
Part 3
Keesokan harinya di ruangan bu Vera , terjadi perdebatan yang sangat panas antara papa dari Dhea dengan bu Vera dan Rain tentunya.
" Salah dia bu , seenaknya saja ngledekin orang , rasain tuch , untung cuma tamparan coba kalau tendangan kaki gue , nyahok loe " umpat Rain kasar
" Elo yang mulai nenek lampir ! " bentak Dhea
" Udah salah gak mau ngaku , malah orang lain elo jadikan kambing hitam , waras elo ! " umpat Rain lagi
" Pokoknya saya tidak terima putri saya dianiaya seperti ini , saya akan bawa masalah ini ke jalur hukum " ucap pak Reno papa Dhea keras sambil bertolak pinggang
" Bawa aja , siapa takut " jawab Rain santai
" Pak, maaf masalah ini bisa disekesaikan baik2, saya sebagai wali murid kelas Dhea, saya benar2 minta maaf dan menyayangkan kejadian ini " ucap bu Vera sedih
" Tidak bisa ! , andai anak ibu yang diperlakukan seperti ini , apa ibu akan diam saja ? " tanya pak Reno penuh emosi
" Saya benar2 minta maaf pak " mohon bu Vera
" Apa ibu fikir luka di wajah anak saya bisa sembuh dengan kata maaf " hardik pak Reno
Tak berapa lama pak Ramdan papa dari Rain datang , dengan santai beliau duduk di sebelah bu Vera
" Bisakah kita lihat CCTVnya sekarang , " ucapnya kemudian
" Bi-bisa pak " jawab Bu Vera gugup
Semua memperhatikan rekaman CCTV , Pak Reno tertunduk malu , karena putrinya lah yang memancing keributan , sementara Pak Ramdan hanya tersenyum masam .
" Papa gak nyangka kamu seperti ini Dhea , papa kecewa dengan tingkah laku kamu , papa sekolahin kamu supaya pintar , bukan malah mengajak orang untuk berantem " ucap Pak Reno kecewa
" Tapi pa, Rain juga salah , dia sudah menampar Dhea " bantahnya
" Diam " bentak sang papa
" Pak Ramdan , Rain, saya benar2 minta maaf atas kelakuan putri saya " ucapnya penuh sesal
" Saya juga minta maaf pak Reno , tidak seharusnya putri saya main kasar juga " ucapnya
" Silahkan beri hukuman untuk putri saya bu Vera , " ucap pak Reno tegas
" Tapi pa, Dhea ... " Belum selesai berucap pak Reno sudah memotong perkataan Dhea
" Papa kecewa sama kamu Dhea " hardiknya
" Hukum juga putri saya bu Vera" pinta pak Ramdan
" Tapi pa, Rain gak salah , Rain terpaksa melakukannya , karena kesal dengan alien satu itu " ucapnya sambil menunjuk ke Dhea
__ADS_1
" Dasar nenek lampir , sembarangan aja nyebut gue alien " ucapnya lirih tapi masih terdengar oleh Rain
"Memang elo alien dari planet pluto " ledek Rain
" Sudah.. sudah.. kalian berdua saya skorsing 1 minggu ! " ucap bu Vera tegas juga
" Tapi bu ..." ucap Rain dan dhea bersamaan , lalu sama2 membuanguk muka
" Sekarang kalian berjabat tangan dan saling meminta maaf " titah bu Vera , Rain dan Dhea diam tak bergeming
" Ayo buruan " ucap bu Vera
Akhirnya Rain dan Dhea berjabat tangan tanpa saling memandang , mereka sama2 membuang muka.
Setelah masalah selesai Rain pulang bersama sang papa , tanpa ada obrolan sama sekali . Pak Ramdan hanya fokus pada laptop dipangkuannya, sementara Rain sibuk dengan ponselnya.
Sesampainya dirumah Rain langsung masuk kamar , ia merebahkan tubuhnya dengan kasar ke kasur , matanya nemandang langit2 kamar.
" Gue ngapain ya , seminggu gak sekolah ? , masa iya cuma diam dirumah saja , bisa berjamur nich " gumannya dalam hati
Tok.. tok.. tok , pintu kamar Rain diketuk dari luar,
" Siapa ?" teriaknya dari dalam
" Ini mama sayank , " jawab Mama Dhania
" Masuk ma, gak dikunci " teriaknya lagi
" Rain " panggil sang mama
" Hemm " jawab Rain tanpa menoleh ke mamanya
" Sayank , adakah sesuatu yang mengganjal dihati kamu , sini berbagi sama mama nak , " ucap mama Dhania lirih sambil mengusap2 kepala sang anak
" Tidak ada " jawab Rain ketus
" Apakah mama ada salah sama kamu sayank ? " tanya mama Dhania , airmatanya mulai mengalir
" Tumben mama tanya seperti itu " ucapnya masih ketus
" Apa yang membuat kamu jadi seperti ini sayank ? " tanyanya lagi
" Mama pikir aja sendiri " ucapnya sambil menarik selimut dan menutupi sekujur tubuhnya
" Mama harus ngomong yang seperti apa sich Rain, dengan cara halus gak bisa, kasar makin parah " ucap mama sambil terisak
" Sudahlah ma, Rain ngantuk mau tidur " jawabnya
" Rain , apa kamu gak sayank sama mama dan papa nak ? " tanya mama Dhania dengan deraian airmata yang semakin deras , Rain hanya diam tak bergeming , ia memejamkan matanya meski rasa kantuk tidak bersahabat dengannya .
__ADS_1
Ia menghela nafas panjang , ada sesak yang menyelimuti hatinya.
" Rain bangun , papa ingin bicara ! " titah sang papa yang tiba2 muncul
Dengan kasar Rain menyibakkan selimutnya, lalu duduk bersandar di headboard .
" Apa kamu masih ingat kalau diskorsing satu minggu lamanya , apakah selama seminggu kamu akan diam dirumah tanpa melakukan apapun? " tanya sang papa
Rain masih diam , mulutnya masih malas untuk bersuara
" Papa minta tolong boleh ? " tanya papa Ramdan lagi
Rain menoleh lalu menatap lekat sang papa
" Apa ? " jawabnya singkat
" Temani bik Atun pulang kampung , dan kamu akan tinggal disana selama satu minggu ke depan " ucap papa santai
" Haaahhh , apa Rain gak salah dengar pa "
" Tidak ! . anggap aja itu hukuman dari papa atas kejadian kemarin , "
" Enggak... enggak.. Rain gak mau " bantahnya
" Ya sudah kalau tidak mau , Papa akan menarik paksa fasilitas yang selama ini papa kasih buat kamu " ucapnya papa tegas
" Papa gak bisa seperti itu , semua ini sudah punya Rain , papa gak bisa seenaknya gitu dong" omelnya karena kesal
" Kenapa gak bisa ? , sekarang terserah kamu , pilih menemani bik Atun pulang kampung selama 1 minggu atau papa blokir fasilitas kamu selama 1 bulan " ancam sang papa
" Papa memang kejam , sama anak sendiri tega , papa jahat , Rain benci sama papa " umpatnya lagi sambil menghentakkan kakinya , kemudian berlari keluar , pintu kamarnya ditendang sangat keras
Braaakkk
Sang papa menghela nafas panjang , mama Dhania menabrakan tubuhnya pada sang suami , tangis yang ditahannya sedari tadi akhirnya tumpah tanpa bisa dibendung lagi.
" Sabar ya ma , " ucap papa Ramdan sambil mengelus2 pundak sang istri
" Sampai kapan anak kita akan seperti ini pa,? " ucapnya sambil terisak
" Ini ujian kita ma, kita harus bisa lebih sabar lagi, insyaallah Suatu saat nanti Rain akan berubah jadi anak yang baik " ucap papa Ramdan menenangkan hati istrinya
" Aamiin " jawab mama Dhania sembari menyeka airmatanya
Papa Ramdan menatap lekat wajah istrinya, diusapnya lembut pipi sang istri , dikecupnya mesra kening mama Dhania , kemudian memeluknya erat
" Kita hadapi semua ini bersama2 ya , ma " ucapnya kemudian , sang istri hanya mengangguk pelan lalu membalas pelukan suaminya
" Pa, tapi bagaimana jika Rain kabur ? "
__ADS_1
" pintu pagar sudah papa ganti paswordnya, mobil juga sudah papa kunci, ATMnya papa blokir , dia tidak akan bisa kemana2 sekarang , jadi tenanglah " ucap papa Ramdan , mama Dhania kembali mengangguk lalu memeluk suaminya lagi