Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi

Harem : Lelaki Terakhir Di Bumi
Bab 18 - Menemani Nana Tidur


__ADS_3

...⊛⊛⊛...


Setelah tangannya dipotong, Nana diberi waktu untuk istirahat. Untung saja ada kamar di mini market. Di sana Nana telentang sambil memejamkan mata.


Karena insiden yang menimpa Nana, Takashi terpaksa harus menunda perjalanan. Dia dan yang lain akan melanjutkan perjalanan saat Nana benar-benar pulih.


Kini Takashi dan Sakura sedang menutupi dinding kaca mini market dengan kardus bekas. Mereka melakukannya untuk berjaga-jaga. Takut kalau nanti ada zombie yang tiba-tiba datang.


Sakura membantu Takashi menempelkan kardus bekas ke dinding kaca. Dia memandangi lelaki itu dengan perasaan kagum.


"Jujur, aku sangat senang bisa bertemu denganmu," ungkap Sakura.


"Kenapa bisa begitu? Kau menyukaiku?" balas Takashi sembari tersenyum. Dia hanya bermaksud bercanda.


"Itulah alasanku sering memberimu makanan ke rumah," ucap Nana. Membuat Takashi langsung menoleh.


"A-apa?" Takashi membulatkan mata. Dia takut salah dengar.


"Lupakan." Sakura membuang muka. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah bak tomat matang.

__ADS_1


Sakura memang menyukai Takashi. Dia bahkan menyukai lelaki tersebut sebelum pandemi zombie terjadi. Sakura sendiri lebih muda dua tahun dari Takashi.


Perlahan siang berubah menjadi malam. Yuki dan Sakura sudah tertidur karena kelelahan. Namun tidak untuk Takashi. Lelaki itu memilih tidak tidur karena harus bertanggung jawab untuk berjaga.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari Nana. Takashi lantas memeriksa keadaan gadis itu. Benar saja, Nana sedang menangis.


"Kau bermimpi buruk?" tanya Takashi.


"Aku memimpikan ayah dan ibuku. Aku sangat merindukan mereka, Takashi..." jawab Nana sambil terisak.


Takashi duduk ke sebelah Nana. Dia menatap penuh iba ke arah Nana. Takashi tentu ingat kalau Nana adalah anak dari keluarga kaya raya. Keadaan seperti sekarang memang hal yang sangat mengejutkan baginya. Sungguh keajaiban besar bagi Nana dapat sanggup bertahan.


Benar saja, tangisan Nana berhenti. Gadis tersebut menatap Takashi.


"Maafkan aku..." sesal Nana.


Takashi tersenyum. "Tapi aku sudah terbiasa sendiri. Aku yakin kau juga pasti bisa sepertiku. Kau sangat hebat hari ini, Nana. Menahan rasa sakit bukanlah hal mudah," tuturnya.


Nana akhirnya tersenyum. "Terima kasih. Aku mungkin sudah jadi zombie kalau bukan karena pertolonganmu," ucapnya.

__ADS_1


"Kita--" perkataan Takashi terhenti ketika Nana tiba-tiba memeluknya. Mata lelaki itu sontak terbelalak. Dia heran kenapa para gadis selalu memberikan sentuhan secara tiba-tiba. Takashi selalu merasa jantungan dibuatnya.


"Bisakah kau tidur di sini bersamaku?" pinta Nana.


"Apa? Tidur bersamamu?" Takashi justru berbalik tanya.


"Iya. Hanya sekedar tidur. Kenapa kau gugup begitu," tukas Nana menyelidik.


"Ti-tidak! Aku hanya merasa tidak nyaman. Mengingat--" ucapan Takashi lagi-lagi terpotong karena ulah Nana. Kini gadis itu meletakkan jari telunjuk ke bibir Takashi.


"Aku tahu apa yang ada dipikiranmu, Takashi. Tapi aku tahu sekarang bukan waktu yang tepat melakukannya." Nana menaikkan satu alisnya. Dia segera telentang ke ranjang.


"Apa maksudmu?" Takashi tak mengerti.


"Ayo! Telentang di sebelahku," suruh Nana seraya menepuk tempat kosong untuk Takashi. Ia memilih mengabaikan pertanyaan Takashi.


Takashi menenggak salivanya sendiri. Dia kali ini kesulitan menolak. Mengingat Nana dalam keadaan sakit sekarang. Lagi pula Takashi sendirilah yang sudah memotong tangan Nana.


Dengan perasaan gelisah, Takashi akhirnya merebahkan diri ke sebelah Nana. Gadis itu lantas memeluk dari samping. Lalu memejamkan mata.

__ADS_1


'Sial! Sepertinya aku tidak akan bisa tidur,' batin Takashi.


__ADS_2