
Part 35
Beralih ke Kahfi
Sepulang dari tasik Kahfi merasa tidak enak badan , suhu tubuhnya naik , ia juga dilanda flu berat , sampai siang bolong ia betah tidak keluar dari sarangnya ( maksudnya kamar , ya ππ)
Sang umi pun menghampiri dan membujuk untuk ke dokter ,
" Bang , ke dokter yuukk " ajak umi
" Abang gak papa umi , cuma demam dan flu aja , masa harus ke dokter .." elaknya kalem
" Lha ... Emang cuma berbaring gini bisa sembuh gitu , badan kamu anget loh , ( umi memegang kening Kahfi ) minum obat gak mau , ke dokter gak mau , terus maunya apa..? ayooolah bang " umi mulai ngomel melihat Kahfi enggan untuk menuruti keinginannya
" Iyaaa .. nanti abang akan minum obat " ucap Kahfi sembari membungkus tubuhnya dengan selimut , badannya memang panas tapi yang dirasakan olehnya hawa dingin menyelimuti tubuhnya
" Ini bocah dari bayi sampai bujang susah kalau diajak ke dokter , nurut napa sich Fie .." umi mulai kesal
Kahfi diam , ia masih betah membungkus tubuhnya dengan selimut , untung ya pakai selimut , kalau pakai daun jadi apa ya...., wkwkwk... ππ
" Jangan mulai dech Thor , orang lagi sakit malah dibully " gerutunya
" Siapa yang mbully..ganteng... egh ... maaf sengaja .. " πππ,
" Cowok ya pasti ganteng lah ... gak mungkin kan cantiik " omelnya
" Naahhh ... itu tau "
" Udah balik ke cerita gih , akupun penasaran dengan kelanjutannya "
" Kepooooo " π€π€
Balik ke cerita ya.....
Tak berselang lama Unur masuk dan duduk tepat disamping umi , bukannya simpati , Unur malah sengaja mengodanya
" Makanya jangan sok2an , pakai hujan2 lagi... jadi sakit kan , jangan niru Rain , dia kan pawangnya hujan , hahaha " godanya
" Ogh jadi kemarin habis hujan..hujan..? " sahut Umi
" Ehhh... enggak kok mi...yang benar kehujanan bukan maun hujan " elak Kahfi
" Terus Rain itu siapa , Dik " umi menatap Unur penuh selidik
" Rain itu... " Unur belum selesai berucap sudah disahut oleh Kahfi
" cewek yang ditaksir adik , mi " timpal Kahfi cepat
Umi memandang kedua anak laki2nya bergantian , Kahfi hanya diam , sementara Unur tampak senyum2 penuh arti , " Ayoo jawab siapa Rain .., abang... adik.., jangan2 kalian ke Tasik kemarin janjian dengan cewek ya , awas umi aduin ke abi "
" Enggak kok mi , kita gak janjian dengan siapapun , murni mengecek peternakan & perkebunan " Kahfi meyakinkan
" Iyaa , bener kok mi " sahut Unur membela Kahfi
" Awas aja kalau bohong , nanti umi cari tuch cewek terus umi nikahkan dengan salah satu dari kalian , paham ...? " gertaknya
" Sama Abang aja umi.. πππ ... siapa tau kalau menikah jadi sembuh , hehehe ..." ledek Unur dalam candanya
Kahfi menyikut lengan Unur keras hingga si empu meringis kesakitan
" Aduuh ... sakit , bang " ucap Unur sambil mengusap2 pundaknya
Umi menggeleng2kan kepalanya kemudian keluar dari kamar Kahfi
" Btw... darimana kamu tau kalau Rain suka hujan ? " tanya Kahfi sambil membulatkan matanya
" Hahaha... ketahuan ya , diam... diam uhuy... " ledeknya
" Rain itu artinya hujan , jadi wajar donk kalau aku nebak dia suka hujan , emang ada yang salah ? , jangan buru2 negatif thinking , ente gak lagi jeles kan ..? " tanyanya penasaran
" Enggaaak !! ngapain jeles ,
ogh aku tau sekarang ... makanya dari kemarin aku minta kontaknya dia gak ente kasih , diam2 ente suka sama dia ? " solotnya
__ADS_1
" Hahaha ... manusiawi lah dia cewek aku cowok , wajar lah kalau aku suka , yang gak wajar itu cowok suka dengan cowok , tapi aku suka lihat wajah ente... kayak gak rela gitu ane dekat dengan Rain ? " godanya , ia berjalan sedikit menjauh ,
Kahfi melempar gulingnya tepat ke badan Unur , dengan mudah Unur menangkap kemudian memeluk erat guling tersebut sambil tersenyum penuh kemenangan
" Sudah diminum obatnya , bang " Teriak Umi ketika masuk ke kamar Kahfi sambil membawakan makanan untuknya
" Sudah umi , " ucapnya bohong
" Bohong umi ... obatnya belum diminum , lihat air putihnya masih utuh " sahut Unur
Umi berjalan mendekat ke arah Kahfi ... lalu menjewer telinga sang anak karena geregetan ,
" Bener... bener nich anak ..... , seneng banget lihat uminya marah , bohong sudah jadi hobby sekarang ya .. "
" Aampuuun umi... sakit telinga abang " rintihnya
" Hayoo pilih mana , ke dokter atau menikah hari ini juga !! " teriak umi
" Tidak ada pilihan lainkah umi ? , misalnya banyak istirahat kek , makan yang banyak , dua2nya bikin abang makin pusing umi " tolak Kahfi melas
" Kelamaan umi , biar adik gendong " ucap Unur sambil beranjak mendekat ke tubuh Kahfi
" Eehhh... tunggu !! " Kahfi melompat dari ranjang nya , dengan wajah tegang ia menatap wajah sang adik dan ibunya bergantian .
Umi mengambil ponsel dan berpura2 menelpon seseorang untuk mengelabuhi Kahfi
" Umi telpon siapa ? " tanya Kahfi
Sang ibu tidak mempedulikan pertanyaan Kahfi ,
" Rere sayang... bisa kesini sebentar nak , umi butuh bantuan kamu , iyaa... umi tunggu ya cinta " ucap umi bohong sambil melirik ke arah Kahfi yang mulai panik
Dengan wajah pasrah Kahfi berjalan menghampiri uminya , lalu memeluknya erat , butir2 airmatanya mulai jatuh membasahi pipi lalu turun ke baju sang ibu .
" Maafkan Kahfi , umi...baiklah Kita ke dokter sekarang , tapi jangan paksa untuk menikah ya , Kahfi belum siap " ucapnya memelas
Mendengar penuturan sang putra , umi tidak kuasa menahan tangisnya , ia pun memeluk balik tubuh Kahfi erat , butiran kristal bening indah menghiasi pipi yang mulai berkerut meski begitu masih terlihat cantik " Maafkan umi sayang , umi tidak bermaksud memaksamu , umi ingin melihatmu bahagia seperti kakak2mu , " bisiknya lirik
" Rain... " panggilnya pelan , kemudian tubuh Kahfi ambruk , jatuh tak sadarkan diri
" Kahfiiii " teriak umi histeris , Unur pun kaget dan segera berlari menghampirinya
" Bang ... bangun bang , jangan becanda napa ? " ucap Unur sambil mengoyang2kan tubuh Kahfi yang lunglai tak berdaya
" Fi... bangun sayang .. maafkan umi ...maafkan...umi nak ... " ucap umi sedih , ia menepuk2 pipi sang anak yang mulai agak tembem ,
" Kita bawa ke rumah sakit saya ya umi.. " Unur berlari keluar untuk menyiapkan mobil dan memanggil salah satu asisten laki2 untuk membantu membopong Kahfi dan memasukkan ke dalam mobil , ia pun segera melajukan mobilnya kencang menuju rumah sakit terdekat , umi masih sembab dipegangnya tangan sang anak , kemudian diciuminya , sampai di rumah sakit Kahfi belum sadar juga .
Ada rasa khawatir menyelimuti hati Umi dan Unur , karena baru kali pertama Kahfi sakit sampai pingsan begitu lama
" Mohon tunggu diluar ya bu " pinta salah satu suster , kemudian Unur mengandeng tangan umi san mengajaknya duduk tak jauh dari UGD tempat Kahfi diperiksa.
" Ini salah umi , dik... salah umi , " Umi terisak dipelukan sang keponakan
" Ini bukan salah umi , abang hanya kecapekan , umi tidak perlu khawatir " ucap Unur menenangkan
" Andai tadi umi tidak memaksanya , dia tidak akan pingsan " Hii hiii hiii umi menangis semakin kencang
" Tidak umi... apa yang umi lakukan sudah benar "
" Iyaaa ... tapi abang kamu itu takut sama jarum suntik dan dia juga belum siap menikah , tapi umi memaksanya "
Umur tersenyum kecut , " memanglah abangku satu ini aneh tapi nyata , kadang nyebelin , kadang nganggenin , kalau sakit gini kasihan juga lihatnya , ogh abangku sayang abangku malang " gumannya
Tak berselang lama Dokterpun keluar dan menghampiri keduanya
" Bagaimana keadaan putra saya , dok ? " tanya umi panik
" Putra ibu harus rawat inap karena kondisinya sangat lemah , untuk hasil lab akan keluar besok pagi , ibu bisa menjenguk putra ibu setelah dipindah ke ruang inap , saya permisi dulu bu " pamit sang dokter
" Terimakasih banyak dok , " ucap umi dan Unur bersamaan
" Sama2 " jawab dokter sambil tersenyum
__ADS_1
Akhirnya Kahfi sudah dipindahkan ke ruang inap persis berseberangan dengan ruangan tempat Sari dirawat
" Tuch kan memang sengaja biar Kahfi dan Rain bisa bertemu , maksudnya gitu kan , Thor ? " tanya Cenna
" Ikuti saja alurnya , jangan asal nebak , hehehe kamu gak akan bisa nebak isi kepalaku " jawab Author
" Kapan part ku Thor , aku juga ingin bertemu dengan Kahfi , jangan Rain mlulu lah " protes Cenna
" Ya sabaar ...memang kamu aja yang kangen ? aku juga looh , wkwkwk " candanya
" Haaaaaa .... kamu juga suka sama Kahfi , Thor ? "
" Menurut kamu ? "
" Iyaaaa begitu laah , pasti ada udang dibalik batu , egh dibalik rempeyek , "
" Tebakan kamu memang tidak salah tapi sedikit kurang tepat , aku sedang tidak menyukai siapapun , aku sedang mengosongkan hati untuk menjaga "
" Maksudnya ? "
" Sudah ya.. next time kamu akan tau kok , balik ke cerita ya ... "
" Okey... mangat ya thor "
" Trim's Cenna , eemuuachh πππ"
" Emmuaach , πππ too "
Kahfi sudah sadar dari pingsannya , ia mengeliat pelan , tatapannya menyapu segala sudut ruangan
" Dimana ini " pikirnya
" Aduuh tanganku kenapa , kok sakit gini , " ia menoleh sekilas ke tangannya yang telah terpasang selang infus
" Yaa... ngrasain juga masuk rumah sakit dan diinfus " Kahfi berkeluh
" Abang mau minum " tawar umi
Kahfi mengangguk pelan , umi mengambil air mineral kemasan dalam botol kemudian memberikan pada Kahfi , setelah meneguk beberapa tegukan , ia menaruh disebelah bantalnya
" Taruh sini saja umi , biar abang gampang ngambilnya " ucapkan sungkan karena harus merepotkan sang ibu
" Apa yang terjadi umi , mengapa abang sampai kesini ? " tanyanya kemudian
" Abang tadi pingsan lama " jawab umi
" Maafkan abang ya umi , sudah merepotkan umi "
" Umi yang minta maaf nak , karena umi kamu jadi seperti ini ? "
" Umi tidak perlu meminta maaf , semua ini salah abang , yang tidak pernah mau menuruti perkataan umi " ucapnya sambil menundukkan kepalanya
" Umi.. makan dulu , sejak tadi umi belum makan apa2 ' Ucap Unur begitu memasuki ruang inap Kahfi
" Alhamdulillah , abang sudah sadar , abang mau makan juga ? " tanyanya
Kahfi menggeleng pelan , " Makasih ya dik , maaf banget sudah merepotkan "
" Sudah biasa direpotkan " candanya
" Yang penting abang cepat sembuh , kasihan kan fans2 abang .. pasti nyariin , "
" Ogh iya .. besok ada jadwal abang "
" Untuk sementara abang tidak ada jadwal , sembuh dulu baru mikirin kajian "
" Tapi umi ... "
" Tidak ada tapi2 an , istirahat dulu , jadwal bisa diwakilkan ke Abi atau adik , "
" Asiaap umi ! " jawab Unur sambil hormat mengangkat tangannya ke pelipis
" Baiklah umi " ucap Kahfi pelan , sang umi pun tersenyum kemudian mencium kening sang putra dengan penuh kasih sayang
__ADS_1