Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi

Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi
Bab 16 - Menuju Markas Militer


__ADS_3

...⊛⊛⊛...


Takashi hendak mendekati teko. Tetapi Yuki menghentikan pergerakannya.


"Biar aku saja. Aku juga ingin membuat teh untuk diriku sendiri," kata Yuki.


Takashi tersenyum. Dia segera duduk ke kursi yang ada di meja makan.


Tak lama kemudian, Yuki datang membawakan teh. Ia membuat dua gelas teh. Satu untuk Takashi, sedangkan yang satunya untuk dirinya sendiri.


"Arigato Gozaimashita," ucap Takashi yang direspon Yuki dengan senyuman simpul. Sampai mata gadis itu terlihat menyipit. Dia lantas ikut menyesap teh bersama Takashi.


Suasana hening menyelimuti. Takashi dan Yuki memilih sibuk menghabiskan teh untuk menghangatkan badan.


Hujan di luar mulai mereda. Akan tetapi hawa dingin masih saja terasa. Bahkan terasa lebih dingin dari sebelumnya.


"Bukankah cuacanya terasa bertambah dingin," celetuk Takashi seraya melipat dua tangan ke depan dada.


"Aku juga merasa begitu," sahut Yuki.


"Bagaimana kalau kita nyalakan saja perapiannya." Takashi berdiri. Ia dan Yuki segera menyalakan perapian yang ada di rumah.

__ADS_1


Takashi menyalakan api dengan alat pemantik yang selalu dibawanya. Ia dan Yuki dapat dengan mudah menyalakan perapian. Setelah itu, mereka duduk berdampingan menghadap perapian. Menggosok telapak tangan berulang kali agar bisa merasa lebih hangat.


Ketika menghembuskan nafas dari mulut, Takashi dan Yuki mengeluarkan kepulan karbon dioksida. Menandakan kalau cuaca memang sangatlah dingin.


"Sudah kubilang. Harusnya kau menggunakan ini untuk dirimu sendiri." Takashi melepas syal dari leher. Kemudian memasangkannya ke leher Yuki


"Takashi, aku bilang ini--"


"Kau pakai saja. Lagi pula aku sedang memakai jaket." Takashi memaksa. Dia tersenyum sambil mengeratkan jaket yang dikenakannya.


"Terima kasih." Yuki balas tersenyum. Dia yang terbawa suasana, melayangkan ciuman ke pipi Takashi. Hal itu sontak membuat wajah Takashi memerah malu. Lelaki tersebut reflek memegangi pipinya.


"Ngomong-ngomong, kau sudah dua kali mencium pipiku..." ungkap Takashi. Tak berani menatap ke arah Yuki.


"Anggaplah itu sebagai rasa terima kasihku. Karena sekarang, uang sepertinya sudah tak berharga lagi," kata Yuki.


"Kumohon berhentilah melakukan itu secara tiba-tiba. Kau membuatku jantungan," ujar Takashi.


"Baiklah." Yuki mengangguk sambil tergelak kecil.


Malam semakin larut. Takashi dan Yuki mulai diserang kantuk. Perlahan keduanya tertidur. Yuki tampak menyandarkan kepala ke pundak Takashi. Sedangkan Takashi sendiri menyandar ke kepala Yuki yang bertengger di pundak.

__ADS_1


Mentari nampak muncul dari ufuk timur. Sakura dan Nana terbangun bersamaan. Keduanya segera keluar dari kamar. Mereka tentu melihat kebersamaan Takashi dan Yuki yang terlihat asyik tidur saling menyender.


"Yuki diam-diam menghanyutkan. Dia memanfaatkan kesempatan saat kita tidur," cetus Nana. Dia merasa iri melihat Yuki bisa dekat dengan Takashi.


"Ayo bangunkan mereka," ajak Sakura. Dia sepertinya juga merasa terganggu terhadap kedekatan Takashi dan Yuki.


"Ekhem!" Sakura sengaja berdehem dengan nyaring. Dia melakukannya beberapa kali. Hingga Takashi dan Yuki terbangun dari tidur. Mereka mengerjapkan mata dan sadar kalau hari telah siang.


"Yuki, kau pasti tidur sangat nyenyak tadi malam," tukas Sakura sinis.


"Aku dan Takashi tidak bisa tidur. Kami menyalakan perapian sampai tidak sengaja tertidur," jelas Yuki.


"Sudahlah. Ayo kita bersiap! Kita harus melakukan pencarian lagi," sergah Takashi. Dia tidak ingin melihat ada pertengkaran lagi di antara para gadis. Terlebih mereka selalu bertengkar karena masalah sepele.


Takashi dan para gadis meninggalkan rumah peristirahatan. Kini mereka menyusuri jalanan dengan hati-hati.


Langkah Takashi terhenti karena mendadak terpikirkan sesuatu. "Aku pikir kita harus mencari tempat tujuan terlebih dahulu," ucapnya sambil berbalik menghadap tiga gadis yang ada di belakang.


"Aku dengar kalau banyak lelaki di markas militer! Aku pikir kita harus memeriksa ke sana," sambung Takashi.


"Ide bagus. Mungkin saja ada penyintas yang masih bertahan di sana." Sakura setuju dengan usulan Takashi. Begitu pun Nana dan Yuki. Mereka lantas memulai perjalanan menuju markas militer yang berada di bagian barat ujung kota Tokyo.

__ADS_1


__ADS_2