HIJRAH CINTA AFIFAH

HIJRAH CINTA AFIFAH
Bertemu Umi


__ADS_3

part 30


Minggu pagi Rain bangun lebih awal , setelah selesai beberes ia menuruni anak tangga , dengan langkah pasti ia berjalan menuju ke garasi rumahnya , dan seperti biasa dia acuh ke semua orang yang ia jumpai .


Melihat anak gadisnya sudah rapi sang papa pun bertanya " Mau kemana sayang ? "


Dengan wajah flat Rain menatap sang papa


" jogging " jawabnya singkat


" Papa ikut ya " pintanya sambil tersenyum


Rain berlalu meninggalkan sang papa tanpa sepatah katapun , sambil berlari _ lari keci ia mengitari gang di komplek rumahnya .


" Mana sich Sheila dan Radit , kenapa lama sekali ... gak tepat janji , molor kayak permen karet yang sudah habis manisnya " umpatnya dalam hati


" Mungkin lebih baik nglanjutin jogging aah ... daripada diam disini , nanti dikira cewek apaan " gerutunya kemudian .


Ia pun kembali melanjutkan larinya , tak terasa sampai ditaman kompleks , setelah meneguk air kemasan yang dibawanya , Rain berdiri dan melakukan gerakan2 ringan untuk meregangkan otot2 tubuhnya .


Tiba2 ada yang menghampiri dan langsung memeluknya erat , Rain kaget dan entah mengapa iapun nyaman dalam pelukan ibu itu dan enggan untuk melepaskannya ,


" Rere... akhirnya umi bertemu denganmu lagi sayang " ucap ibu itu tanpa melepaskan pelukannya


" Rere " batinnya , " mungkin ibu ini sangat merindukan putrinya , kasihan sekali " gumannya


Setelah sekian menit ibu itupun melepaskan pelukannya , kemudian mengandeng tangan Rain mengajaknya duduk , Rain menatap wanita yang ada dihadapannya begitu juga sebaliknya , Rain mencoba menerka_ nerka siapakah gerangan ibu ini , seperti pernah berjumpa tapi dimana ? pikiran Rain terus berkecambuk , sang ibupun tersenyum , " Kamu lupa dengan umi ? " tanyanya kemudian


Rain masih berusaha mengingat _ ingat " Ini umi sayang , masa lupa " ucap ibu tadi


" Yang pernah kamu tolong waktu umi dijambret beberapa waktu lalu " umi meyakinkan


Rain tersenyum lalu berkata " Maaf saya lupa " jawabnya malu2


" Masih muda sudah pelupa " goda umi sambil tersenyum


" Kamu sendirian ? , mana teman kamu .. Lala.. atau siapa sich , umi juga lupa " ucapnya sambil menepuk_ nepuk keningnya


" Ini orang kok sembarangan nganti2 nama orang Rere , Lala , tapi kok aku nyaman ya duduk bersamanya " gumannya dalam hati , tapi bibirnya menyunggingkan senyuman tipis


" Tuch kan malah melamun , lagi mikirin apa ? " tanya umi penasaran


" Eh... enggak ada apa2 kok umi , ogh ya nama saya Rain umi bukan Rere , terus teman Rain yang waktu itu namanya Sheila , bukan Lala " ucap Rain menjelaskan


" Ogh gitu , tapi bolehkah umi memanggil kamu dengan Rere ? " tanyanya penuh harap


Rain tersenyum kemudian mengangguk pelan


" Umi sendiri sedang apa disini ? " tanya nya

__ADS_1


" Umi tadi belanja terus noleh kesini , kok seperti Rere ya .. umi samperin ternyata memang kamu sayang , umi kangen sama kamu " jawab umi jujur


Rain menatap umi lekat , " Umi ... belum punya anak ? .. maaf " tanya Rain pelan


" Umi punya anak 3 cowok semua , sejak bertemu denganmu kok umi langsung sreg , mau jadiin mantu , kebetulan anak umi yang bungsu masih single " jawabnya sambil tertawa


" Mantuuu " ucap Rain setengah berteriak karena kaget


" Rain masih sekolah umi , masih ingin kuliah , belum memikirkan menikah , masih jauh " elaknya penuh canda


" Memang tadi umi menyuruh kamu menikah hari ini , tidak kan ? GR ..." dibalas dengan candaan oleh umi


" Agh.. umi bisa becanda juga " ucap Rain malu , hingga wajahnya merah merona


" Ayoo... mampir ke rumah umi , biar bisa kenalan dengan anak umi yang paling ganteng " guraunya


Mendengar ucapan umi , Rain semakin salah tingkah , iapun mencari_ cari alasan untuk menghindar


" Lain waktu ya umi , Rain sudah ada janji dengan teman " jawabnya sedikit kaku


" Kamu sudah punya pacar ? "


Rain mengangguk pelan , sontak wajah umi berubah , kekecewaan tampak menghiasi wajahnya yang teduh , melihat itu Rain merasa tidak enak hati


" Umi , kenapa ? , umi baik2 saja kan ? " tanyanya


" Rumah umi yang mana ? , Rain kapan2 Rain ingin mencicipi masakan umi " alibinya


" Beneran Rain mau main ke rumah umi ..? " sang umi tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya


" Rumah umi ada diujung gang sebelah , yang ada mushollanya , beneran main ya .. umi tunggu nich " ucap umi penuh harap


" Hehehe ... iya umi , kalau ada waktu longgar ya " ucap Rain cengegesan


" Loh kok gitu ... kalau gak pasti waktunya , bagaimana bisa umi nyiapin masakannya sayang , umi boleh minta nomer ponsel kamu ? " pintanya


" Eh... gimana ya... boleh sich , cuma ... "


" Cuma .. apa..? , takut nomernya umi kasihkan ke anak umi "


" Lha itu umi tau.. " jawabnya sambil tersenyum


" Umi janji dech .. gak akan kasih ke siapapun , " ucapnya sambil menyodorkan jari kelingkingnya sebagai tanda promise keeper ( penjaga janji ) 😊


" Makasih ya umi.. , mana ponsel umi " pintanya


" Lha ..umi lupa gak bawa sayang , maklum sudah tua jadi agak pikun , kamu catat aja nomer umi ya "


Setelah memberikan nomer ponselnya , umi pun pamit untuk melanjutkan aktifitasnya , Rain masih duduk santai ditaman , sambil memainkan ponselnya

__ADS_1


Tak lama berselang Sheila dan Radit datang menghampirinya


" Ooeyyy... dicariin , malah asyik disini ? " teriak Sheila


" Lha ... kamu sendiri..janji jam berapa , datang jam berapa , dasar jam karet " umpatnya


" Nungguin Sheila tuch lama banget " sahut Radit


" Eh... kamu juga telat tadi , jangan nyalahin aku dong " Sheila sedikit geram


Tanpa banyak kata Rain beranjak meninggalkan 2 sahabatnya yang sedang berdebat ,


" Rain , tungguuuu ! " teriak Sheila sambil mengejar Rain


Radit berjalan santai mengikuti 2 wanita yang selalu membuatnya sebal , tapi kalau tidak ada keduanya ia juga kesepian


" Main tinggal aja " Sheila sewot


" Ngapain nungguin orang debat , gak guna banget " jawab Rain cepat


" La... tadi aku ketemu dengan umi " ucapnya datar


" Terus.. " jawab Sheila gak kalah datar


" Mau dijadiin mantu katanya " ucap Rain masih datar


" Whaaaat !! " pekik Sheila


Rain menghentikan sejenak langkahnya , kemudian berbalik arah , melotot tajam ke arah Sheila , Dan Sheila pun menatap tajam Rain ,


" Harus ya teriak2 " umpat Rain kesal


" Harus lah , kan spontan keluarnya jadi gak sempat ngerem " bantahnya


" Mbantah mlulu "


" Sapa yang mbantah , memang faktanya seperti itu , " bantah Sheila lagi


" Bikin sakit telinga tau , teriakanmu tadi terdengar sampai radius 10km "


" Jangan lebay... orang Radit yang disitu aja gak dengar "


" Kamu gak lihat Radit pake earphone " Rain masih kesal


" Hehehe... gak lihat " ucap Sheila sambil tersenyum


" Kalian ini kenapa sich , debat mlulu , gak capek apa " omel Radit ganti


" Enggaaaak " jawab Rain dan Sheila bersamaan ,

__ADS_1


__ADS_2