
Tania melihat banyak murid-murid sedang berkumpul di luar sana, gak berpikir panjang dia langsung berlari ke arah kerumunan itu, dan melihat bahwa Dito berbaring lemas didalam ambulan, Tania tidak tega melihat nya, dan di samping Dito ada Varrel yang juga sangat khawatir dengan Dito.
"Tunggu" panggil Tania disaat pintu ambulan mau ditutup, sontak membuat semua melihat ke arah Tania.
"gue mau ikut antar Dito" ucap Tania.
Varrel melihat Tania yang juga ingin ikut mengantar Dito.
"kamu sebaiknya gak usah ikutan, sekarang kamu masuk kelas sana" ucap pak Agus.
"tapi pak aku--"
"pak biarkan Tania ikut juga, karena dia teman dekat Dito" ucap Varrel membuat pak Agus berhenti sejenak lalu menganggukkan kepalanya.
"yaudah kamu boleh ikut" ucap pak Agus, senyum Tania mengembang lalu segera masuk kedalam ambulan.
Sementara Lisa dan Chelsea baru sampai ditempat, lalu melihat Tania masuk kedalam ambulan.
"eh Tania ikut ngantar Dito?" tanya Lisa.
"iya kayaknya, biarin Tania ngantar, dia kan suka sama Dito"
"iya gue ingat kalau Tania pernah cerita soal itu ke dia"
mata Chelsea mencari kesana sini, mencari keberadaan Varrel, tapi nihil, Varrel tidak ada di kerumunan itu.
"mungkin Varrel udah ada didalam ambulan nganterin Dito"
batin Chelsea.
- -
saat di rumah sakit, Varrel dan Tania disuruh pak Agus untuk menemani Dito sampai dia keluar dari rumah sakit, karena pak Agus ada urusan dengan keluarganya, beberapa jam kemudian tepat pukul 16.00 akhirnya Dito keluar bersama dengan dokter.
"apa kalian keluarga dari Dito?" tanya dokter.
"emm anu kita teman sekolahnya Dito" ucap Varrel.
"jadi Dito cuman luka ringan, ada goresan sedikit di wajah dan lengannya karena terjatuh dari lantai dua, dan untungnya tidak ada patah tulang atau apa, saya sarankan untuk Dito sering istirahat, jangan melakukan aktivitas yang berlebihan" jelas dokter.
"iya dok makasih" kata Tania.
kring.. kring..
suara telfon dari ponsel Varrel, dan melihat papanya sedang telfon.
"halo pa"
"Varrel kamu udah pulang?"
"em belum pa, aku lagi nungguin teman sakit, dirumah sakit"
"kamu pulang sekarang ya, papa mau ngejelasin masalah papa sama mama, katanya kamu mau ikut"
"oh iya pa, Varrel akan segera kesana"
"oke papa tunggu ya"
Nit.
"Dit sorry ya gue gak bisa nemenin Lo lama-lama, karena gue ada urusan sama keluarga gue"
"gak papa Rel, makasih sudah nungguin gue tadi"
"it's oke"
"oh ya terus motor Lo? tas Lo gimana?"
"santai kan rumah gue dekat dengan sekolah jadi gue nanti ambil"
"oke hati-hati Rel"
Varrel menepuk pundak Dito,
"jaga kesehatan teman"
lalu diberi senyuman dan anggukan dari Dito, dan Varrel berlari keluar rumah sakit, untuk memesan ojek online dan langsung pergi ke rumah mama dan papanya.
sekarang tinggal Dito dan Tania yang masih canggung untuk berbicara.
"Dito" panggil Tania.
"hmm"
"sekarang udah mendingan?"
"udah kok"
"emm jadi gimana sih kok kamu bisa jatuh dari lantai dua"
"waktu gue mau pergi ke perpus untuk mengembalikan buku, tiba-tiba ada yang manggil gue, dan menyuruh gue untuk membantu mengambil kok yang nyangkut di atas pohon, dan gak sengaja gue merasa ada yang mendorong tubuh gue dari belakang dan akhirnya gue jatuh deh"
ucap Dito dengan santainya.
"siapa yang ngelakuin itu?"
"Aril"
"ha?"
"iya gue gak tau sama dia kenapa dia jahat gitu ke gue"
"gue gak akan pernah maafin dia"
batin Tania marah.
- - -
disisi lain, Chelsea tengah menunggu Varrel tak kunjung datang, dia mencoba untuk menghubunginya tapi sama saja dia tidak aktif, sementara Lisa sudah pulang dari tadi, dan diluar sekolah sangat sepi, kendaran lewat saja tidak ada sama sekali.
"yaudah deh gue pulang sendiri" gumam Chelsea, saat berjalan ditengah-tengah ada yang membungkam mulut Chelsea dan menariknya ke dalam mobil hitam, Chelsea tidak bisa bergerak karena yang memegang badannya lebih dari satu orang, tapi Chelsea tidak melihat wajah pelaku itu.
- - -
malam telah tiba, Varrel masuk kedalam rumahnya dan mengebel pintu rumahnya, tapi Chelsea tidak membukanya, dia mengintip dari kaca jendela rumahnya tersebut dan melihat lampu ruangan belum dinyalakan.
Varrel mengetok pintu rumahnya,
"Chelsea... bukain pintu Chel.." panggil Varrel.
gak ada sautan dari dalam membuat jantung Varrel berdebar kencang, dia membuka ponselnya nya dan shit baterainya habis.
lalu dia menaiki motornya, tapi Varrel masih bingung dia mau kemana?
"gue ke rumah Lisa, mungkin Chelsea ada disana" gumam Varrel, tak berpikir panjang Varrel melajukan motornya cukup cepat.
__ADS_1
setelah sampai di rumah Lisa, Varrel segera turun dari motornya dan mengebel rumah Lisa, tak lama dari itu Lisa keluar dan terkejut melihat Varrel.
"ngapain rel kesini?" tanya Lisa.
"Chelsea ada?"
"ha? ya gak ada lah Rel, memang Chelsea gak ada dirumah?"
Varrel menggelengkan kepalanya,
"dia belum pulang"
"LO GIMANA SIH REL, KENAPA LO GAK JAGA ISTRIMU DENGAN BAIK" bentak Lisa.
"sekarang jangan ngomelin gue, sekarang bantu gue cari Chelsea"
"GAK BECUS JAGA ISTRI KALAU SAMPAI CHELSEA KENAPA-KENAPA AWAS SAJA"
"Oke gue salah"
"MEMANG LO SALAH, SIAPA YANG BILANG LO BENER, Lo kemana saja saat Chelsea pulang sekolah ha?"
"g-gue ke rumah mama sama papa gue, dan lupa belum ngabarin Chelsea"
"VARREL LO BENAR-BENAR **** SUMPAH, GUE KAN UDAH BILANG SAMA LO, JANGAN TINGGALKAN CHELSEA MESKI CUMAN 1 DETIK SAJA"
Varrel memukul-mukul kepalanya sambil menangis,
"Chelsea... Lo kemana.. gue khawatir sama Lo.."
---
sementara di sisi lain Chelsea duduk dikursi dengan tangan dia yang ditali kebelakang, saat dia membuka matanya perlahan dan melihat ke arah depannya ada cowok dan cewek tengah berdiri di depannya saat ini.
"udah bangun Lo" ucap Chintya.
"Lo kenapa belum menyerah juga" ucap Chelsea dengan suara kecilnya, karena dia masih lemas.
"gue gak akan menyerah lah"
rambut Chelsea ditarik dari belakang membuat Chelsea mendongak ke atas melihat Aril tengah tersenyum ke arahnya.
"habis ini Lo akan mati Chel"
"A-aril Lo?"
"iya ini gue, kenapa Lo kaget?"
"kenapa Lo ngelakuin ini ke gue?"
"he tanya pada diri sendiri kenapa gue ngelakuin ini ke Lo"
"APA SALAH GUE SAMA KALIAN"
teriak Chelsea.
"salah lo udah merebut Varrel" ucap Aril.
"maksut Lo?"
"ya maksut gue, ya gitu Chel, intinya gue cinta sama Varrel dari dulu semenjak Lo belum cinta sama dia"
"j-jadi yang memperkosa Tania, mengirim kertas ancaman, sama mencekik Lisa, itu Lo semua"
"yaaaa itu gue semua yang ngelakuin"
plak
tamparan di pipi Chelsea sangat keras membuat Chelsea menahan rasa sakitnya.
"beraninya Lo ngomong gitu ke gue, Chin habisin dia" ucap Aril lalu diberi anggukan Chintya.
Chintya berjalan mendekati Chelsea, dan jongkok ke arah Chelsea.
"kenapa kak menunduk, takut? gak usah takut kak ini cuman goresan kecil kok" Chintya menunjukkan pisau yang ujungnya sangat runcing di depan muka Chelsea.
membuat nafas Chelsea tersendat-sendat karena sangat takut dengan pisau yang ditunjukkan Chintya terhadapnya.
"diam ya, maaf kak" Aril memegang kepala Chelsea, membuat dia sudah untuk bergerak, lalu Chintya menggores pisau itu di pipi Chelsea membuat Chelsea meringis kesakitan.
darah segar mengalir di pipi Chelsea, dan dia tidak bisa berteriak karena dia sangat lemas dan menahan sakit yang dideritanya.
"Isshh... sakiiittt"
Braakk
pintu itu ditendang Varrel dan Dito membuat Aril dan Chintya terkejut.
Varrel melihat Chelsea mengeluarkan banyak darah di pipinya, dan segera berjalan ke arah Aril.
bruuaakk
hantaman keras di pipi Aril membuat dia sampai terjatuh ke lantai.
sementara Lisa dan Tania mendekati Chelsea,
"ya Allah Chel, Lo banyak darah nya" ucap Lisa panik lalu dia ingat bahwa didalam tas nya ada tisu segera dia mengambilnya dan membersihkan luka di pipi Chelsea.
lalu Dito dan Tania melepaskan ikatan yang ada di tangan dan kaki Chelsea.
Varrel memegang kra baju Aril,
"BERANINYA LO NGELAKUIN INI KE CHELSEA"
"GUE NGELAKUIN INI, KARENA GUE CINTA SAMA LO REL"
"OMONG KOSONG"
Bruuaakk
pukulan keras di pipi Aril membuat dia tidak berdaya.
Chintya bingung karena dia sudah ketahuan, dia mencoba berjalan pelan untuk keluar dari mereka semua, sementara Lisa melihat Chintya ingin kabur.
"Tan Lo bersihkan luka Chelsea" ucap Lisa memberikan tisu kepada Tania, lalu berjalan ke arah Chintya.
"he dek Lo mau kemana?" ujar Lisa membuat Chintya sontak menoleh.
"eh anu kak gue--"
plak
tamparan di pipi Chintya.
"kurang ajar ya Lo memang, disaat Lo maaf sama Chelsea, gue sebenarnya gak yakin kalau Lo ikhlas, ternyata bener dugaan gue, habis ini gue akan lapor ke polisi"
__ADS_1
Chintya tertawa,
"percuma gak ada buktinya"
"haha gak ada bukti ya" Lisa menunjukkan ponselnya yang sedari tadi merekam suara mereka semua,
"ada kok, ini gue rekam semua"
Chintya membulatkan kedua matanya sangat terkejut.
"Angkat tangan" suara dari polisi masuk kedalam ruangan itu.
"cepat pak tangkap dua orang ini" ujar Lisa lalu segara ketiga polisi itu membawa Chintya dan Aril keluar.
"pak gue gak salah, gue cuman disuruh sama Aril pak" ucap Chintya.
"diam, bicaranya saat di kantor polisi"
Varrel membuka bajunya dan menempelkan dipipi Chelsea untuk menahan agar darah tidak keluar lebih banyak.
"sekarang kita bawa Chelsea ke rumah sakit" suruh Varrel lalu mereka semua membantu mengangkat Chelsea ke luar ruangan itu.
- - -
beberapa hari kemudian tepatnya pada hari Minggu, Chelsea tengah duduk di teras rumahnya sambil memandangi langit-langit yang sangat cerah, dia menghirup udara pagi yang cerah.
lalu datang lah Varrel dari dalam rumah sambil membawa segelas susu kepada Chelsea, dia duduk di samping Chelsea.
"ini Chel minumannya"
Chelsea mengambil segelas susu yang dibawa Varrel, lalu dia meminumnya.
"Rel kok Lo bisa tau gue ada disana?"
"karena gue melihat di ponsel mh kalau kamu ada disana Chel, dan maafin gue Chel, gue gak bisa jaga Lo dengan baik"
Chelsea memegang tangan Varrel,
"enggak kok Rel, Lo malah ngejaga gue non stop, makasih Rel" ucap Chelsea lalu Varrel memeluk istrinya itu.
"Rel"
"hmm?"
"apa Lo masih mau sama gue, kan muka gue udah jelek"
Varrel melepaskan pelukannya dan menatap mata Chelsea dengan serius.
"memangnya selama ini aku suka sama kamu karena wajahmu yang cantik?" tanya Varrel.
"ya bisa juga begitu sih"
Varrel menggeleng,
"enggak gue cinta sama kamu itu bukan dari bentuk fisik yang kamu punya Chel, melainkan.."
Varrel menunjuk dada Chelsea,
"Hati lo"
Chelsea mengeluarkan air matanya terharu dengan perkataan Varrel.
"lah kok nangis" ucap Varrel.
Chelsea membersihkan air matanya yang mengalir di pipinya,
"makasih Rel Lo udah jadi suami gue yang baik, mau menerima gue apa adanya"
Varrel tersenyum lalu ikut membersihkan air mata Chelsea,
"gue juga terima kasih sudah memberi istri yang sangat sayang sama aku, dan selalu kuat menghadapai masalah, I love you Chelsea"
"i love you too Varrel"
mereka berdua pun berciuman di pagi yang sangat cerah ini, masalah yang dihadapi mereka berdua sudah selesai.
"Hai Chelsea Varrel" ucap Lisa langsung masuk kedalam rumah di ikuti Tania dan Dito dibelakangnya dan terkejut melihat Chelsea dan Varrel tengah berciuman, sontak mereka berdua melepaskan ciumannya.
"ehhh maaf, gue ganggu ciuman kalian berdua" ucap Lisa sambil berpaling muka.
"anu enggak kalian gak ganggu" ujar Chelsea menahan malu.
"yuk kita keluar saja, gak papa Rel Lo teruskan saja sama Chelsea" kata Dito.
"enggak guys, udah kelar kok, kalian bertiga masuk sini" suruh Varrel.
"iya guys ayok sini" lanjut Chelsea, lalu diberi anggukan ketiga temannya itu, segera mereka semua berjalan ke teras rumah suami istri ini dan duduk didepannya.
"maaf kita jadi gak enak sama kalian" ucap Tania.
"ya ampun udah lah kan kalian gak sengaja, eh iya kalian ngapain kesini, tumben Lo" ujar Chelsea.
"oh ya ini kita mau ngasih brownis buat lo" ujar Dito sambil memberikan sekotak brownis kepada Chelsea.
"wah makasih ya"
"kok cuman Chelsea yang dikasih, gue enggak gitu?" tanya Varrel.
"Lo gak sakit Rel, ngapain kita kasih habisin duit kita saja" goda Lisa.
"hmm okeh okeh"
"ini loh Rel gue kasih brownisnya, yuk kalian juga makan brownis" kata Chelsea sambil memberikan brownis nya.
"oke makasih Chel" Dito langsung membuka brownis itu lalu memakannya dengan lahap.
"eh gue juga mau dong Dit" ucap Varrel.
"enggak gue dulu"
"kampret Lo Dit"
Chelsea melihat mereka semua tertawa gembira, dia sangat bersyukur mempunyai orang-orang yang dekat dengan dirinya sangat baik, Lisa Tania dan Dito adalah teman terbaiknya, mereka semua sudah sangat baik membantunya, Chelsea mengingat kejadian disaat dirinya tertawa bersama dengan kedua sahabatnya itu, saat dia dilanda musibah disana kedua sahabatnya membantunya.
"terima kasih Tuhan sudah memberi orang baik seperti mereka semua, apa lagi engkau sudah memberiku suami yang sangat cinta dengan ku, Terima kasih"
•
•
•
**Tamat.
🥀**
__ADS_1
selesai sudah cerita dari Novel I Hate My Husband, saya sebagai author pamit undur diri, dan ada novel terbaru buatan saya lagi, yang insya Allah judulnya JESSIE.
bagaimana ya ceritanya, ditunggu ya😘