
Saat dirumah pun aku terus-terusan diomeli Chelsea, karena ketahuan genit dengan karyawan ku, aku makan, aku kerja, aku membersihkan mobil, aku tidur, aku menutup pintu, dan juga disaat aku mandi Chelsea terus memarahi ku.
"Genit banget jadi orang, dasar!!!"
Teriak Chelsea.
"Papa jelek, papa genit, Jessie gak suka lihat papaaaa"
Teriak Jessie.
Lama-lama gendang telingaku mau pecah gara-gara terus di teriakin seperti ini terus.
- - -
Mulai sekarang aku udah merubah sifatku semula, menjadi bos yang cuek, dingin seperti masa SMA ku dulu.
"Selamat pagi pak Varrel"
"pagi" ucapku dengan nada dingin.
"Eh kenapa pak Varrel jawabnya dingin gini kan biasanya--"
"Gak usah banyak tanya, lanjut kerja" bentak ku.
"eh iya baik pak"
- - -
Disaat aku berada di kafe dekat dengan kantorku, aku memesan secangkir kopi kesukaan ku.
Aku duduk di paling pojok kafe itu, sambil memandangi ke arah luar yang tengah hujan lebat.
Sambil menunggu pesanan ku, aku memasang earphone ditelinga ku agar suara hujan yang lebat tidak membosankan di pikiranku.
"Pak ini pesanannya" ucap pelayan kafe.
Aku cuman melirik ke arah gelasnya lalu menganggukkan kepalaku sedikit.
Lantunan musik mengiringi malam hariku di kafe, aku meminum perlahan secangkir kopi ku, dengan tangan sebelahnya aku masih memegang hpku dan melihat foto-foto Chelsea.
Mulai dari foto disaat SMA atau juga masih kuliah.
__ADS_1
"Wajahmu dari dulu gak pernah berubah sayang" ucapku dengan senyuman tipis ku.
"Aku mau kita berdua menua bersama, aku ingin melihatmu dengan wajah keriput dan rambut berwarna putih"
Gak papa lah bicara dengan diri sendiri, asal jangan sampai terlanjur gila.
Tak sengaja aku melihat foto Jessie, anakku yang selfie dengan kameraku, aku tertawa sendiri melihat nya.
Dia foto dengan gaya yang lucu-lucu dan menggemaskan,
"Semoga kamu dapat jodoh yang bisa membuatmu nyaman Jes, papa akan selalu berdoa buatmu"
"Permisi"
Seseorang memanggilku, tapi aku tidak mendengarnya karena suara hujan dan musik membuat suara di sekitarku samar-samar.
"Permisi pak, mas" Dia melambaikan tangannya ke depanku membuat aku tersentak dan langsung mengangkat kepalaku.
"apa kursi ini kosong?" tanyanya, perempuan cantik, tinggi dan juga sexy.
"Kosong" ucapku dingin.
Bagus, siapapun tolong aku, aku gak bisa nolak kalau situasi seperti ini.
"Kan masih banyak kursi yang lain mbak, ngapain harus duduk disini"
"saya gak mau sendirian pak, boleh kan?"
Aku menghela pasrah,
"Terserah."
Cewek itu duduk, dan kalian tau, dia memakai rok mini membuat aku salfok ke bagian kakinya.
Aku memanggil pelayan itu, dan membisikkan nya, lalu dia mengangguk dan segera pergi.
Tak lama dari itu, pelayan itu memberi serbet ke padaku.
"Mbak pakai ini" ucapku sambil memberi serbet ke arah cewek itu, sedangkan dia melihat serbet yang aku beri dengan ekspresi bingung.
"buat?"
__ADS_1
"gak sopan mbak kelihatan auratnya"
Dia lalu menunduk lalu tertawa kecil,
"oh iya maaf pak" cewek itu mengambilnya lalu menutup i pahanya.
"bapak kayaknya cowok yang perhatian banget ya"
"Iya lah"
"btw, bapak kesini sendiri?"
"iya"
"ohh, kalau boleh tau umur berapa?"
"40 tahun"
"beda 5 tahun ya pak, saya umur 45"
Aku terkejut sambil melotot,
"kirain nih orang masih umur 20 tahunan, kok bisa ya gak ada keriputnya sama sekali"
"bapak punya pacar"
Aku terdiam sejenak menatap mata cewek itu yang sangat bersinar,
"Nggak punya"
"oh syukurlah" dengan PD nya cewek itu mengucapkan itu.
Aku tersenyum miring,
"Tapi aku udah punya Istri dan anak"
"Apa?!"
Aku tersenyum lalu segera berdiri dan meninggalkan cewek itu, yang masih melihatku sampai aku masuk kedalam mobil.
Tamat.
__ADS_1