
...⊛⊛⊛...
Hari sudah malam. Takashi duduk ke sebelah Mayu. Mereka berduaan di dalam toko furniture. Toko itu tentu tampak berantakan akibat pandemi zombie. Kasur-kasur yang ada juga terlihat berjamur.
Sementara yang lain, sebagian besar sedang tidur. Hanya Hana yang tak terlihat batang hidungnya. Entah kemana perginya gadis tersebut.
Takashi memperhatikan kasur yang sedang didudukinya bersama Mayu. Dia ingin memulai pembicaraan yang dapat menghibur wanita itu.
"Kalau pandemi zombie tidak pernah ada, mungkin aku tidak pernah bisa duduk ke kasur mahal ini," celetuk Takashi.
Mayu tersenyum tipis. Dia menatap Takashi dengan sudut matanya. "Aku dengar kau anak yatim piatu. Pasti sulit mengatasi segalanya sendirian," tanggapnya.
"Aku sudah terbiasa. Lagi pula aku hanya perlu mengurus diriku sendiri."
"Saat sendiri itulah masa paling sulit. Aku tahu rasanya." Mayu memasang raut wajah serius. Dia tertunduk. "Aku harusnya bisa menjaga Shima lebih baik lagi," sambungnya yang masih belum move on memikirkan kematian Shima.
"Shima pasti mengingatkanmu dengan anakmu," tanggap Takashi.
__ADS_1
"Ya. Saat virus zombie melanda, kebetulan aku sedang bekerja. Sedangkan anakku ada di sekolah. Aku mengorbankan diri agar bisa menjemputnya. Tapi setelah aku sampai ke sana, dia..." Mayu terisak. Dia tidak kuasa melanjutkan kalimatnya. Air mata Mayu mulai menitik.
"Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi aku di sini untuk membuatmu tenang." Takashi mengusap air mata yang ada di wajah Mayu. Wanita itu segera menatap ke arahnya.
"Terima kasih," ungkap Mayu sembari memancarkan tatapan lekat. Dia perlahan mencondongkan wajahnya ke arah Takashi. Lalu mencium singkat bibir lelaki tersebut.
Ketika Mayu hendak menjauh, Takashi menghentikan. Dia tidak puas dengan senyuman singkat. Alhasil Takashi menyatukan bibirnya kembali ke mulut Mayu. Keduanya saling berpadu kasih cukup lama. Hingga lama-kelamaan semakin menggebu.
Mayu tiba-tiba melepas tautan bibirnya sejenak. "Kau terlihat lebih jantan sekarang. Aku semakin menyukaimu, Takashi..." ujarnya.
"Kalau begitu bisa kita lanjutkan?" sahut Takashi.
Takashi terkekeh. Dia tidak menjawab dan malah membekap bibir Mayu agar bisa kembali berciuman. Entah apa yang merasuki Takashi. Namun sepertinya pertahanannya telah runtuh.
Mayu yang merasa bersemangat, perlahan menyudutkan Takashi hingga telentang ke ranjang. Jelas Mayu sudah berpengalaman. Dia lebih mendominasi. Malam itu, Takashi bercinta dengan seorang wanita untuk kali pertama.
...***...
__ADS_1
Mentari terlihat muncul dari ufuk timur. Takashi terbangun karena ada cahaya menyilaukan yang menghantam matanya.
Setelah membuka mata, ternyata Mayu yang berulah. Dia mengarahkan sebuah cermin kecil. Cahaya matahari yang memantul dari jendela, jadi memantul ke wajah Takashi.
"Sudah siang?" tanya Takashi sembari menoleh ke jendela. Ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek hitam.
"Tidak siang. Tapi pagi." Mayu telentang miring menghadap Takashi. Dia menopang kepala dengan satu tangan. Tampilan Mayu sekarang hanya mengenakan tanktop tanpa mengenakan bra. Meskipun begitu, dia terlihat sudah mengenakan celana jeans.
"Apa yang kita lakukan tadi malam benar-benar merubah suasana hatiku dalam sekejap. Terima kasih, Takashi Kun." Mayu duduk tegak. Dia mendaratkan ciuman dalam ke pipi Takashi. Kemudian mengenakan pakaian.
Takashi menghela nafas satu kali. Dia segera memakai baju dan celana. Takashi membiarkan Mayu pergi ke kamar mandi lebih dulu.
Sambil menunggu Mayu, Takashi keluar sebentar. Dia ingin memeriksa keadaan gadis lain. Takashi menyaksikan mereka terlihat sudah berkumpul di dekat bus. Kecuali Hana.
Takashi tersenyum saat Yuki, Nana, dan Sakura menyapa. Dia yang memegangi botol minuman, segera meminum air dari sana.
"Menikmatinya tadi malam?" suara Hana berhasil membuat Takashi kaget sampai berjengit. Air bahkan disemprotkannya dari mulut.
__ADS_1
"Hei!!!" geram Takashi sambil mendelik.