
Part 4
Setelah membaca arsip pengeluaran Hotel RAIN , yang dikelola Bu Dessy , Pak Ramdan duduk dikursi kebesarannya dengan wajah lesu , ia memijat² pelipisnya sekedar mengurangi rasa pusing dikepalanya.
" Selamat siang , Pak... " sapa Ricco ketika memasuki ruangan big bosnya
" SIANG ...DUDUK " jawab Pak Ramdan singkat , Ricco pelan² melangkahkan kakinya dan duduk didepan Papa dari Rain tersebut , dan masih menundukkan kepalanya , ia hafal betul bagaimana sifat Pak Ramdan ketika sedang marah atau badmood , maka jangan heran jika Rain juga seperti itu ,
" BACA PROPOSAL ITU " titah Pak Ramdan sambil melemparkan map yang berisi lampiran kertas yang agak tebal , dengan sigap Ricco mengambil map tersebut , betapa kagetnya ia ketika melihat isinya , matanya membelalak tak percaya dengan apa yang sudah dilihatnya , ia membacanya sampai beberapa kali untuk memastikan bahwa itu benar .
" Terang aja pak bos ekspresinya seperti itu , Hotel RAIN tak sampai 2 minggu mengeluarkan dana hanpir 1M , buat apa ? , gak mungkin kalau bu Dessy korupsi , saya kenal betul beliau seperti apa , " guman Ricco dalam hati
" APA KESIMPULANMU " tanya Pak Ramdan tegas dengan mata tak berkedip
" Saya rasa ada kesalahan pada map ini , Pak " jawabnya pelan dan masih menundukkan kepalanya
" LANGKAH KAMU SELANJUTNYA " masih dengan mimik pedas dan tegas
" Kita panggil bu Dessy saja pak , biar beliau yang menjelaskan semuanya " Ricco mendongakkan kepalanya menatap wajah orang didepannya sekilas lalu menunduk lagi
" Lalu mengapa masih diam saja , CEPAT PANGGIL DESSY KEMARI " teriak Pak Ramdan
" Baa... baik pak " jawab Ricco terbata² , ia segera berdiri , menjauh dari tempat duduknya dan mulai menghubungi Bu Dessy
" Hallo Bu Dessy , selamat siang , bisa kesini sebentar ? " pinta Ricco
" Kebetulan saya sekarang otewe kesitu pak Ricco , insyaallah 15 menit lagi sampai " jawab Bu Dessy
" Ini orang feelingnya kuat banget , tepat sasaran , mungkin dia sudah punya firasat kalau ada masalah besar sedang menantinya " gumannya
15 menit kemudian Bu Dessy sudah duduk didepan pak Ramdan , dengan wajah tenang ia menjelaskan pokok dari permasalahan Hotel Rain yang dikelolanya .
" SEJAK KAPAN KAMU TAKUT DENGAN BOCAH KEMARIN SORE " hardik pak Ramdan
" Maaf , Pak " hanya itu kata yang sering bu Dessy ucapkan ketika emosi pak Ramdan naik
" Sudah sering saya ingatkan , Jangan terus²an memanjakan putri saya , Rain itu sudah besar bukan balita lagi , kalau sudah seperti ini , siapa yang bertanggung jawab , apa mau gaji kamu saya potong untuk mengembalikan uang hotel " teriak Pak Ramdan masih dalam mode marah
__ADS_1
" Rain... Rain... uang sebanyak itu untuk apa nak , dan sampai kapan kamu seperti ini , Allahu Robbi , astaghfirullah hal adzim... kuatkan hamba ya Robb " guman Pak Ramdan , yang kemudian membanting tubuhnya kasar dikursi kebesarannya
Sementara Ricco dan Bu Dessy hanya diam , menundukkan kepalanya
" Ricco ...cari orang untuk memata²i putri saya , ada yang tidak beres dengan pergaulannya , apa mungkin anak Wibisono itu memeras putri kesayanganku , kalau itu benar AWAS SAJA , KU PASTIKAN SEMUA PERUSAHAANMU LULUH LANTAH , " ucapnya geram
Mendengar ucapan Pak Ramdan baik Ricco atau pun Bu Dessy bergidik , rasa takut yang menyelinap dalam benak mereka berdua , membayangkan saja sudah membuat nadi mereka berhenti berdetak ,
" Baaiiik , Pak " jawab Ricco
"BLOKIR SEMUA ATM RAIN SEKARANG JUGA ! " titahnya
" Baiik , Pak " jawab Ricco lagi
" Bu Dessy....mulai detik ini , HOTEL RAIN saya ambil alih , dan saya tidak mau dengar lagi Rain mengambil uang dari sana dalam bentuk apapun , MENGERTI! " teriak Pak Ramdan
" Baik , saya mengerti pak " jawab Bu Dessy pelan
" SEKARANG ANDA BISA KEMBALI KE HOTEL , dan kamu Ricco , cepat cari orang yang paling profesional untuk mengikuti kemanapun putriku pergi , jangan ada satupun yang terlewati , PAHAM! "
" Saya paham , Pak... kalau begitu , saya permisi " pamit Ricco
" Wa'alaikum salam " jawab Pak Ramdan pelan
Setelah kepergian dua orang kepercayaannya , Mama Dhania datang ke kantor dan segera menghampiri sang suami yang masih betah duduk dikursi kebesarannya . Matanya masih merah menahan amarah , tangannya masih berada dipangkal hidung , buru² mama Dhania merangkul sang suami dan memeluknya erat
" Papa... kenapa ? , papa baik² saja kan , dada papa sakit lagi , ayoo kita ke dokter " tanyanya penuh rasa khawatir , sang suami menggeleng pelan dan merapatkan pelukannya
" Apa yang terjadi , Pa... cerita sama mama ? " tambahnya
Sekali lagi Pak Ramdan hanya menggeleng pelan , ia masih betah berada dalam dekapan sang istri , karena itu bisa membuatnya sedikit tenang .
" Papa sudah makan ? ini mama bawain masakan kesukaan papa , makan yuuuk " ajaknya sambil membuka paperbag yang tadi dibawanya dan meletakan semua makanan diatas meja
" Ini map apa pa , papa dapat tender lagi ? " tanya penasaran
" Bukan ma , ini proposal Hotel , dan gak penting kok " ucapnya sambil menarik map tersebut dan menaruhnya dilaci , ia tak ingin istrinya sedih bila mengetahui masalah yang sedang dihadapinya
__ADS_1
" Ogh gitu... ya sudah ayo makan , aku suapin ya " ucap mama Dhania sambil tersenyum , pak Ramdan tersenyum dan mengangguk , ia bersyukur memiliki istri yang cantik , baik , yang apabila ia memandang bisa membuatnya teduh , senyumnya bisa meredakan emosi .
" Papa doyan apa laper " tanyanya saat melihat sang suami makan dengan lahap
" Dua²nya ... masakan mama tiada duanya , eenaaak banget , apalagi kalau senyum , muanis pakai banget ... takutnya semut² jadi ngerubutin pipi mama , hahaha" godanya
" Yaaa.... janganlah , masa pipi mama dikerubutin semut , memang papa rela " jawabnya sedikit manja
" Rela ...kalau semutnya wanita semua , tapi... kalau ada laki² satu saja papa binasakan semua sampai akar²nya "
" Sejak kapan semut punya akar ..? " sang istri mengerutkan alisnya ,
" Perumpamaan ... ma , buruan... suapin papa lagi , masih laper... "
" Haaaa... masih laper , ini sudah nambah 2 kali looh... sudah... sudah nanti lagi , gak baik makan terlalu kenyang , kasihan perutnya " tolaknya sambil mencubit gemas perut sang suami
" Kenapa ... gak suka lihat papa ndut ..? " godanya
" Sebesar dan senduut apapun papa ...pasti akan selalu muat dihati mama kok , cuma ... sehat itu mahal ... " balasnya
" Hahaha ... mama bisa ngegombal juga " pak Ramdan tertawa keras , ia sampai mencubit pipi sang istri karena gemas
" Aduuuh ... sakit pa " eluhnya , ia pun membalas memukul manja pundak sang suami
" Sehat memang mahal tapi sakit justru lebih mahal ... yang gratis itu disakitin pas sehat²nya... hahaha.. "
" Hahaha ... " mereka tertawa bersama
" Habis ini papa meeting diluar , mama mau disini atau pulang ? " tanyanya sambil mengusap² kepala orang yang paling dicintainya itu
" Mama disini saja .. hehehe... " ucapnya sambil menepuk pelan dada sang suami , pak Ramdan tersenyum kemudian memeluk sang istri erat ,
" Terimakasih ya Robb sudah menghadirkan bidadari tak bersayap untukku , semoga suatu saat nanti putriku bisa seperti mamanya , aamiin " gumannya dalam hati
" Ya sudah , mama pulang ya ... " pamitnya
" Okey sayang .... ati² ya , i love u my wife ... eemuuaachhh "
__ADS_1
" I love too ...., " Setelah mencium tangan suami , mama Dhania melangkah pergi
" Ricco ... anter istri saya pulang , setelah itu jemput RAIN DAN BAWA KEMARI ! " titahnya ,