
Story Varrel
Hai nama ku Varrel Bramasta, atau juga dipanggil Varrel, sekarang saya berumur 40 tahun, saya bekerja di perusahaan papaku dulu, dan saya pengganti papa karena dia sudah pensiun.
Aku gak seperti kalian pikirkan menjadi bos yang dingin, cuek, seperti dulu waktu saya SMA, tapi malah sebaliknya.
Aku sedikit seperti dikatakan genit lah, saya sering mengedipkan sebelah mataku ke arah para karyawan ku, eh tapi bukan cowok ya, nanti kalian mikir aku kayak Aril, Gay.
Seperti biasa para pegawai ku banyak yang menjerit-jerit gak jelas, ada juga yang sampai pingsan bolak-balik.
haha lucu sih.
Bukan karena aku genit ya, karena aku punya cara sendiri, kalau aku seperti bos yang angkuh nanti para karyawan ku akan takut denganku dan bisa-bisa gak ada yang mau bekerja di perusahaan ku, karena sifat ku seperti dulu.
"Hai kamu semangat ya, nanti kalau semangat gaji kamu akan saya naikkan"
"Aahh iyaa pak Varrel...."
Lalu aku tersenyum dan mengedipkan sebelah mataku, membuat cewek itu memegang dadanya lalu terjatuh kelantai.
Sekarang aku tengah duduk dikursi kantorku, dan didalam aku gak sendirian, aku ditemani para karyawan ku, ya pastinya cewek.
Ada 6 orang yang duduk di depanku.
"Eh iya pak, Jessie anak pak Varrel ya?"
"iya dia anak saya"
"Cantik Lo pak kayak mamanya"
"Iya lah"
"Huft mungkin kalau aku nikah sama bapak, anak bapak mukanya pasti kayak aku jelek"
"Hey ngapain merendah, kamu cantik kok"
Semua para cewek itu menatapku terkejut, dengan wajah yang merah bagaikan tomat di pasar.
"Aahh bapak gombal"
"iya nih pak bikin saya baper tau.."
"pak Varrel makin hari makin gemesin loh"
"Tapi sayang kita semua gak bakal pernah bisa memilikinya"
Semua tertawa, aku pun juga tertawa, tapi mataku tak sengaja melihat ke depan pintu, ada seseorang wanita tengah berdiri tepat di depan pintu.
Chelsea, istriku !!!
Raut wajahku berubah seketika, Aku terdiam langsung, sambil ku tundukkan kepalaku.
Tapi...
para karyawan ku masih saja tertawa sambil membahas terus tentang diriku.
"Gak papa pak Varrel gombal ke kita, kan istrinya gak ada disini"
"eh iya bener juga ya, ayo pak gombal kita lagi dong"
"iya nih pak, nanti kita akan selalu semangat kerja terus"
__ADS_1
"Pak kok malah diam pak?"
Aku melirik ke arah Chelsea, dia berjalan mendekati para karyawan ku, dengan tangannya dia lipat ke dadanya.
"Suka ya dengan gombalan pak Varrel" ucap Chelsea tepat dibelakang para cewek itu.
"Iya lah, penting gak ada istrinya"
"Eh tapi ini bukannya suaranya istrinya pak Varrel ya"
"What?!"
semua karyawan ku menoleh kebelakang dengan perlahan, dan mereka semua membulatkan kedua matanya melihat Chelsea berdiri tepat di belakang mereka.
"Seneng banget ya digombalin sama suami saya, huft tapi kalau saya dirumah jarang banget di gombalin kayak tadi"
kata Chelsea membuat jantungku udah berdetak gak karuan.
Chelsea berjalan mendekatiku.
"mati aku"
batinku.
Dia menjewer telingaku,
"Aaahhh sakit.. sakit.."
ringisku.
Menjewer nya jangan pakai ditanya, tangan Chelsea kecil, tapi kalau mencubit atau menjewer itu udah paling sakit dari pada ditampar.
"Beraninya yaaa kamu selingkuh haaaa??"
"Kamu pikir aku tuli, aku mendengar semua ucapanmu dan karyawanmu ini, kalau kamu itu suka menggombal, ih dasar"
Chelsea menatap tajam ke arah karyawanku.
"Heh ngapain kalian masih disini, sana pergi, kembali kerja"
"Eh iya baik nyonya" segera semua keluar dari dalam kantorku.
"Chel Chel lepas.. sakiitt"
"Enggak biar tau rasa ya kamuuuu"
"Selingkuh cuman satu orang, kan ini banyak, jadi bukan namanya selingkuh dong"
Nyiitt.
Dia malah memutar telingaku membuat aku ingin menangis rasanya.
"SAMA SAJA!"
tok tok tok
Suara ketukan pintu, membuat Cheslea langsung melepaskannya, aahh syukurlah, aku langsung memegang telingaku, pasti sekarang warnanya merah, sumpah telingaku rasanya panas.
"Permisi pak Bu"
ucap satpam.
"Ada apa?"
__ADS_1
"anu non Jessie lagi marah-marah dibawah"
Aku dan Chelsea terkejut mendengarnya.
"Marah sama siapa pak?"
"marah sama salah satu kasir food court"
Chelsea langsung berlari kebawah, aku juga gak berpikir panjang, ku ikuti Chelsea untuk melihat Jessie.
- - -
"mas dari tadi saya ditanya mulu, ayo mas Lang pesankan minuman saya" bentak Jessie.
"tapi saya gak bisa kalau mbak belum jawab pertanyaan saya"
"kalau Lo bilang sekali lagi, gue pukul kepala Lo, sekarang cepaaaattt pesankan minuman sayaa"
Chelsea memegang pundak Jessie, membuat dia sontak menoleh.
"kamu kenapa marah-marah gini Jes?"
"Ini loh ma, tukang kasir gak jelas, masak ya dari tadi aku ditanya mulu, ya ditanya masih sekolah? udah punya pacar? tinggal dimana? sering pakai skincare apa?"
"Yaudah kita pesan makanan di luar saja, ayo"
Jessie menghela nafasnya besar, lalu melirik tajam ke arah kasir itu.
Mereka berdua pergi, lalu ku dekatkan kasir itu yang masih berdiri di disana.
"Kamu suka sama anak itu?" tanya ku.
"Iya pak, dia cantik tapi suka mengomel, jadi aku suka tipe cewek kayak gitu"
Aku tertawa kecil,
"Kamu tau siapa cewek itu?"
"gak tau pak memang bapak tau?"
Braakk!!
Aku mendobrak meja kasir itu cukup keras.
membuat semua yang ada di food court melihat ke arah saya.
"kamu masih satu hari ini bekerja disini jadi kamu belum tau keluarga saya ya, jadi dia itu Jessie, anak saya" ucapku dengan tatapan tajam.
Aku melihat dia membulatkan kedua matanya, sambil menelan saliva nya.
"A-anu pak maaf, s-saya gak tau, k-kalau dia anak bapak, maafkan saya pak"
"kalau kamu mau dekatin anak saya, hadapi saya dulu" ujarku dengan nada dingin, membuat badan dia bergetar.
Lalu aku pergi dengan santainya, ke dalam kantor pribadiku.
🥀
Ini dilanjut atau sampai sini doang ya? masih bingung saya hehe.
like and Comment yang banyak kalau ingin melanjutkan cerita ini, nanti saya akan beri bonus cerita kayak ini.
👍🏻💬🔥
__ADS_1