
Part 22
Setelah keluar dari ruang inap Rain , Radit dan Sheila menuju parkiran dan merekapun pergi meninggalkan rumah sakit , sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam , keduanya sibuk dengan imajinasi masing2
" Loh Dit , kita mau kemana ? , ini bukan arah ke sekolah kita loh " ucap Sheila bingung ,
" Berhenti didepan , biar aku yang nyetir " pintanya , ia tau kalau Radit kalut karena mengkhawatirkan Rain
" Kita gak usah balik ke sekolah ya , ada yang mau aku omongin ke kamu " jawab Radit tanpa menoleh ke lawan bicaranya , Sheila mengerutkan dahinya ,
" Baiklah " jawab Sheila tanpa protes ,
Mobil pun melaju kencang ke arah taman kota , Radit sengaja memilih tempat yang nyaman untuk bisa ngobrol santai dengan sepupunya itu , setelah memarkirkan mobilnya , Radit menarik tangan Sheila untuk duduk di taman bunga dekat ayunan , Sheila pun menurutinya , dia hafal betul sifat Radit bagaimana ,
" Duduk sini bentar " perintah Radit , lalu ia melangkah pergi , sementara Sheila hanya bengong
"Semakin gak jelas nich orang " gumannya , iapun membuka tasnya dan mengambil ponsel , ketika hendak berpose didepan kamera , Radit sudah kembali dengan membawa sekantong cemilan , minuman dan es cream
" Nich " ucap Radit sembari menyodorkannya pada Sheila
" Tumben , Dit .. kamu mau mengajakku menggendut bersama ceritanya " godanya
" Lagi gabut " jawab Radit
" Karena Rain ? " tanya Sheila , Radit menarik nafas panjang dan membuangknya kasar
" Kamu tau kenapa selama ini aku cuek sama Rain ? , karena Pak Ramdan tidak suka padaku , La " ucapnya kemudian , yang sontak membuat Sheila membulatkan matanya
" Apakah kamu juga tau , bahwa aku mencintai Rain jauh sebelum dia menyukaiku " Shelia tertegun mendengar ucapan Radit lalu menatap tajam ke arah Radit
" Mungkin kamu sulit mempercayainya , La .
Tapi itulah kenyataannya , aku selalu berusaha menutupi perasaanku , aku selalu berusaha mengelak , tapi aku tidak bisa , semakin aku menjauhinya , aku malah semakin mencintainya , " Radit menundukkan wajahnya
" Entah darimana datangnya , ketika Rain dapat hukuman dan menjauh dari ku satu minggu yang lalu , keberanian itu muncul dengan sendirinya , sedikit demi sedikit aku mulai bisa menunjukkan rasa sayangku padanya " ucap Radit berkaca2 , Sheila mengusap2 pundak Radit
" Apakah kamu tau alasan Papanya Rain tidak menyukaimu ? " tanya Sheila kemudian
" Ada masalah lama yang belum mereka selesaikan , dan dampaknya sampai saat ini " jelas Radit
" Maksudnya ? " tanya Sheila penuh tanda tanya besar
" Papaku dan papanya Rain musuhan sejak masih SMA , aku tidak tau persisnya seperti apa , aku sudah berusaha membujuk papaku untuk berdamai , nyatanya aku selalu gagal " Radit semakin menundukkan kepalanya , ada butir2 kristal yang mulai membasahi pipinya
__ADS_1
" Sabar ya Dit , ada gembok pasti ada kuncinya , begitu juga dengan masalah , pasti ada jalan keluarnya , kita memang belum merasakan manis getirnya kehidupan , tapi tidak ada salahnya bila kita mencoba melakukan sesuatu hal yang bisa memadamkan api kebencian diantara papa kamu dan Rain "
" Makasih ya , La , selain sepupu , kamu juga sahabat terbaik ku , tapi sungguh disayangkan masih jomblo " ledeknya
" Siapa bilang aku jomblo ... , bukan jomblo tapi singlelillah , hahaha " candanya
" Sama aja dodol , Rain cerita apa saja sama kamu ? , apakah dia benar2 mencintai Ustadz tampan itu ? " tanya Radit penuh selidik
" Rain tidak cerita apapun , kenapa ? takut ada saingan sekarang " godanya
" Gak ada yang mesti aku takutkan , kalau mereka sama2 cinta aku bisa apa? , yang penting Rain bahagia , aku sadar selama ini aku sudah banyak membuatnya kecewa , aku sudah menyia-nyiakan dia , pengecut sepertiku tak layak untuk Rain "
ucap Radit
" Masih ada waktu Dit untuk memulainya lagi dari awal , gak mungkin juga Rain pacaran dengan ustadz itu "
" Kok kamu bisa seyakin itu , apa alasannya ? "
" Ya.. elah Dit , pinter dikit napa... namanya ustadz , guru ngaji , pendakwah mana mau pacaran , jangankan pacaran memandang , menyentuh yang bukan mahromnya aja gak mau , takut dosa "
" Iya aku ngerti , tapi sepertinya Ustadz Kahfi juga suka dengan Rain , aku bisa melihat dari tatapan matanya , "
" Halah ... jangan sok tau , jangan menduga- duga , nanti bisa jadi fakta , sekarang apa yang akan kamu lakukan , jujur tentang perasaan kamu atau terus mencintai dalam diam ? "
" Walaupun tidak mengungkapkan perasaan mu Dit , setidaknya perhatian mu selalu untuk Rain , jangan dicuekin lagi , awas aja kalau buat Rain sedih lagi , aku gak akan segan ngajak kamu duel " ancam Sheila
" Iya.. iya ..janji gak akan cuekin Rain lagi , kalau aku cuekin nanti aku janji lagi " ucap Radit sambil tersenyum yang dibalas Sheila dengan lemparan botol minuman kosong tepat didahinya
Jeduug
" Aduuh .. sakit , La .. jail banget sich , bisa gak becandanya dicancel dulu , orang lagi galau malah ditambahin , sakit tau " omel Radit karena kesal
" Mau lagi " Sheila makin nyolot
" Memanglah , dimana2 wanita selalu seenaknya , mau menang sendiri , gak mau disalah2in , tapi maunya diperhatikan " gerutu Radit sambil mengelus2 dahinya
" Ngomong apa Dit , aku gak dengar, bisa diulang " Sheila pura2 sembari menyibak a daun telinganya
" Gak ada replay " jawab Radit sewot
" Ogh ya, katanya nenek masih kritis , kenapa balik ? , terus siapa yang njagain disana ? " tanya Sheila beruntun
" Lha kamu kan cucunya juga , kenapa gak njagain , malah enak2an disini ? "
__ADS_1
" Aku disini karena kamu yang ngajak kan ? " balas Sheila sambil nyengir
" Nich anak pinter banget ngelesnya , belajar dimana sich , pengen juga berguru sama dia "
" Bukan ngeles tapi fakta , belajar sama Rain , nanti tanpa berguru kamu juga pasti ketularan somplaknya , hahaha "
" Somplak gak somplak aku tetep sayank kok , weeekk , " ledek Radit
" Ihh buruan jawab , gimana kabar nenek , jangan2 kamu kabur ya"
" Kabur gundul mu itu , alhamdulillah nenek sudah melewati masa kritis , yang njagain nenek bunda , budhe Anti , om Rian dan tante Yuli , kapan om Haris , tante Liza dan kamu njenguk , ditanyain terus tuch "
" Papi dan Mami sudah berangkat tadi pagi , kalau aku nunggu kamu "
" Ngapain nunggu aku ? "
" Gak enak kalau gak ada kamu , gak seru "
" Kesana itu buat njenguk orang sakit bukan liburan Sheila yang cantik tapi dodol "
" Kan bisa sekalian , two in one gitu " Karena gregetan Radit mencubit pipi Sheila
" Radiiit , sakit tau , jangan dicubitin tambah embem pipiku nanti " Sheila cemberut sambil mengusap2 pipinya
" Heeey , kalian ini masih pakai baju seragam sudah keluyuran , jangan pacaran disini " bentak security yang tiba2 muncul didepan mereka
" Kita gak pacaran pak , kita masih saudaraan kok " jawab Sheila
" Alasan klasik , berdua2an ditempat yang sepi apa namanya kalau tidak pacaran "
" Pak security yang tampan , kita beneran tidak pacaran " debat Sheila geram
" Orang tua kerja banting tulang untuk biayai sekolah malah asyik pacaran , apa gak kasihan kalian " omel pak security
" Kira2 yang dibanting tulang apa ya , pak " ejek Sheila
" Kalian ini benar2 ya , Ayo ikut saya sekarang ! "
" Masyaallah .... lihatlah ... cantik dan seksinya cewek itu " ucap Sheila membohongi pak security , dan ketika menoleh , dengan sigap Sheila menarik tangan Radit untuk kabur dari tempat itu
" Weeekkk , emang enak dikubulin , " ejeknya sambil berlari
Pak security hanya bisa geleng2 kepala melihat kelakuan Sheila dan Radit
__ADS_1