I Hate My Husband

I Hate My Husband
Season 2 (35)


__ADS_3

12 tahun sudah anakku tumbuh dengan cepat, sekarang dia masuk kelas satu SMP, dia menjadi anak yang ceria, tapi lebihnya itu sama seperti sifat ku sih, gak ada yang sifat seperti ke papanya.



nah itu foto anakku waktu umur 12 tahun ini, cantik banget dia, campuran antara wajahku dan wajah Varrel, kata orang-orang seperti itu.


"nih Jes, foto mama waktu umur 17 tahun"


"wah ini mama? gak berubah sampai sekarang mukanya?"


"ya iya lah kan mama rajin merawat muka mama"


"hebat juga mama aku"


tak lama dari itu, Varrel datang lalu duduk di samping Jessie.


"ada apa ini kayak seru"


"papa, ini papa waktu SMA?" Jessie menunjuk foto album ke arah Varrel.


"iya kenapa?"


aku bingung, tiba-tiba Jessie mendekatkan wajahnya ke arah papanya.


"papa sampai sekarang kok gak ada keriputan, sebenarnya papa umur berapa sih?"


aku menepuk jidatku mendengar pertanyaan Jessie.


"papa umur 35 tahun"


Jessie mengedip-ngedipkan matanya,


"berarti papa sama Mama nikah umur 23 yaa?"


"papa nikah umur 4 tahun lebih tua dari kamu"


aku melihat Jessie membulatkan matanya sambil tangannya bergerak mencoba menghitung nya.


"ha papa nikah umur 16 tahun, masih SMA?"


"ya begitulah"


"t-tapi Jessie kok lahir masih 12 tahun pa, apa Jessie anak pungut?"


"hmm papa merahasiakan ini dari kamu"


Varrel tertawa lalu berjalan masuk ke kamarnya, sementara aku melihay Jessie menundukkan kepalanya.


"kenapa sayang" tanya ku.

__ADS_1


"Jessie bukan anak mama sama papa ya?"


aku tersenyum sambil mengecup kepala Jessie,


"tanya saja sama papamu"


- -


malam hari, aku dan Varrel tengah bercerita tentang masa lalu ku dan Varrel saat pertama kali bertemu.


"dulu itu kita sempat bertemu Chel"


"masak sih Rel kok aku gak ingat ya"


"iya kamu gak bakal ingat"


"coba sih ceritakan gimana"


"jadi waktu aku umur 10 tahunan, pasti umur kita sama Chel, dan waktu itu aku, mama sama papa lagi makan di restoran yang sama saat kita dijodohkan awal-awal itu, lalu aku bertemu kamu, saat itu aku sangat malu bertemu kamu, ya karena kamu cantik sekali sih"


aku tertawa,


"haha lucu sekali terus-terus"


"terus kamu manggil aku, hey cowok sini jangan malu-malu sama aku, gitu kata kamu, lalu aku berjalan mendekatimu meski aku masih sangat malu, lalu tangan kamu memegang tanganku, lalu kamu ngomong, hai perkenalkan namaku Chelsea, kamu siapa"


"sumpah Rel aku gak ingat sama sekali kejadian itu"


aku sangat terkejut, dan yah aku mengingatnya disaat ditabrak mobil, dan kejadian sebelum ditabrak aku sama sekali tidak mengingatnya sampai sekarang.


"iyaa aku ingat saat ditabrak mobil, tapi sebelumnya aku gak ingat sama sekali Rel, apa aku hilang ingatan?"


"iya Chel, kamu hilang ingatan, dan aku merasa sangat sedih mendengarnya, saat aku bermain denganmu kamu selalu mengusirku, dan bilang, siapa kamu jangan dekat-dekat aku, kamu bukan temanku, disaat itu hatiku merasa hancur, aku mencoba mengingat kembali masa-masa kita bermain, tapi kamu tetap saja mengusirku, hey cowok kamu jangan sok akrab sama aku ya, kamu bukan siapa-siapaku"


aku syok mendengarkan ucapan dari Varrel, apa aku sejahat itu, setelah itu akhirnya aku mengingatnya kalau aku pernah membentak anak umur 10 tahunan, berarti itu adalah Varrel.


"Rel aku ingat, aku pernah bertemu seorang cowok, dan itu langsung akrab sama aku, makannya aku bentak seperti itu, dan apa jangan-jangan itu kamu? tapi kenapa mukamu berbeda"


"ya mungkin itu aku Chel, aku saja saat kedua kalinya bertemu kamu tidak aku kenal sama sekali, setelah tau kalau kamu namanya Chelsea baru aku mengingatnya"


"oh iya ya kan masih kecil jadi agak ingat-ingat dikit, eh tapi setelah itu kamu kemana?"


"aku diajak papa sama mama keluar kota untuk urusan bisnis papa Chel, dan setelah itu aku sangat membencimu karena kamu sudah memperlakukan aku seperti orang asing, dan ternyata kita dipertemukan kembali sampai menjadi suami istri"


"ya ampun memang jodoh itu gak kemana ya"


tok tok tok


suara ketukan pintu kamar ku membuat aku dan Varrel sontak menoleh.

__ADS_1


"siapa ya?" panggil ku.


"Maaaa.. Jessie gak bisa bubuk"


"kamu masuk saja sayang gak dikunci"


lalu Jessie membuka pintu kamarku, dengan aku bingung melihat dia berwajah sedih, lalu berlari ke arahku sambil memelukku.


"mama aku benar anak mama kan?"


"kenapa kok tanya gitu"


Jessie melepaskan pelukannya.


"aku gak anak pungut kan ma? papa.. Jessie gak anak hasil curian atau apa kan?"


"kamu anak hilang Jes" ujar Varrel lalu dia aku cubit pahanya.


"gak boleh ngomong gitu ke anak"


ucapku ke Varrel.


Jessie menangis, memang anakku ini agak cengeng kayak aku.


"tuh kan ma, berarti Jessie bukan anak mama sama papa... hiks.."


"Jessie kamu jangan dengarkan papamu itu. dia sinting memang, kamu itu anak kandung mama sama papa"


"bener?"


"sekarang kamu duduk ditengah sini" Jessie segera duduk diatas kasur dan duduk diantara kita berdua.


"lihat ke kaca depan"


Jessie menatap cermin besar yang ada didepan matanya saat ini"


"wajah kamu sama mama dan papa sama kan, lihat baik-baik mulut kamu kayak mama, jidat mu juga, tapi hidung mu kayak papamu ya kan"


Jessie tersenyum bahagia,


"iya ma sama, berarti benar ya Jessie anak papa sama mama benar?"


"iya sayang kamu anak papa satu-satunya, tadi itu cuman bercanda, sekarang kamu mau bubuk disini katanya kamu gak bisa bubuk" kata Varrel lalu diberi anggukan Jessie.


setelah itu kita bertiga tidur bersama, sementara Jessie tidur sambil memelukku, Varrel juga dia memeluk Jessie dan juga aku, ya tangan Varrel memang panjang sih sampai bisa merangkul kita berdua.


๐Ÿฅ€


aku terharu๐Ÿ˜ข

__ADS_1


๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ’ฌ๐Ÿ”ฅ


__ADS_2