
part 27
Sebelum jam 07.00 malam , Rain sudah bersiap2 , ia memakai celana jeans selutut , jaket hoodie warna hitam , tidak lupa topi dan masker , setelah pamit pada bik Atun Rain melajukan motornya , dia berhenti sejenak disalah satu pusat perbelanjaaan , dan tak berselang lama Rain pun kembali melajukan motornya menuju tempat yang sudah ia janjikan dengan bang Jamal ,
" Sudah lama .. nunggu bang ? " sapanya ketika sampai
" Barusan datang kok neng " jawabnya sambil menundukkan kepalanya
"Maafkan saya neng , saya terpaksa melakukannya, Sari masuk rumah sakit lagi sudah 2pekan ini neng , dan kami kehabisan biaya" ucapnya sedih
" Sari jangan dijadikan alasan bang , bukankah bang Jamal punya nomer hp saya , mengapa tidak menghubungi saya ? " jawab Rain sambil memandang bang Jamal lekat
" Malu ngrepotin neng terus "
" Lalu abang malak orang , ngrampas , ngrampok , jambret tidak malu ? " Bang Jamal semakin tertunduk , butir2 airmatanya mulai jatuh satu per satu , Rain berusaha menahan airmata yang hendak keluar dengan mengalihkan pandangannya ,
" Sekarang kita ke rumah sakit , bang ? , saya mau melihat Sari " ucapnya tegas
" Sari ada dirumah neng , terpaksa saya membawanya pulang , agar biaya tidak semakin bengkak " ucap bang Jamal sambil menghapus airmatanya
Rain menatap tajam ke arah bang Jamal , ia melihat kesedihan yang luar biasa yang berusaha bang Jamal tahan , " Ya sudah , ayo ke rumah abang ? " ajaknya
" Rumah saya jelek non , kasihan non kalau kesana banyak nyamuk , tempatnya juga kotor " Mendengar ucapan bang Jamal , Rain segera membalikkan tubuhnya , dengan spontan ia menarik kerah baju bang Jamal dengan satu tangan dan satu tangannya lagi mengepal hendak mendaratkan satu pukulan persis dimuka bang Jamal
" Pukul non... pukul , bunuh saja sekalian , manusia seperti saya tidak layak untuk hidup , setidaknya kalau saya mati , saya tidak melihat Sari tersiksa lagi , ayoo non pukul ... pukul " ucap bang Jamal sambil memegang tangan Rain agar mau memukuli dirinya , Rain mendorong keras tubuh bang Jamal hingga jatuh tersungkur ditanah
" Abang terlalu banyak alasan , drama apa lagi yang sedang abang perankan , heebaat... jangan2 selama ini abang sudah menipu saya " ucap Rain sambil tersenyum masam
" Saya kalau sama neng gak pernah bohong , saya jujur , saya memang jahat , saya memang bangsat , saya memang manusia hina , tapi ... "
" Tapi apa... katakan bang , abang judi , abang mabuk lagi ? , gak papa terusin aja , tapi jangan harap saya mau peduli lagi ... NO " teriaknya
Bang Jamal menarik tangan Rain , lalu mengandengnya , mereka berdua menyusuri jalan setapak yang gelap , Rain menyalakan lampu ponselnya , ia pun lebih banyak diam dan hanya langkah kaki bang Jamal , akhirnya setelah lama berjalan , mereka pun sampai disebuah rumah kecil ditepian sungai .
Tanpa mengucapkan salam Bang Jamal dan Rain masuk ke dalam rumah tersebut , begitu masuk Rain terperanjat dengan pemandangan yang ada didepannya , Sari terbaring lemah diatas tikar , sementara sang ibu duduk disampingnya sambil mengipasi tubuh sang anak dengan tutup toples .
Pelan2 Rain berjalan mendekati Sari , ada rasa sesak menyelimuti dadanya , hatinya sungguh terasa teriris2 , bahkan airmatanya jatuh tanpa ia sadari
"Neng , tolongin Sari .. Sarii sudah gak kuat lagi " Eluhnya pelan dan hampir tak terdengar karena tubuhnya sangat lemah
" Lihat non.. lihat.. saya ini seorang bapak yang tidak berguna , anak sakit sampai seperti ini , saya tidak bisa melakukan apapun , lalu untuk apa saya hidup neng , untuk apa ? bukankah seharusnya saya yang sakit , yang sekarat , karena saya yang banyak dosa bukan Sari " Rain hanya diam sambil terus menatap Sari
" Kita ke rumah sakit sekarang " ucap Rain , Sari tersenyum mendengar ucapan Rain , anak kecil yang berusia 7 tahunan itu langsung bangun dan memeluk Rain erat , " terimakasih banyak , neng " ucapnya sambil terisak , Rain hanya mengangguk pelan
" Ayo bang , tunggu apa lagi ! " bentaknya
" Tapi .. neng " bang Jamal masih ragu
" Tapi apalagi... " Rain yang tidak sabar , segera merengkuh tubuh Sari , tapi sang ibu menahannya
" Jangan neng , biar bapak saja , ayoo pak , cepat " titah sang istri
Dengan wajah gusar bercampur bingung dan entah apalagi yang berkecambuk dikepala bang Jamal , ia segera mengangkat tubuh sang putri , sementara Rain tengah sibuk dengan ponselnya , tak berselang lama Rain dan ibunya Sari mengikuti bang Jamal keluar dari gang menuju jalan besar .
Dan disana sudah ada Radit yang menunggu dengan wajah yang penuh kekhawatiran
Begitu melihat Rain dan rombongan Radit buru2 membuka pintu mobil bagian tengah.
" Mengapa kesini gak bilang2 " bisik Radit pada Rain
" Dibahas nanti , sekarang buruan ke rumah sakit ..kasihan Sari " jawab Rain dengan mimik serius , Radit buru2 masuk dan menyalakan mobilnya .
Setelah sampai dirumah sakit Sari langsung mendapatkan penanganan khusus , karena rumah sakit yang dipilih Rain bukan yang biasa tapi yang terbaik dikota itu.
__ADS_1
Bang Jamal dan Istri semakin dilanda kecemasan , bukan hanya kondisi sang anak tapi juga memikirkan biaya rumah sakitnya
" Pak , bagaimana ini , ini rumah sakit elite , tentu biayanya tambah mahal " bisik bu Sri ,istri bang Jamal
" Bapak juga memikirkan itu , utang yang kemarin saja belum kita bayar , kita uang darimana ubtuk membayar rumah sakit ini ?, jangankan obatnya kamarnya saja sudah buat bapak pusing " ucap bang Jamal superduper galau ,
Sang istri menghela nafas berat " sabar ya pak , semoga diberi jalan keluar secepatnya " ucap bu Sri sambil mengusap2 pundak sang Suami
Rain yang baru selesai dari ruangan dokter Febri langsung bergabung dengan rombongan tadi , senyumnya mengembang
" Bang , kondisi Sari tidak terlalu mengkhawatirkan , dia hanya butuh istirahat beberapa hari disini "
" Beberapa hari .. satu hari saja sudah jutaan apalagi beberapa hari " guman bang Jamal dalam hati
Rain dapat membaca apa yang dipikirkan oleh orang tua Sari tersebut , " Jangan khawatir soal biaya , bang.. saya yang akan membayar rumah sakitnya " ucap Rain sambil mengulas senyum
" Tapi neng ..kami sudah terlalu banyak merepotkan neng , biar saya usahakan cari pinjaman " sahut bang Jamal yang tak enak hati
" Gak papa bang , ogh ya ini untuk melunasi utang abang yang kemarin , mohon segera dibayar , biar bunganya gak semakin tinggi " ucap Rain menyerahkan amplop coklat yang berisi uang 10juta , yang ia ambil ketika ia hendak berangkat tadi
Bang Jamal langsung bersimpuh dikaki Rain saking terharunya , tangisnya pecah tanpa bisa ia tahan lagi , Rain segera menarik tangan bang Jamal agar segera berdiri " bang .. jangan seperti ini.. saya mohon berdirilah " pinta Rain ketika bang Jamal enggan untuk bangkit
" Saya bukan Tuhan , jadi tidak perlu bang Jamal bersimpuh , ayo berdiri " paksa Rain , dengan berat hati bang Jamal berdiri dan langsung dipeluk oleh sang istri , merekapun menangis tersedu , sementara Radit menghampiri Rain dan mengenggam tangannya erat
" Sudah malam , ayo pulang " ajak Radit pada Rain
" Iya.. sebentar lagi " jawab Rain sambil menyeka airmatanya sebelum benar2 jatuh
" Jangan nangis , jelek tau " goda Radit sambil tersenyum
Rain diam tak bergeming , entah apa yang dipikirkannya lagi ,
Rain ; hayo mikirin siapa ?
Author ; keepoo..
Author ; capek ya rehat sana !
Rain ; capek hati
Author ; lha...
Rain ; Cinta dalam diam itu , capek ya..?
Author ; baru tau kalau diam saja bisa bikin capek , apalagi aktifitas ,
Rain ; gak nyambung
Author ; cari tali dulu , baru disambung
Rain ; semakin gak jelas
Author ; mau dijelaskan ?
Rain ; enggak !
Author ; sekarang siapa yang gak jelas ?
Rain ; iih ... nyebelin
Author ; lagi kangen ya...
Rain ; kepoo..
__ADS_1
Author ; sabar ya nanti juga ketemu sama Kahfi
Rain ; nanti itu ...kapan ?
Rindu itu berat , tau !
Author ; kalau berat ya ditaruh , gitu aja kok repot
Rain ; kok bisa sich thor , kamu se santuy ini ?
Author ; maksudnya...
Rain ; ya buruan lah , jangan lama2 update nya
Author ; gak lagi lomba , ngapain buru2 ,
Rain ; banyak yang nungguin tuch , rebahan mlulu ,
Author ; rehat sayank
Rain ; hhmm
Author ; udah gak sabar ?
Rain ; gak sabar pengen ketemu sama Kahfi
Author ; heemm... dasar bucin
Rain ; penyemangat , moodbooster💞 aku tuch
Author ; haalah ... lebay
Rain ; biarin , weeekk , udah lanjut lagi
Author ; asiiaap Rain yang cantiik... tapi.. bohong
😄😄
Balik ke cerita lagi ya... ☺☺
" Rain ... mikirin apa lagi ? " tanya Radit , membuyarkan lamunan Rain
" Eh .. enggak mikirin siapa2 kok " ucap Rain tersipu malu
" Aku tau kamu lagi mikirin siapa , bibirmu mugkin bisa bohong , tapi tidak dengan sorotan mata kamu Rain , kamu sudah mencintainya dan hanya namanya yang ada dihatimu , bukan aku lagi " guman Radit
" Maafin aku ya " ucap Radit ada rasa penyesalan
" Maaf untuk apa ? "
" Pokoknya maaf untuk semua2nya "
" Sama gak jelasnya dengan Author yang nulis cerita ini ? "
" Memang kamu mengenalnya ? "
" Tau agh... ayo anter aku pulang " pintanya
" Lha chantikku gimana ? , baru ingat kalau tadi ditinggalin gitu aja "
" Tenang .. aman kok "
" Makasih ya , Dit .. kamu memang the best "
__ADS_1
" Sama2 "
Setelah berpamitan mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit , karena kecapekan Rain pun tertidur di mobil , Radit tersenyum memandangi cewek yang ada disamping nya , yang sudah mengoyak2 hati dan pikirannya beberapa tahun ini , tapi sepertinya sudah terlambat karena Rain telah menambatkan hati nya pada orang lain , dan dia sendiri tidak pernah tau apakah cinta itu bisa diraihnya atau membiarkannya tanpa ujung dan kepastian