
part 21
Kembali ke jakarta , pagi sudah menyapa sang mentari pun sudah tersenyum dengan manisnya , tapi Rain masih enggan untuk membuka matanya , hingga sang mama menghampirinya
" Rain , bangun sayank , sudah siang nich " ucap sang mama sambil menyibakkan tirai gorden dikamar Rain
Rain tetap dalam posisinya , meski pancaran sinar matahari menyeruak dari jendela kamarnya , karena alam mimpi yang diarunginya begitu indah hingga ia tidak mempedulikan lingkungan sekitarnya , sang mama menghampiri dan menggoyang2kan kakinya agar bangun ,
" Sayank .. sudah hampir setengah 7 nich , telat loh nanti ke sekolahnya " ucap sang mama sambil membelai kepala sang putri yang tertutup selimut
" Ihh .. masih ngantuk , nganggu aja ! " bentak Rain , sembari menutup mukanya dengan bantal
" Sana.. sana ... Rin , lagi mimpi sama Ufi nich , tolong jangan ganggu " ucapnya lagi
" Ufi ..Rin..., siapa mereka " guman sang mama sambil mengerutkan dahinya
"Tuch kan .. mimpinya jadi ilang , kamu suka banget ya ngangguin orang " ucap Rain sewot
" Ini mama sayank , ayo bangun " mama Dhania penuh kesabaran
" Ihh .. ngapain mama nyusulin Rain kesini ? , Rain belum mau pulang , Rain masih ingin bertemu dengan Ufi " ucapnya tanpa membuka selimutnya
" Siapa Ufi , Rain ? " tanya mama karena penasaran sang putri terus menyebut nama orang yang tidak dikenalnya
" Pakai tanya Ufi siapa lagi , kamu sudah mulai pikun , Rin ? " ucapnya kesal
" Kamu ngigau sayank , kamu baik2 saja kan , Rain ? " tanya sang mama penuh kekhawatiran
Mama Dhania berusaha membuka bantal dan selimut yang menutupi wajah sang putri , kemudian dipegangnya dahi Rain untuk memastikan keadaan sang putri dan betapa kagetnya Mama Dhania , karena suhu badan Rain panas
" Sayank .. bangunlah " sang mama semakin cemas lalu beranjak mengambil termometer alat pengukur suhu badan
" Ya Allah , 39 panasnya " ketika sang mama hendak beranjak dari tempat duduknya , Rain menggeliat manja , kemudian bangun lalu duduk , ia menatap lekat wajah sang mama dengan rasa penuh tanda tanya
" Mama... ngapain kesini ? " tanyanya bingung
" Kamu demam sayank , mama telponin Dr Bayu ya ? "
" Demam.. Rain baik2 aja kok , ngapain telpon Dr Bayu , ma , jangan .... jangan , gak usah Rain mau pulang kok " tolaknya sembari turun dari kasurnya
" Augh... kok tiba2 pusing , badan aku juga gak enak " ucapnya kembali duduk ditepian ranjang
" Sayank , sudah tiduran aja , Mama buatin bubur ya ? " mama Dhania berdiri dan melangkahkan kaki keluar dari kamar Rain,
" Kok kamar ini gak asing ya buat aku " ucap Rain sambil memutar bola matanya menatap seluruh penjuru ruang kamar
Ketika sang mama hendak memutar handle pintu Rain memanggilnya
" Maaa , " sang mama menoleh kaget
" Iyaa sayank " jawab sang mama cepat
" Ini kamar Rain kan , kapan Rain pulang ? " sang mama tidak menjawab , buru2 berlari menghampiri Rain dan memeluknya erat , tangisnya pecah , Rain pun bertambah bingung
" Ma , mengapa mama malah menangis ?, Rain baik2 aja kok , "
" RAIN " teriak sang papa lantang
" Apa hukuman dari papa tidak membuatmu jera " gertaknya tanpa pindah posisi
" Pa.. Rain " ucap sang mama yang langsung dipotong oleh papa Ramdan
" Jangan terus memanjakannya ma , Rain itu sudah besar , dia bisa bangun sendiri , mandi sendiri , makan sendiri , harusnya dia sudah bisa berpikir tentang tanggung jawabnya , bukan malah bersikap seperti anak kecil begini " Pak Ramdan mulai tersulut emosinya
" Pa ... Rain itu lagi sakit " teriak sang istri sambil berkaca2
" Sudahlah ma , Rain gak papa , " Rain langsung beranjak ke kamar mandi , hatinya sakit mendengar ucapan sang papa , tangisnya pecah manakala berada di kamar mandi ,
__ADS_1
Diusapnya kasar airmata yang membasahi pipinya, setelah berganti seragam ia menarik tas sekolah dan berlalu pergi tanpa pamit pada orang tuanya , bahkan sang bibik yang menawarinya sarapan tak dihiraukannya
Rain melajukan sichantik , motor matic kesayangan nya dengan kencang , airmatanya kembali berderai tanpa ia bisa tahan , dadanya terasa sesak , suhu tubuhnya masih terus naik , tapi ia tidak mempedulikannya Rain memang sosok yang kuat , begitu sampai digerbang sekolah , dia berhenti sebentar , dia memoles wajahnya yang tampak sembab dengan bedak , setelah dirasa cukup , diapun masuk dan memarkirkan sepedanya dipojok parkiran , kemudian berlari masuk menuju kelas
" Rain " sebuah panggilan keras terdengar ditelingannya , ia hafal sekali suara siapa itu , buru2 dia membalikkan tubuhnya
" Kamu ke.. napa Rain , habis nangis ? " tanya Sheila
" Radit sudah balik ? " tanyanya balik
" Jadi kamu nangis karena merindukan Radit ? " Sheila menyatukan alisnya , dia paham betul bagaimana perasaan Rain ke Radit
" Sabar ya... Radit masih dijombang , Neneknya masih di ICU " ucap Sheila sambil mengelus - elus pundak Rain berusaha menguatkan
" Iya , makasih " jawab Rain lesu
" Rain , badan kamu kok panas , kamu sakit ? " tanya Sheila panik ,
" Ya Allah Rain . ini panas sekali , kalau sudah tau sakit kenapa mesti masuk sekolah " omel Sheila sambil mengecek beberapa bagian tubuh Rain
" Aku gak papa , mungkin cuma kecapekan " jawabnya sembari berjalan menuju bangkunya
" Mau kemana ? , Ayo ke UKS saja " tarik Sheila
" Aku gak papa , tenanglah " tolak Rain
" Gak papa gimana , badan kamu panas , wajah kamu juga pucat , kamu itu sakit Rain " omel Sheila cemas
" Ayo .. aku anter ke UKS atau langsung ke dokter aja ya , udah ayuuk " bujuk Sheila
" Kamu ini bawel banget sich , sudah dibilang aku gak papa juga , ngapain maksa " bentak Rain karena kesal
" Ya sudah , TERSERAH ... " Sheila mulai emosi dan meninggalkan Rain , tapi baru beberapa langkah
Bruggg ... Rain jatuh dan tak sadarkan diri ,
" Kalian ini tolol banget sich , bantuuiin ! " Bentak Sheila pada beberapa siswa yang berkerumun dan hanya melihat Rain saja
" Dasar otak udang , lihat teman kayak gini cuma dilihatin , ambil minyak angin kek , panggil guru kek , buruan " gertaknya lagi
" Iya.. iya " jawab salah satu siswa ketakutan , yang lain pun segera membantu , ada yang ngasih minyak angin , ada yang mijitin ,
" Rain... bangun , buka mata kamu " Sheila terus berusaha menyadarkan Rain , tapi sampai bu Devi datang Rain masih dalam kondisi yang sama
" Sheila ... Rain , kenapa ? " tanya bu Devi khawatir
" Sheila juga tidak tau bu , cuma memang dia lagi kurang enak badan " jawab Sheila
" Panasnya terlalu tinggi , langsung ke dokter saja , ayo bantuin ngangkat ke mobil " perintah Bu Devi
" Biar saya saja bu " ucap Radit yang tiba2 sudah nongol diantara kerumunan
Buru2 Radit membopong tubuh Rain dan membawanya ke mobil , Sheila dan Bu Devi mengikuti langkah Radit ngos2an , tampak rasa khawatir dari raut wajah Radit , tapi dia berusaha untuk tenang , setelah Sheila dan Bu Devi masuk ke dalam mobil , Radit segera melajukan kendaraannya menuju rumah sakit terdekat .
Beberapa saat kemudian Rain sudah diperiksa oleh dokter dan telah dipindahkan ke ruang rawat inap , Tapi Rain masih belum menunjukan kesadarannya
" Dok , mengapa Rain masih belum sadar juga ? " tanya Radit cemas
" Tenanglah , sebentar lagi insyaallah siuman " jawab sang dokter sambil tersenyum
" Tenang bagaimana ... teman kami sudah hampir satu jam pingsan , dok ? " sahut Sheila kesal karena khawatir
" Sabar , dia hanya kecapekan , sebentar lagi juga sadar , kalau begitu saya tinggal dulu , " ucap sang dokter sambil berlalu pergi
" Untung dokternya ganteng , kalau jelek mungkin sudah gue lempar nich sepatu ke jidatnya " guman Sheila sewot
" Ibu balik ke sekolah ya , setelah orang tua Rain datang kalian juga harus balik , assalamu'alaikum " pamit bu Devi
__ADS_1
" Baik bu " jawab Radit dan Sheila bersamaan
" Kapan kamu balik , Dit , kenapa gak ngabari , Rain sampai sakit gara2 mikirin kamu " tanya Sheila marathonan
Tanpa menjawab pertanyaan Sheila , Radit segera menghampiri Rain , dipegangnya Rain
" Rain , Maafin aku ya" ucap Radit
Mendengar suara Radit , pelan2 Rain membuka matanya , senyumnya mengembang meski sangat lemah
" Ra... dit " sapanya terbata2 , dia berusaha untuk bangun , tapi Radit langsung menahannya
"Beristirahatlah Rain ,tenanglah aku ada disini " ucap Radit menenangkan Rain yang masih tampak kalut
" Minum Dit , aku haus " pinta Rain , Radit langsung mengambil minuman kemasan botol
" Pelan - pelan , kamu kenapa bisa sampai kayak gini ? " tanya Radit sambil mengelap sisa air yang ada dibibir Rain
" Aku gak tau " jawab Rain singkat
" Sudah makan ? " tanyanya lagi , Rain hanya menggeleng pelan
" La , jagain Rain ya , aku keluar bentar " perintah Radit
" Kamu mau kemana lagi ? " tanya Sheila ketus
" Beliin makanan untuk Rain , kamu mau apa ? " tanya Radit
" Seikhlasnya kamu aja " jawab Sheila sambil nyengir
" Dit , jangan lama2 " pinta Rain , Radit hanya mengangguk sambil tersenyum
" Sayank , kamu baik2 aja kan ? " tanya mama Dhania panik yang langsung memburu memeluk sang putri
Rain hanya terdiam melihat sang mama , sementara sang papa juga menghampirinya
" Maafin Papa ya sayank " ucapnya , Rain hanya mengangguk pelan
" Sheila apa yang terjadi tadi , kenapa Rain sampai pingsan lama ? " tanya mama Dhania
" Rain demam tinggi , tan " jawab Sheila
" Rain , ini makanan.. " Radit berhenti sejenak manakala melihat orangtua Rain ,
" Om.. tante " sapanya sambil menghampiri dan bersalaman , raut pak Ramdan terlihat cuek , tapi Radit tidak mempedulikannya
" Makasih ya , kalian sudah membawa dan menemani Rain " ucap sang mama
"Sama2 tan " jawab Radit dan Sheila bersamaan
" Ogh ya , karena om dan tante sudah disini , kami pamit kembali ke sekolah " ucap Sheila sambil menghampiri Radit ,
" Ayo Dit " ajak Sheila
" Iya bentar , Rain makan yang banyak ya , biar cepat
sembuh , aku pamit , insyaallah nanti sore kesini lagi , mari om , tante "
" Terimakasih banyak ya " ucap Mama Dhania
" Diiit " panggil Rain , Radit yang telah sampai dipintu , membalikkan badannya dan menatap lekat ke wajah Rain
" Makasih " ucap Rain sedih , Radit tersenyum dan memberikan jempolnya
" Sheila " panggilnya , Sheila pun menoleh
" Makasih banyak untuk semuanya " ucap Rain , dan Sheila pun menjawab " sama2 " sambil tersenyum
__ADS_1