
part 34
Ditengah asyiknya makan bersama dengan Radit dan Sheila , ponsel Rain berdering merdu , lagu dari Alexandra ~You are the reason ~ salah satu lagu favorit Rain mengalun mendayu2 , membuat baper orang yang mendengarkannya .
"Gak ada lagu lain apa ? , lagu cengeng gitu buat nada dering " celetuk Sheila disela2 makannya
" Serah aku donk ,, ponsel... ponsel aku , ngatur banget sich " umpat Rain kesal
" Iyaaa emang itu ponsel kamu , tapi kuping ku protes dengarnya " tambah Sheila
" Tutup kuping kamu " bentak Rain sambil melempar Beberapa lembar tissu ke muka Sheila
" Sudah... sudah... kalian dari tadi berdebat terus , gak capek apa..? , Rain angkat telponnya siapa tau ada yang penting , dan kamu Sheila jangan suka menjudge orang lain , gak baik ... " Radit menengahi agar keduanya berhenti bersitegang
" Tapi ini nomer tidak dikenal , Dit..? " jawab Rain sambil menaruh lagi ponselnya dan menikmati makanannya kembali
" Pacar gelap kaleee " sahut Sheila sambil memonyongkan bibirnya
" Emaang... " jawab Rain jutek
" kalau gak penting .. gak mungkin berulang kali kan telponnya , ayoo buruan angkat " titah Radit
Rain mengangkat bahunya , tak berselang lama ponselnya kembali berdering , refkeks Rain langsung menyerahkan ponselnya pada Radit
" Iyaaa... selamat siang " Radit menjawab sapaan dari seberang telpon
" Bisa saya berbicara dengan Mb Oktarain ..? " tanyanya
" Ini dari mana ? " tanya Radit balik
" Ini dari Dokter Febri , tolong sampaikan ke mb Rain untuk segera ke rumah sakit ya , keadaan Sari saat ini sedang kritis " pinta sang dokter
" SARI...? " ucap Radit panik
Buru2 ia menyerahkan ponsel pada si empu
" Hallo .. " sapa Rain dan belum sempat bertanya , dokter Febri sudah mendahuluinya
" Bisa segera kesini , Sari butuh penanganan serius " ucapnya
" Baaaiikk ... saya akan segera kesana " jawab Rain , dengan setengah berlari ia masuk ke kelas , menarik kasar tasnya dan pergi menuju ke parkiran
Melihat Rain buru2 Radit dan Sheila pun segera menyusul Rain .
" Kalian bertiga mau kemana ? ini masih jam sekolah " gertak pak Ali sang guru killer
" Maaf pak , saya harus pulang , adik saya kritis " ucap Rain
" Jangan banyak drama Rain , sejak kapan kamu punya adik ? bukankah kamu anak tunggal ? " tanya pak Ali bertubi2
" Adik keponaan , maksudnya " jawab Rain gugup
" Bapak tidak mau dengar alasanmu , sekarang MASUK !! " titah nya tegas
"Tapi pak ...." jawab Rain
" Tidak ada tapi2 an , atau mau berdiri dilapangan sampai pelajaran selesai " hardik pak Ali
"Looh bu Shinta.. pasti nyariin pak Ali " Rain mengalihkan topik dan benar saja semua mata tertuju pada tempat yang dikode oleh Rain , kesempatan itu Rain gunakan untuk mengelabuhi pak Ali , dengan cepat Rain membunyikan motor maticnya dan segera meluncur kencang meninggakan sekolah
Pak Ali hanya bisa menggeleng2kan kepalanya
Sementara Radit dan Sheila masih terpaku ditempat .
__ADS_1
" Kalian kenapa masih disini ? " tanya pak Ali
" Maksud bapak kami harus menyusul Rain , begitu..? " tanya Sheila balik
" MASUK KE KELAS SEKARANG " pak Ali mulai geram
Dengan berat hati Sheila dan Radit berjalan menuju ke kelas , pikiran mereka tentu saja tertuju pada Rain , Sheila yang tidak tau menahu tentang Sari , semakin gencar memberondong pertanyaan , Radit tetep kukuh tidak mau menjawab dan memilih diam saja , tentu saja semakin membuat Sheila geram ,
" Ada rahasia apa antara kalian berdua , dan siapa Sari ? , Ayo jawab Dit , jangan sampai aku tau dari orang lain , dan kalau itu terjadi .... aku tidak akan pernah memaafkan kalian ... atau jangan.. jangan.. Sari itu.. anak kalian..." Sheila menutup mulutnya , entah kenapa tiba2 airmatanya jatuh tanpa dikomando
" Buang pikiran negatif itu dari kepala kamu , aku dan Rain tidak segila itu , Sudahlah ... jangan buat kepalaku tambah pusing , " omel Radit
" Kalau begitu ..jujurlah ada apa sebenarnya , biar aku juga tidak salah paham , apa artinya sahabatan kalau main rahasia2an gini , ayooo ngomong , ada apa , kenapa dan bagaimana ? " desaknya
" Suatu saat nanti kamu juga bakalan tau , "
" Nanti kapan ? kalian mau buat aku mati penasaran ? "
Radit kembali diam .. pikirannya benar2 kalut ,
" Hey ... malah nglamun lagi , buruan cerita , atau kita susul Rain sekarang " Sheila beranjak dari tempat duduknya sambil mersih tas dengan kasar
" La... duduk ! kalau kamu memang sahabat terbaik Rain , turutin kata2ku , DIAM , dan jangan banyak bertanya " ucap Radit sedikit membentak
Sheila terdiam dan kembali duduk , ia tidak punya pilihan lain selain menuruti perkataan Radit
Dan sampai pelajaran berakhir keduanya masih diam membisu , Radit merasa tidak enak hati pada Sheila karena sudah membentaknnya
" La " panggilnya , tapi yang dipanggil acuh , Radit pun menggulang panggilannya
" Sheila " dan sekali lagi Sheila tidak menghiraukannya , ia malah meninggalkan Radit yang masih duduk di bangku kelas , melihat Sheila pergi Radit buru2 menyusul , dan Sheila pun semakin mempercepat langkahnya
" La ..... tunggu ! " teriak Radit kencang
Begitu grab yang dipesannya datang Sheila buru2 masuk , dan mengabaikan Radit , melihat Mobil yang ditumpangi Sheila pergi , Radit mengacak2 rambutnya karena gusar
Tiba2 ponselnya berdering , begitu tombol hijau digeser yang artinya panggilan diterima
"Sayank.." sapanya , ia kaget bukan kepalang , karena yang ia dengar hanya suara isakan tangis dari orang yang ia sayangi
" Dit... " panggil Rain dengan suara yang sangat pelan dan hampir tak terdengar oleh Radit
" Rain... Aku segera kesana ,, sabar ya.. " ucap Radit , segera digesernya tombol merah , dan berlari menuju parkiran , dan dengan kecepatan tinggi ia meninggalkan sekolah menuju rumah sakit tempat Sari dirawat ,
" Pak ikuti motor itu ya " titah Sheila pada sopir grab
" Baik non , "
" Buruan pak..jangan sampai ketinggalan , agak kencang sedikit " pinta Sheila
" Ini juga sudah kencang non , "
" Tambah lagi pak , saya takut kakak saya dalam bahaya , dia sampai ngebut gitu "
" Ogh itu kakaknya to , kirain pacarnya " jawab pak sopir sambil tersenyum
" Pacaran bikin pusing pak , jadi lebih baik sendiri saja , looh kok jadi mbahas masalah pacar sich , mana kakak saya ? wah gak terkejar nich " omelnya
" Kakak non mbelok ke rumah sakit Centra Medika non , "
" Lha ....ngapain bapak jalan terus , bukannya ikut masuk ke rumah sakit nya "
" Sabar non , ini masih cari jalan untuk putar balik "
__ADS_1
Begitu turun dari grab , Sheila langsung masuk ke dalam rumah sakit , setelah bertanya ke bagian informasi , ia berjalan mengendap2 , menuju ruangan khusus anak2
Pandangannya tertuju pada 2orang yang sedang berpelukan , ya ... siapa lagi kalau bukan Rain dan Radit ,
" Sebenarnya Sari itu siapa sich , kok mereka sepanik itu " gumanya sambil sembunyi dibalik tembok tak jauh dari target
" Sabar... Rain ... sabar... Sari anak yang kuat , ia pasti bisa lewati ini " bujuk Radit untuk menenangkan sang pujaan hati
Rain masih terisak dipelukan Radit , sementara orang tua Sari tampaknya sudah pasrah dengan kondisi sang putri yang semakin ngedrop
Radit mengajak Rain untuk duduk dan menenangkan hatinya
" Minumlah ... " Radit memberikan air minum kemasan pada Rain , Rain hanya meneguknya, sedikitlalu memberikannya lagi pada Radit
ponsel Rain berdering ....
" Bagaimana bu Desy , bisa di TF sekarang uangnya ? " tanya nya pada seseorang diujung telpon
" Maaf mb Rain ... selama sebulan ini mb sudah mengambil uang hotel lebih dari 50juta , saya tidak berani ambil resiko , saya takut dengan Pak Ramdan , sekali lagi saya minta maaf " ucap Desy ketakutan , Desy ini Orang yang dipercaya sang papa untuk mengelola hotel miliknya
" Bagaimana sich , hotel itu atas nama saya jadi terserah saya mau menggunakan uang itu atau tidak , pokoknya saya tidak mau TF sekarang " bentaknya
" Ma.. aaf mb , saya benar2 tidak berani .. saya takut , lebih baik mb konfirmasi dulu dengan pak Ramdan , kalau beliau setuju baru saya TF " ucap Desy tegas
" Tapi ini darurat bu , kalau ada apa2 ibu mau bertanggung jawab , enggaaak kan ? , makanya buruan " desaknya
" Maaf mb , saya hanya menjalankan tugas , apa yang pak Ramdan amanahkan ke saya itu yang saya lakukan , maaf saya ada meeting habis ini , assalamu'alaikum " Desy mematikan panggilannya secara sepihak
Tidak mudah memang membujuk Desy , apapun alasannya , pendiriannya sangat kuat dalam menjaga amanah , itulah sebabnya ia sangat dipercaya oleh sang papa mengurusi beberapa hotel termasuk salah satu hotel atas nama Rain .
Dengan lesu Rain duduk kembali disamping Radit ,
" Aku harus bagaimana Dit..? " tanyanya sendu
Sambil mengelus2 pundak Radit berkata " Sabar ya.. pasti ada jalan kok "
" Tapi kondisi Sari semakin turun Dit , aku gak tega melihatnya " airmata Rain jatuh berderai membasahi pipinya
Radit menyeka airmata Rain pelan " Kamu sudah melakukan yang terbaik sayank... sudah ya.... kita serahin semua ke Allah , karena hanya Dia yg lebih tau apa yg terbaik untuk Sari "
" Sudahlah non , kami sudah pasrah , kami sudah ikhlas jika Sari harus pergi " ucap Bang Jamal terbata2
Tangis Rain pecah dan semakin deras , ia berhambur memeluk Radit erat , untuk menumpahkan segala gundah dan kesedihan yang ia rasakan .
Tiba2 terlintas dipikiranya bayangan Kahfi
" Ufie " ucapnya sangat lirih ,
**********
Jika kita bahagia kemudian terlintas wajah seseorang artinya kita mencintai orang itu
tetapi sebaliknya , jika sedih kemudian terlintas wajah seseorang artinya orang itu mencintai kita
entah itu mitos atau fakta , sayapun tidak begitu memahaminya
Yuukk ikuti terus kisahnya ... jangan lupa like n komennya
Semakin seru kaaann...
Ambil baiknya buang buruknya
@hijrahcintaafifah
__ADS_1
@yuli_iyeth18