
...⊛⊛⊛...
Mata Takashi membulat sempurna. Dia kaget dengan sentuhan Nana yang tiba-tiba. Takashi lantas mencoba mendorong gadis itu menjauh. Tautan bibir keduanya sempat terlepas.
"Aku belum selesai, Takashi..." ujar Nana. Dia kembali menyatukan bibirnya dengan mulut Takashi. Memberikan ciuman yang berhasil membuat lelaki tersebut terbuai. Namun itu tidak berlangsung lama, karena Takashi segera tersadar.
"CUKUP! Aku pikir kau sudah keterlaluan!" timpal Takashi. Dia mendorong Nana menjauh.
"Keterlaluan?! Aku yakin kau sempat menikmatinya tadi," balas Nana.
"Aku sekarang semakin yakin untuk pergi! Aku benar-benar lelah dengan semua ini!" ungkap Takashi. Kali ini dia tak bisa menahan amarah.
"Kau pikir hanya kau yang lelah?! Aku dan yang lain juga begitu, tapi kami terus berusaha menjalani hari dengan baik!"
Keributan yang terjadi di antara Takashi dan Nana membuat semua orang terbangun. Mereka semua segera mendatangi sumber suara. Lalu menyaksikan Takashi yang terlihat menggandeng tas serta mengenakan topi.
"Kau mau pergi kemana, Takashi?" tanya Sakura yang merasa kecewa. Dia berharap Takashi tidak memiliki niat untuk pergi secara diam-diam.
__ADS_1
"Dia ingin pergi tanpa sepengetahuan kita," sahut Nana yang tentu lebih tahu niat Takashi.
"Kenapa kau melakukan itu? Apa kami ada melakukan kesalahan?" Yuki memastikan. Dia menuntut jawaban.
Takashi menghembuskan nafas berat. Dia menatap para gadis secara bergantian.
"Aku ingin pergi sendiri! Kita berpisah mulai sekarang. Kalian sangat mengganggu dan merepotkan!" tukas Takashi.
"Kau menganggap kami begitu? Padahal kita selalu bekerjasama dalam menghadapi bahaya!" sahut Yuki.
"Aku pikir Takashi sedang menyombongkan dirinya sekarang. Dia mungkin menganggap kita sangat bergantung kepadanya," sambung Mayu. Dia dan yang lain lantas menatap Takashi dengan perasaan kecewa.
"Itu memang fakta! Kalian sangat bergantung kepadaku. Hanya karena aku satu-satunya lelaki! Aku seolah menjadi tumbal kalian di sini!" jawab Takashi.
"Pergilah kalau begitu. Kami tidak akan mengikutimu lagi," ucap Nana sembari menjaga jarak dari Takashi. Dia segera berdiri ke samping Yuki.
Takashi terpaku menatap para gadis sejenak. Namun keputusannya tetap bulat untuk pergi seorang diri.
__ADS_1
"Selamat tinggal." Takashi berucap begitu sebelum benar-benar membuka pintu. Meninggalkan para gadis yang sejak awal menghargainya bak batu pertama. Akan tetapi Takashi menelantarkan mereka seperti sampah.
Dengan langkah laju, Takashi semakin menjauh dari pondok. Dia benar-benar memisahkan diri dari para gadis.
Selama semalaman Takashi hanya menelusuri jalanan. Dia bahkan sama sekali tidak tidur. Tujuannya sekarang adalah menemukan tempat tinggal untuk menetap. Mengingat harapannya untuk bertemu lelaki lain tidak kunjung berhasil.
Kini Takashi berada di sebuah toko peralatan. Dia mencari senjata yang dapat digunakan untuk melawan zombie. Sayangnya tidak ada senjata memungkinkan untuk dipakai.
Takashi berhasil menemukan sebuah alat pemutar musik. Karena alat itu rusak, dia memperbaikinya terlebih dahulu.
Butuh waktu sekitar setengah jam untuk memperbaiki. Saat Takashi menyalakan alat pemutar musik tersebut, dia dibuat begitu kaget. Bagaimana tidak? Volume musik terdengar sangat nyaring.
"Sial!" rutuk Takashi. Akibat ulahnya sendiri, para zombie mulai berdatangan.
Takashi bergegas menyelamatkan diri. Karena keadaan di luar sudah dikepung zombie, dia terpaksa berlari masuk ke dalam toko.
Langkah Takashi terhenti ketika menemukan jalan buntu. Meskipun begitu, dia tidak menyerah. Takashi kabur melewati ventilasi udara. Di sana dia harus berjalan dengan merangkak. Tetapi siapa yang menduga? Ventilasi tersebut justru membawanya ke ruang bawah tanah. Atau lebih dikenal sebagai limbah kotoran bawah tanah.
__ADS_1