai akhirnya mereka menemukan sebuah pondok.
Setelah menyalakan perapian dan makan, semua orang tertidur. Kecuali Takashi. Lelaki itu berpura-pura tidur.
__ADS_1
Ketika yakin semua orang sudah tidur, Takashi beranjak ke pintu belakang. Di sana dia duduk sambil memandangi langit berbintang.
'Sekarang apa yang harus kulakukan? Aku sudah berada di titik lelah...' batin Takashi dengan dahi yang berkerut samar.
Semakin Takashi memikirkan perihal nasibnya, maka tambah kuat juga keinginan untuk melarikan diri. Hingga akhirnya dia memutuskan bersiap dan akan diam-diam pergi meninggalkan para gadis.
Takashi sudah mengenakan topi dan menyandang tas ransel. Namun dia terpaksa berhenti saat mendengar Nana memanggil.
"Kau mau kemana?" tanya Nana seraya mendekat.
"A-aku..." Takashi bingung harus menjawab apa. Dia jelas tertangkap basah.
"Apa kau berniat pergi tanpa sepengetahuan kami?" tebak Nana.
"Maafkan aku. Tapi aku tidak sanggup dan benar-benar berada di titik lelah," terang Takashi.
"Kau sangat aneh, Takashi. Biasanya para lelaki akan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Tetapi kau justru terus menghindar. Aku selalu berharap kau bisa menikmatinya." Nana semakin mendekat. Dia menatap lekat Takashi. Secara alami lelaki itu membalas tatapannya.
Hening menyelimuti dalam sepersekian detik. Sampai Nana menarik kerah baju Takashi dengan satu tangan. Kemudian mencium bibir Takashi.
__ADS_1