HIJRAH CINTA AFIFAH

HIJRAH CINTA AFIFAH
Rain kecapekan


__ADS_3

part 21


Kembali ke jakarta , pagi sudah menyapa sang mentari pun sudah tersenyum dengan manisnya , tapi Rain masih enggan untuk membuka matanya , hingga sang mama menghampirinya


" Rain , bangun sayank , sudah siang nich " ucap sang mama sambil menyibakkan tirai gorden dikamar Rain


Rain tetap dalam posisinya , meski pancaran sinar matahari menyeruak dari jendela kamarnya , karena alam mimpi yang diarunginya begitu indah hingga ia tidak mempedulikan lingkungan sekitarnya , sang mama menghampiri dan menggoyang2kan kakinya agar bangun ,


" Sayank .. sudah hampir setengah 7 nich , telat loh nanti ke sekolahnya " ucap sang mama sambil membelai kepala sang putri yang tertutup selimut


" Ihh .. masih ngantuk , nganggu aja ! " bentak Rain , sembari menutup mukanya dengan bantal


" Sana.. sana ... Rin , lagi mimpi sama Ufi nich , tolong jangan ganggu " ucapnya lagi


" Ufi ..Rin..., siapa mereka " guman sang mama sambil mengerutkan dahinya


"Tuch kan .. mimpinya jadi ilang , kamu suka banget ya ngangguin orang " ucap Rain sewot


" Ini mama sayank , ayo bangun " mama Dhania penuh kesabaran


" Ihh .. ngapain mama nyusulin Rain kesini ? , Rain belum mau pulang , Rain masih ingin bertemu dengan Ufi " ucapnya tanpa membuka selimutnya


" Siapa Ufi , Rain ? " tanya mama karena penasaran sang putri terus menyebut nama orang yang tidak dikenalnya


" Pakai tanya Ufi siapa lagi , kamu sudah mulai pikun , Rin ? " ucapnya kesal


" Kamu ngigau sayank , kamu baik2 saja kan , Rain ? " tanya sang mama penuh kekhawatiran


Mama Dhania berusaha membuka bantal dan selimut yang menutupi wajah sang putri , kemudian dipegangnya dahi Rain untuk memastikan keadaan sang putri dan betapa kagetnya Mama Dhania , karena suhu badan Rain panas


" Sayank .. bangunlah " sang mama semakin cemas lalu beranjak mengambil termometer alat pengukur suhu badan


" Ya Allah , 39 panasnya " ketika sang mama hendak beranjak dari tempat duduknya , Rain menggeliat manja , kemudian bangun lalu duduk , ia menatap lekat wajah sang mama dengan rasa penuh tanda tanya


" Mama... ngapain kesini ? " tanyanya bingung


" Kamu demam sayank , mama telponin Dr Bayu ya ? "


" Demam.. Rain baik2 aja kok , ngapain telpon Dr Bayu , ma , jangan .... jangan , gak usah Rain mau pulang kok " tolaknya sembari turun dari kasurnya


" Augh... kok tiba2 pusing , badan aku juga gak enak " ucapnya kembali duduk ditepian ranjang


" Sayank , sudah tiduran aja , Mama buatin bubur ya ? " mama Dhania berdiri dan melangkahkan kaki keluar dari kamar Rain,


" Kok kamar ini gak asing ya buat aku " ucap Rain sambil memutar bola matanya menatap seluruh penjuru ruang kamar


Ketika sang mama hendak memutar handle pintu Rain memanggilnya


" Maaa , " sang mama menoleh kaget


" Iyaa sayank " jawab sang mama cepat


" Ini kamar Rain kan , kapan Rain pulang ? " sang mama tidak menjawab , buru2 berlari menghampiri Rain dan memeluknya erat , tangisnya pecah , Rain pun bertambah bingung


" Ma , mengapa mama malah menangis ?, Rain baik2 aja kok , "


" RAIN " teriak sang papa lantang


" Apa hukuman dari papa tidak membuatmu jera " gertaknya tanpa pindah posisi


" Pa.. Rain " ucap sang mama yang langsung dipotong oleh papa Ramdan


" Jangan terus memanjakannya ma , Rain itu sudah besar , dia bisa bangun sendiri , mandi sendiri , makan sendiri , harusnya dia sudah bisa berpikir tentang tanggung jawabnya , bukan malah bersikap seperti anak kecil begini " Pak Ramdan mulai tersulut emosinya


" Pa ... Rain itu lagi sakit " teriak sang istri sambil berkaca2


" Sudahlah ma , Rain gak papa , " Rain langsung beranjak ke kamar mandi , hatinya sakit mendengar ucapan sang papa , tangisnya pecah manakala berada di kamar mandi ,

__ADS_1


Diusapnya kasar airmata yang membasahi pipinya, setelah berganti seragam ia menarik tas sekolah dan berlalu pergi tanpa pamit pada orang tuanya , bahkan sang bibik yang menawarinya sarapan tak dihiraukannya


Rain melajukan sichantik , motor matic kesayangan nya dengan kencang , airmatanya kembali berderai tanpa ia bisa tahan , dadanya terasa sesak , suhu tubuhnya masih terus naik , tapi ia tidak mempedulikannya Rain memang sosok yang kuat , begitu sampai digerbang sekolah , dia berhenti sebentar , dia memoles wajahnya yang tampak sembab dengan bedak , setelah dirasa cukup , diapun masuk dan memarkirkan sepedanya dipojok parkiran , kemudian berlari masuk menuju kelas


" Rain " sebuah panggilan keras terdengar ditelingannya , ia hafal sekali suara siapa itu , buru2 dia membalikkan tubuhnya


" Kamu ke.. napa Rain , habis nangis ? " tanya Sheila


" Radit sudah balik ? " tanyanya balik


" Jadi kamu nangis karena merindukan Radit ? " Sheila menyatukan alisnya , dia paham betul bagaimana perasaan Rain ke Radit


" Sabar ya... Radit masih dijombang , Neneknya masih di ICU " ucap Sheila sambil mengelus - elus pundak Rain berusaha menguatkan


" Iya , makasih " jawab Rain lesu


" Rain , badan kamu kok panas , kamu sakit ? " tanya Sheila panik ,


" Ya Allah Rain . ini panas sekali , kalau sudah tau sakit kenapa mesti masuk sekolah " omel Sheila sambil mengecek beberapa bagian tubuh Rain


" Aku gak papa , mungkin cuma kecapekan " jawabnya sembari berjalan menuju bangkunya


" Mau kemana ? , Ayo ke UKS saja " tarik Sheila


" Aku gak papa , tenanglah " tolak Rain


" Gak papa gimana , badan kamu panas , wajah kamu juga pucat , kamu itu sakit Rain " omel Sheila cemas


" Ayo .. aku anter ke UKS atau langsung ke dokter aja ya , udah ayuuk " bujuk Sheila


" Kamu ini bawel banget sich , sudah dibilang aku gak papa juga , ngapain maksa " bentak Rain karena kesal


" Ya sudah , TERSERAH ... " Sheila mulai emosi dan meninggalkan Rain , tapi baru beberapa langkah


Bruggg ... Rain jatuh dan tak sadarkan diri ,


" Kalian ini tolol banget sich , bantuuiin ! " Bentak Sheila pada beberapa siswa yang berkerumun dan hanya melihat Rain saja


" Dasar otak udang , lihat teman kayak gini cuma dilihatin , ambil minyak angin kek , panggil guru kek , buruan " gertaknya lagi


" Iya.. iya " jawab salah satu siswa ketakutan , yang lain pun segera membantu , ada yang ngasih minyak angin , ada yang mijitin ,


" Rain... bangun , buka mata kamu " Sheila terus berusaha menyadarkan Rain , tapi sampai bu Devi datang Rain masih dalam kondisi yang sama


" Sheila ... Rain , kenapa ? " tanya bu Devi khawatir


" Sheila juga tidak tau bu , cuma memang dia lagi kurang enak badan " jawab Sheila


" Panasnya terlalu tinggi , langsung ke dokter saja , ayo bantuin ngangkat ke mobil " perintah Bu Devi


" Biar saya saja bu " ucap Radit yang tiba2 sudah nongol diantara kerumunan


Buru2 Radit membopong tubuh Rain dan membawanya ke mobil , Sheila dan Bu Devi mengikuti langkah Radit ngos2an , tampak rasa khawatir dari raut wajah Radit , tapi dia berusaha untuk tenang , setelah Sheila dan Bu Devi masuk ke dalam mobil , Radit segera melajukan kendaraannya menuju rumah sakit terdekat .


Beberapa saat kemudian Rain sudah diperiksa oleh dokter dan telah dipindahkan ke ruang rawat inap , Tapi Rain masih belum menunjukan kesadarannya


" Dok , mengapa Rain masih belum sadar juga ? " tanya Radit cemas


" Tenanglah , sebentar lagi insyaallah siuman " jawab sang dokter sambil tersenyum


" Tenang bagaimana ... teman kami sudah hampir satu jam pingsan , dok ? " sahut Sheila kesal karena khawatir


" Sabar , dia hanya kecapekan , sebentar lagi juga sadar , kalau begitu saya tinggal dulu , " ucap sang dokter sambil berlalu pergi


" Untung dokternya ganteng , kalau jelek mungkin sudah gue lempar nich sepatu ke jidatnya " guman Sheila sewot


" Ibu balik ke sekolah ya , setelah orang tua Rain datang kalian juga harus balik , assalamu'alaikum " pamit bu Devi

__ADS_1


" Baik bu " jawab Radit dan Sheila bersamaan


" Kapan kamu balik , Dit , kenapa gak ngabari , Rain sampai sakit gara2 mikirin kamu " tanya Sheila marathonan


Tanpa menjawab pertanyaan Sheila , Radit segera menghampiri Rain , dipegangnya Rain


" Rain , Maafin aku ya" ucap Radit


Mendengar suara Radit , pelan2 Rain membuka matanya , senyumnya mengembang meski sangat lemah


" Ra... dit " sapanya terbata2 , dia berusaha untuk bangun , tapi Radit langsung menahannya


"Beristirahatlah Rain ,tenanglah aku ada disini " ucap Radit menenangkan Rain yang masih tampak kalut


" Minum Dit , aku haus " pinta Rain , Radit langsung mengambil minuman kemasan botol


" Pelan - pelan , kamu kenapa bisa sampai kayak gini ? " tanya Radit sambil mengelap sisa air yang ada dibibir Rain


" Aku gak tau " jawab Rain singkat


" Sudah makan ? " tanyanya lagi , Rain hanya menggeleng pelan


" La , jagain Rain ya , aku keluar bentar " perintah Radit


" Kamu mau kemana lagi ? " tanya Sheila ketus


" Beliin makanan untuk Rain , kamu mau apa ? " tanya Radit


" Seikhlasnya kamu aja " jawab Sheila sambil nyengir


" Dit , jangan lama2 " pinta Rain , Radit hanya mengangguk sambil tersenyum


" Sayank , kamu baik2 aja kan ? " tanya mama Dhania panik yang langsung memburu memeluk sang putri


Rain hanya terdiam melihat sang mama , sementara sang papa juga menghampirinya


" Maafin Papa ya sayank " ucapnya , Rain hanya mengangguk pelan


" Sheila apa yang terjadi tadi , kenapa Rain sampai pingsan lama ? " tanya mama Dhania


" Rain demam tinggi , tan " jawab Sheila


" Rain , ini makanan.. " Radit berhenti sejenak manakala melihat orangtua Rain ,


" Om.. tante " sapanya sambil menghampiri dan bersalaman , raut pak Ramdan terlihat cuek , tapi Radit tidak mempedulikannya


" Makasih ya , kalian sudah membawa dan menemani Rain " ucap sang mama


"Sama2 tan " jawab Radit dan Sheila bersamaan


" Ogh ya , karena om dan tante sudah disini , kami pamit kembali ke sekolah " ucap Sheila sambil menghampiri Radit ,


" Ayo Dit " ajak Sheila


" Iya bentar , Rain makan yang banyak ya , biar cepat


sembuh , aku pamit , insyaallah nanti sore kesini lagi , mari om , tante "


" Terimakasih banyak ya " ucap Mama Dhania


" Diiit " panggil Rain , Radit yang telah sampai dipintu , membalikkan badannya dan menatap lekat ke wajah Rain


" Makasih " ucap Rain sedih , Radit tersenyum dan memberikan jempolnya


" Sheila " panggilnya , Sheila pun menoleh


" Makasih banyak untuk semuanya " ucap Rain , dan Sheila pun menjawab " sama2 " sambil tersenyum

__ADS_1


__ADS_2