Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi

Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi
Bab 14 - Diperebutkan


__ADS_3

...⊛⊛⊛...


"Sepertinya aku terlambat," ujar Sakura yang mendadak muncul dari balik pintu. Dia segera menarik Nana. Hingga posisi gadis itu jauh dari Takashi. Sakura lantas menggantikan posisi Nana dan tidur di sebelah Takashi.


"Hei! Aku lebih dulu mengambil tempat itu!" protes Nana yang baru sadar kalau posisinya direbut.


"Aku sangat merindukan Takashi," sahut Sakura. Dia segera menoleh ke arah Takashi. "Kau ingat kalau aku selalu memberimu makanan ke rumah bukan? Aku punya alasan dibalik perlakuanku itu," pungkasnya.


Takashi merubah posisi duduk. Ia beringsut mundur untuk menghindari Sakura dan Nana yang sedang terlibat cekcok.


"Abaikan saja mereka. Kau pasti lelah," ucap Yuki yang sedari tadi berada di sebelah kiri Takashi. Lelaki itu dibuat kaget dengan betapa dekatnya Yuki. Bibirnya dan bibir Yuki nyaris bersentuhan.


"Aku rasa lebih baik aku pindah saja." Takashi beranjak dari ranjang.

__ADS_1


"Lihat! Takashi pergi! Ini semua gara-gara kalian," kata Yuki seraya mengejar Takashi. Hal serupa lantas juga dilakukan oleh Nana dan Sakura.


"Takashi, kami minta maaf. Aku dan Sakura berjanji tidak akan bertengkar lagi. Ayo kita kembali ke kamar dan tidur," ucap Nana. Mencoba membujuk Takashi.


"Iya, cuaca sedang sangat dingin. Tidur bersama memang adalah jalan terbaik sekarang. Di luar hujan turun sangat deras," ujar Sakura seraya memeluk tubuhnya sendiri. "Maksudku tidur bersama di sini jelas hanya sekedar tidur. Aku tidak ingin ada yang salah paham," sambungnya membenarkan.


Takashi mendengus kasar. Dia membalikkan badan menghadap tiga gadis yang terus mengikuti bak anak ayam dan induknya.


"Bisakah kalian tidak terlalu mengusikku? Aku sudah membiarkan kalian mengikuti kemanapun aku pergi. Tapi kalau kalian mengikuti sampai ke tempat tidur, bukankah itu keterlaluan?" ungkap Takashi. Dia sebenarnya mencoba menahan amarah. Dirinya benar-benar frustasi harus menjadi satu-satunya lelaki. Takashi tidak bisa membayangkan kalau dia benar-benar adalah lelaki terakhir di bumi.


Yuki dan Nana kembali masuk ke kamar. Hal yang sama juga dilakukan Sakura. Ketiganya tidur di satu ranjang bersama. Hanya Takashi yang memutuskan tidur sendiri di sofa.


Dengan ekspresi cemberut, Takashi tidur meringkuk sambil menutupi badan dengan selimut tebal. Jujur saja, dia tidak bisa membantah kalau cuaca sekarang benar-benar dingin.

__ADS_1


Sebelum tidur, Takashi menatap ke arah jendela. Dia melihat tetesan air hujan yang deras. Takashi mendadak mengharapkan kehidupan normal.


"Aku harap pandemi ini tidak pernah terjadi..." gumam Takashi. Dia yang dahulu selalu mengeluh, kini berharap kehidupannya yang lama kembali.


Perlahan rasa kantuk menyerang. Takashi tertidur. Ketika membuka mata, dia menyaksikan dirinya berada di tengah padang rerumputan.


"Kau sudah bangun rupanya," tegur suara gadis tidak asing. Dia ternyata adalah Hana. Gadis tangguh dan arogan yang pernah ditemui Takashi.


Hana terlihat mengenakan pakaian serba putih. Di punggungnya juga terlihat ada pedang katana yang telah menjadi senjata andalan. Hal yang paling aneh dari tampilan Hana, perutnya nampak membuncit.


"Kau! Kenapa kau di sini? Dan apa yang terjadi pada perutmu?" tanya Takashi yang bingung setengah mati.


"Ini?" Hana menunjuk ke arah perutnya yang membuncit. "Kaulah yang membuat perutku bunting begini. Tidak usah berlagak tidak tahu," jelasnya dengan dahi berkerut.

__ADS_1


"A-aku? Penyebab perutmu membesar?" Takashi membulatkan mata.


__ADS_2