HIJRAH CINTA AFIFAH

HIJRAH CINTA AFIFAH
Rasa itu...


__ADS_3

part 27


Sebelum jam 07.00 malam , Rain sudah bersiap2 , ia memakai celana jeans selutut , jaket hoodie warna hitam , tidak lupa topi dan masker , setelah pamit pada bik Atun Rain melajukan motornya , dia berhenti sejenak disalah satu pusat perbelanjaaan , dan tak berselang lama Rain pun kembali melajukan motornya menuju tempat yang sudah ia janjikan dengan bang Jamal ,


" Sudah lama .. nunggu bang ? " sapanya ketika sampai


" Barusan datang kok neng " jawabnya sambil menundukkan kepalanya


"Maafkan saya neng , saya terpaksa melakukannya, Sari masuk rumah sakit lagi sudah 2pekan ini neng , dan kami kehabisan biaya" ucapnya sedih


" Sari jangan dijadikan alasan bang , bukankah bang Jamal punya nomer hp saya , mengapa tidak menghubungi saya ? " jawab Rain sambil memandang bang Jamal lekat


" Malu ngrepotin neng terus "


" Lalu abang malak orang , ngrampas , ngrampok , jambret tidak malu ? " Bang Jamal semakin tertunduk , butir2 airmatanya mulai jatuh satu per satu , Rain berusaha menahan airmata yang hendak keluar dengan mengalihkan pandangannya ,


" Sekarang kita ke rumah sakit , bang ? , saya mau melihat Sari " ucapnya tegas


" Sari ada dirumah neng , terpaksa saya membawanya pulang , agar biaya tidak semakin bengkak " ucap bang Jamal sambil menghapus airmatanya


Rain menatap tajam ke arah bang Jamal , ia melihat kesedihan yang luar biasa yang berusaha bang Jamal tahan , " Ya sudah , ayo ke rumah abang ? " ajaknya


" Rumah saya jelek non , kasihan non kalau kesana banyak nyamuk , tempatnya juga kotor " Mendengar ucapan bang Jamal , Rain segera membalikkan tubuhnya , dengan spontan ia menarik kerah baju bang Jamal dengan satu tangan dan satu tangannya lagi mengepal hendak mendaratkan satu pukulan persis dimuka bang Jamal


" Pukul non... pukul , bunuh saja sekalian , manusia seperti saya tidak layak untuk hidup , setidaknya kalau saya mati , saya tidak melihat Sari tersiksa lagi , ayoo non pukul ... pukul " ucap bang Jamal sambil memegang tangan Rain agar mau memukuli dirinya , Rain mendorong keras tubuh bang Jamal hingga jatuh tersungkur ditanah


" Abang terlalu banyak alasan , drama apa lagi yang sedang abang perankan , heebaat... jangan2 selama ini abang sudah menipu saya " ucap Rain sambil tersenyum masam


" Saya kalau sama neng gak pernah bohong , saya jujur , saya memang jahat , saya memang bangsat , saya memang manusia hina , tapi ... "


" Tapi apa... katakan bang , abang judi , abang mabuk lagi ? , gak papa terusin aja , tapi jangan harap saya mau peduli lagi ... NO " teriaknya


Bang Jamal menarik tangan Rain , lalu mengandengnya , mereka berdua menyusuri jalan setapak yang gelap , Rain menyalakan lampu ponselnya , ia pun lebih banyak diam dan hanya langkah kaki bang Jamal , akhirnya setelah lama berjalan , mereka pun sampai disebuah rumah kecil ditepian sungai .


Tanpa mengucapkan salam Bang Jamal dan Rain masuk ke dalam rumah tersebut , begitu masuk Rain terperanjat dengan pemandangan yang ada didepannya , Sari terbaring lemah diatas tikar , sementara sang ibu duduk disampingnya sambil mengipasi tubuh sang anak dengan tutup toples .


Pelan2 Rain berjalan mendekati Sari , ada rasa sesak menyelimuti dadanya , hatinya sungguh terasa teriris2 , bahkan airmatanya jatuh tanpa ia sadari


"Neng , tolongin Sari .. Sarii sudah gak kuat lagi " Eluhnya pelan dan hampir tak terdengar karena tubuhnya sangat lemah


" Lihat non.. lihat.. saya ini seorang bapak yang tidak berguna , anak sakit sampai seperti ini , saya tidak bisa melakukan apapun , lalu untuk apa saya hidup neng , untuk apa ? bukankah seharusnya saya yang sakit , yang sekarat , karena saya yang banyak dosa bukan Sari " Rain hanya diam sambil terus menatap Sari


" Kita ke rumah sakit sekarang " ucap Rain , Sari tersenyum mendengar ucapan Rain , anak kecil yang berusia 7 tahunan itu langsung bangun dan memeluk Rain erat , " terimakasih banyak , neng " ucapnya sambil terisak , Rain hanya mengangguk pelan


" Ayo bang , tunggu apa lagi ! " bentaknya


" Tapi .. neng " bang Jamal masih ragu


" Tapi apalagi... " Rain yang tidak sabar , segera merengkuh tubuh Sari , tapi sang ibu menahannya


" Jangan neng , biar bapak saja , ayoo pak , cepat " titah sang istri


Dengan wajah gusar bercampur bingung dan entah apalagi yang berkecambuk dikepala bang Jamal , ia segera mengangkat tubuh sang putri , sementara Rain tengah sibuk dengan ponselnya , tak berselang lama Rain dan ibunya Sari mengikuti bang Jamal keluar dari gang menuju jalan besar .


Dan disana sudah ada Radit yang menunggu dengan wajah yang penuh kekhawatiran


Begitu melihat Rain dan rombongan Radit buru2 membuka pintu mobil bagian tengah.


" Mengapa kesini gak bilang2 " bisik Radit pada Rain


" Dibahas nanti , sekarang buruan ke rumah sakit ..kasihan Sari " jawab Rain dengan mimik serius , Radit buru2 masuk dan menyalakan mobilnya .


Setelah sampai dirumah sakit Sari langsung mendapatkan penanganan khusus , karena rumah sakit yang dipilih Rain bukan yang biasa tapi yang terbaik dikota itu.

__ADS_1


Bang Jamal dan Istri semakin dilanda kecemasan , bukan hanya kondisi sang anak tapi juga memikirkan biaya rumah sakitnya


" Pak , bagaimana ini , ini rumah sakit elite , tentu biayanya tambah mahal " bisik bu Sri ,istri bang Jamal


" Bapak juga memikirkan itu , utang yang kemarin saja belum kita bayar , kita uang darimana ubtuk membayar rumah sakit ini ?, jangankan obatnya kamarnya saja sudah buat bapak pusing " ucap bang Jamal superduper galau ,


Sang istri menghela nafas berat " sabar ya pak , semoga diberi jalan keluar secepatnya " ucap bu Sri sambil mengusap2 pundak sang Suami


Rain yang baru selesai dari ruangan dokter Febri langsung bergabung dengan rombongan tadi , senyumnya mengembang


" Bang , kondisi Sari tidak terlalu mengkhawatirkan , dia hanya butuh istirahat beberapa hari disini "


" Beberapa hari .. satu hari saja sudah jutaan apalagi beberapa hari " guman bang Jamal dalam hati


Rain dapat membaca apa yang dipikirkan oleh orang tua Sari tersebut , " Jangan khawatir soal biaya , bang.. saya yang akan membayar rumah sakitnya " ucap Rain sambil mengulas senyum


" Tapi neng ..kami sudah terlalu banyak merepotkan neng , biar saya usahakan cari pinjaman " sahut bang Jamal yang tak enak hati


" Gak papa bang , ogh ya ini untuk melunasi utang abang yang kemarin , mohon segera dibayar , biar bunganya gak semakin tinggi " ucap Rain menyerahkan amplop coklat yang berisi uang 10juta , yang ia ambil ketika ia hendak berangkat tadi


Bang Jamal langsung bersimpuh dikaki Rain saking terharunya , tangisnya pecah tanpa bisa ia tahan lagi , Rain segera menarik tangan bang Jamal agar segera berdiri " bang .. jangan seperti ini.. saya mohon berdirilah " pinta Rain ketika bang Jamal enggan untuk bangkit


" Saya bukan Tuhan , jadi tidak perlu bang Jamal bersimpuh , ayo berdiri " paksa Rain , dengan berat hati bang Jamal berdiri dan langsung dipeluk oleh sang istri , merekapun menangis tersedu , sementara Radit menghampiri Rain dan mengenggam tangannya erat


" Sudah malam , ayo pulang " ajak Radit pada Rain


" Iya.. sebentar lagi " jawab Rain sambil menyeka airmatanya sebelum benar2 jatuh


" Jangan nangis , jelek tau " goda Radit sambil tersenyum


Rain diam tak bergeming , entah apa yang dipikirkannya lagi ,


Rain ; hayo mikirin siapa ?


Author ; keepoo..


Author ; capek ya rehat sana !


Rain ; capek hati


Author ; lha...


Rain ; Cinta dalam diam itu , capek ya..?


Author ; baru tau kalau diam saja bisa bikin capek , apalagi aktifitas ,


Rain ; gak nyambung


Author ; cari tali dulu , baru disambung


Rain ; semakin gak jelas


Author ; mau dijelaskan ?


Rain ; enggak !


Author ; sekarang siapa yang gak jelas ?


Rain ; iih ... nyebelin


Author ; lagi kangen ya...


Rain ; kepoo..

__ADS_1


Author ; sabar ya nanti juga ketemu sama Kahfi


Rain ; nanti itu ...kapan ?


Rindu itu berat , tau !


Author ; kalau berat ya ditaruh , gitu aja kok repot


Rain ; kok bisa sich thor , kamu se santuy ini ?


Author ; maksudnya...


Rain ; ya buruan lah , jangan lama2 update nya


Author ; gak lagi lomba , ngapain buru2 ,


Rain ; banyak yang nungguin tuch , rebahan mlulu ,


Author ; rehat sayank


Rain ; hhmm


Author ; udah gak sabar ?


Rain ; gak sabar pengen ketemu sama Kahfi


Author ; heemm... dasar bucin


Rain ; penyemangat , moodbooster💞 aku tuch


Author ; haalah ... lebay


Rain ; biarin , weeekk , udah lanjut lagi


Author ; asiiaap Rain yang cantiik... tapi.. bohong


😄😄


Balik ke cerita lagi ya... ☺☺


" Rain ... mikirin apa lagi ? " tanya Radit , membuyarkan lamunan Rain


" Eh .. enggak mikirin siapa2 kok " ucap Rain tersipu malu


" Aku tau kamu lagi mikirin siapa , bibirmu mugkin bisa bohong , tapi tidak dengan sorotan mata kamu Rain , kamu sudah mencintainya dan hanya namanya yang ada dihatimu , bukan aku lagi " guman Radit


" Maafin aku ya " ucap Radit ada rasa penyesalan


" Maaf untuk apa ? "


" Pokoknya maaf untuk semua2nya "


" Sama gak jelasnya dengan Author yang nulis cerita ini ? "


" Memang kamu mengenalnya ? "


" Tau agh... ayo anter aku pulang " pintanya


" Lha chantikku gimana ? , baru ingat kalau tadi ditinggalin gitu aja "


" Tenang .. aman kok "


" Makasih ya , Dit .. kamu memang the best "

__ADS_1


" Sama2 "


Setelah berpamitan mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit , karena kecapekan Rain pun tertidur di mobil , Radit tersenyum memandangi cewek yang ada disamping nya , yang sudah mengoyak2 hati dan pikirannya beberapa tahun ini , tapi sepertinya sudah terlambat karena Rain telah menambatkan hati nya pada orang lain , dan dia sendiri tidak pernah tau apakah cinta itu bisa diraihnya atau membiarkannya tanpa ujung dan kepastian


__ADS_2