
ke esokan paginya angin berhembus kencang mengenai wajah Chelsea yang tengah memasang sepatu sekolahnya, setelah memakai nya, Chelsea menatap lurus kedepan melihat diluar rumahnya begitu banyak orang beraktifitas di pagi hari yang cerah ini, lalu dia menghela nafasnya.
"Semoga hari ini tidak ada masalah untuk hidup gue dan Varrel" ucap Chelsea.
"Amin..." suara Varrel dari dalam rumah yang mendengar ucapan Chelsea, sontak dia langsung menoleh dan melihat Varrel berdiri disampingnya.
"ayok berangkat Chel" suruh Varrel sambil memegang kepala Chelsea.
Chelsea tersenyum lalu menganggukkan kepalanya,
"yuk"
- - -
disaat perjalanan ke sekolah, Varrel mengendarai motornya sedikit lambat agar dia ingin menghirup udara segar di pagi yang cerah ini.
daun-daun kering mulai bertaburan kemana-mana, Chelsea yang merasa kedinginan segera memeluk Varrel dari belakang sambil memejamkan matanya.
Varrel melihat tangan Chelsea yang melingkar di perutnya lalu dia tersenyum bahagia.
"Varrel" panggil Chelsea.
"hmm"
"gue punya ide agar cepat ketahuan pelakunya"
"bagaimana?"
"tapi berhenti dulu motornya"
tak berpikir panjang Varrel memberhentikan motornya dipinggir jalan, dan jarak sekolah sudah hampir dekat.
Chelsea melepaskan pelukannya, lalu Varrel turun dari motornya sementara Chelsea masih duduk di atas motor.
"jadi gimana?" tanya Varrel.
Chelsea mengayunkan mulutnya,
"jadi disaat kita disekolah, kita sementara jangan sapa-sapaan dulu"
Varrel mengerutkan keningnya,
"maksutnya?"
"ya jadi kita kayak orang asing saja, tidak saling mengenal, itu kan yang dia mau, kalau kita saling menjauh?"
"t-tapi Chel gue gak bisa"
Chelsea memegang tangan Varrel,
"harus bisa Rel, ini cuman sementara kok, aku juga mau lihat bagaimana bereaksi saat kita pura-pura menjauh"
Varrel mengingat ucapan Lisa waktu semalam.
__ADS_1
"gue sebagai teman Lo dan Chelsea, gue mohon sama Lo Rel, jangan sampai tinggalkan Chelsea meski cuman 1 detik pun, ingat ya Rel perkataan gue, karena gue takut kalau Chelsea sampai kenapa-kenapa, meski ancaman itu menyuruh Lo sama Chelsea menjauh"
ucap Lisa dengan memasang wajah serius.
"sebelum Lo ngomong ini gue gak akan ninggalin Chelsea kok Lis, oke gue akan ingat ucapan lo, yaudah gue balik ya Lis, jangan lupa pakai obat dari Chelsea itu"
jawab Varrel, lalu diberi anggukan dari Lisa, segera Varrel melajukan motornya dan pergi meninggalkan Lisa.
-
Varrel masih ragu-ragu dengan perkataan Chelsea, karena dia tidak bisa menjauh i Chelsea.
"Varrel, percaya sama gue, ini demi kebaikan kita berdua, gue yakin Lo pasti bisa kok, nanti pulang sekolah aku pulang sendiri saja, buat orang yang ngancam kita berdua itu merasa puas dan lama-kelamaan akan ketahuan siapa pelakunya"
"Gue gak bisa Chel, gue takut nanti Lo malah kenapa-kenapa"
"Varrel" Chelsea menatap serius mata Varrel,
"gue mohon Rel, kita akan bisa menyelesaikan masalah ini dengan cara salah satunya ini, nanti kalau kita terus bersama, gak akan selesai, dan gue gak tega melihat teman-teman gue juga ikut dalam masalah kita ini"
Varrel menundukkan kepalanya sambil menghembuskan nafasnya besar,
"benar juga kata Chelsea, semoga dengan cara ini cepat berhasil, dan menemukan siapa pelakunya"
"oke deh Rel, kalau Lo maunya begini, tapi jangan lama-lama ya"
"iya Rel, yang penting kita nemu dulu siapa pelakunya"
* * *
Setelah sampai di sekolah, yang biasanya mereka berdua berjalan bersama memasuki kelas mereka masing-masing, yang ada Chelsea langsung berjalan menjauh Varrel, sementara saat Varrel ingin memanggil Chelsea, dia teringat ucapan tadi.
"ingat ya jangan panggil aku sama sekali, awas saja sampai kamu keceplosan"
Varrel menghela nafasnya,
"ini cuman sementara Rel, Lo pasti bisa" gumamnya.
: :
sementara didalam kelas Lisa bercerita tentang kejadian yang dia alami kepada Tania.
"ya ampun Lis, untung Lo sekarang gak kenapa-kenapa"
"sumpah wah Tan, kemaren itu leher gue ini panas banget, dan gue rasanya ingin mati tau gak"
"bener-bener keterlaluan Aril"
batin Tania marah.
"Tan berarti Lo udah gak--"
"iya Lis" jawab Tania dengan cepat karena pasti Lisa akan bilang dia sudah tidak perawan lagi.
__ADS_1
"siapa sih cowok itu namanya, katanya dia sekolah dengan kita kan, gue mau cabik-cabik wajahnya, ayo Tan siapa namanya"
"namanya A--"
Chelsea datang dengan wajah cemberut nya, sontak membuat kedua temannya langsung menoleh.
"lu kenapa Chel, pagi-pagi udah cemberut gitu" tanya Lisa.
Chelsea duduk di bangkunya,
"Gue sekarang udah gak dekat-dekat lagi sama Varrel" Lisa dan Tania terkejut karena Chelsea dengan suara keras mengucapkan seperti itu.
"Chel Lo apa-apa an ngomong keras banget"
ucap Lisa.
"kenapa Lis, sekarang gue malas bertemu sama Varrel, atau mau nyapa saja gak mau gue" Chelsea tetap mengucapkan itu dengan suara keras.
"hust.. Chel.. jangan keras-keras nanti banyak yang ngira Lo lagi bertengkar sama Varrel"
jelas Tania.
Chelsea mendekatkan wajahnya kepada kedua temannya itu sambil berbisik,
"guys gue itu cuman mancing orang yang ngancam kita berdua, siapa tau kedengaran terus kita bisa tau siapa pelakunya"
kedua temannya menganggukkan kepalanya memahami bisikan dari Chelsea.
"memangnya Lo kenapa sama Varrel" ucap Lisa dengan suara keras.
"katanya dia mau menjauhi gue, entah gak tau tiba-tiba dia ngomong gitu ke gue, kan gue kesal, makanya gue juga ingin menjauh sama Varrel" jelas Chelsea dengan nada yang tinggi.
disisi lain, di luar kelas Chelsea, ada Chintya yang menguping pembicaraan mereka bertiga, karena mereka bertiga duduk di samping jendela kelasnya, tak berpikir panjang, Tania mengambil ponselnya dan menaruhnya di telinganya.
"halo kak, gue punya kabar baru, kalau kak Chelsea sudah menjauhi Varrel"
"oke makasih infonya"
"sama-sama kak"
Nit.
Chintya melihat lurus ke depan sambil menggigit bawah mulutnya.
"****** lo Chel, sebentar lagi Lo akan habis" gumam Chintya.
🥀
mau tau kenapa Chintya tetap jahat sama Chelsea?
yang mau aku ceritakan, Comment dibawah ya.
👍🏻💬🔥
__ADS_1