
-Diary Chelsea-
Setelah kelulusan SMA, aku dan bersama kedua sahabatku ingin melanjutkan kuliah di tempat yang sama, dan akhirnya kita masuk di kuliah yang sama, dan gak cuman mereka, tapi Varrel juga, dia aku suruh untuk masuk kuliah sama dengan ku, ya biar bisa antar jemput juga sih hehe.
Oh ya pasti kalian kaget, aku saja terkejut setelah mendengar peringkat 10 besar dengan nilai UN tertinggi di sekolah ku.
Lisa teman aku yang paling bawel dan yang gak punya malu itu, mendapat peringkat ke 1, aku syok mendengarnya, gak heran juga sih karena dia itu ikut OSN, tapi dia lemah yaitu cuman mengerjakan PR, entah kenapa dia begitu malas kalau mengerjakan tugas itu, tapi kalau waktu ujian juga dia katanya malas buat belajar, belajar dia itu dari handphone, seperti vidio-vidio mengajar itu semua dia lihat.
dan yang mendapat peringkat 2 yaitu suamiku sendiri Varrel, lagian waktu belajar buat UN dia tertidur di ruang tamu loh, aku lihat dengan mata ku sendiri, kok bisa ya anak-anak seperti itu, jarang belajar tapi bisa pintar.
Nah kalau aku nih, saat Varrel tertidur di ruang tamu, aku tetap belajar sampai otakku rasanya berputar kesana sini, dan dalam hati ku aku berkata,
"pokoknya aku harus masuk 5 besar"
Tapi Tuhan berkata lain, aku mendapat peringkat 10 di sekolah ku, dan menurutku sih bagus, dan sangat bagus malahan buat Chelsea ini.
Sebelum menikah dengan Varrel aku sangat bodoh, bukan berarti bodoh sih, cuman belum bisa aja, kan aku jarang belajar.
Oh iya Tania, dia mendapat peringkat 5 sebelum aku, jarak aku dan teman-teman memang jauh banget, tapi gak apa lah, yang penting aku bisa naik ke panggung dan menerima piala beserta sertifikat dari sekolah, saat itu aku tersenyum bahagia, dan dari kejauhan mama dan papaku berdiri sambil melambaikan kedua tangannya.
"LIHAT ITU ANAK SAYA, DIA YANG PERINGKAT SEPULUH ITUUUU"
teriak mama menunjuk diriku, senyuman yang aku berikan kepada mama mulai pudar, karena aku malu mamaku berteriak seperti itu, lalu aku mencoba melirik ke arah mama dan papa Varrel, mereka cuman tersenyum ke arah Varrel, mungkin dari dulu Varrel pintar ya, jadi terbiasa melihat anaknya di atas panggung, gak kayak mamaku itu dia masih berdiri disana dan para orang tua banyak yang melihatnya, aku sangat malu punya mama seperti itu, tapi aku tetap sayang kok sama dia, hmm.
Ya ampun.
nih cuman Dito yang berbeda kuliah dengan kita semua, karena dia lebih ke teknik, dia pun akhirnya masuk di Institut Teknologi Bandung, gak papa lah terpisah tapi kalau bisa masih tetap bisa kumpul kok, meski jarang.
setelah itu aku melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia jurusan sastra Indonesia, kata Varrel lebih baik aku menyukai pelajaran saat di SMA yang mudah agar kuliah nanti tidak salah jurusan, kenapa aku memilih jurusan sastra Indonesia, karena aku melihat nilai rapot dan nilai UN ku paling bagus diantara pelajaran yang lain, apalagi matematika haduh gak usah dibahas deh, aku memang susahnya di pelajaran kalau ada hitung-hitungannya aku lemah.
Varrel kebalikan dari aku dia sangat mencintai hitung-hitungan apa lagi matematika dia mendapat nilai 10 di UN nya, sumpah hebat banget.
tapi Varrel memutuskan untuk masuk di jurusan Informatika, karena katanya biar mendapat pekerjaan yang mudah, aku sih iya-iya saja yang penting Varrel suka dengan jurusannya.
aku berdoa semoga Varrel menjadi sukses, dan menjadi bos di perusahaannya, seperti papanya kelak.
sementara Lisa masuk jurusan sastra Inggris karena dia jago banget kalau ngomong bahasa inggris, dan saat dia berbicara aku cuman mengangguk pura-pura memahami ucapan dari Lisa.
lalu Tania, dia masuk jurusan Biologi, karena dia suka banget yang namanya penelitian, katanya sih asik kalau melihat hewan-hewan kecil bergerak, kalau aku sih lebih ke jijiknya yaa.
~•~
bertahun-tahun sudah aku lalui, tinggal mengerjakan skripsi aku lulus kuliah, udah gak sabar banget, karena kuliah itu gak segampang yang kalian pikirkan, gak seperti saat di sekolah yang PR cuman beberapa buku, tapi kalau kuliah buku bisa-bisa tebal 10 cm huhu.
aku duduk di teras rumah ku sambil mengerjakan skripsi di laptop, agar tidak bosan aku memakan Snack dan susu sebagai cemilan ku, tak lama dari itu Varrel duduk di sampingku, dia juga sama mengerjakan skripsi bareng aku.
"Udah selesai ngerjakan nya?" tanya Varrel membuat aku sontak menoleh.
"belum masih banyak, kalau kamu?" ucapku yang terus mengetik di laptop.
__ADS_1
"kurang 2 lembar selesai"
aku membulatkan mataku mendengar ucapan Varrel,
"yang benar?" tanya ku meyakinkan.
"iyaa sudah 348 halaman"
"ya Allah Rel aku saja kurang 100 halaman, otakku sudah kosong"
"sini aku bantu deh"
"gak usah, biar aku menyelesaikan sendiri, dan aku belajar untuk berjuang, karena selama ini aku jarang untuk berjuang"
Varrel mengecup kepalaku, huh untung aku udah shampo an, kalau enggak mungkin rambutku bau.
hehe.
"semangat sayang"
aku tersenyum sambil mengangguk lalu meneruskan mengetik di laptop ku.
malam telah tiba, aku dan Varrel tengah duduk di kursi ruang tamu sambil menonton film.
"Chel kalau kita punya anak, enaknya namanya siapa ya?" tanya Varrel, membuat jantungku berdetak kencang.
"cewek?"
aku mengangguk,
"iyaa"
"kalau cowok namanya siapa?"
"aku berharap sih pengen anak cewek hehe"
"tapi dapat nya cowok gimana?"
"kalau cowok sih gak papa kalau menurutku, apapun jenis kelaminnya yang penting aku bersyukur udah dikaruniai anak"
"iyaa Chel"
"namanya sih aku pingin Jimin, kayak penyanyi Korea yang terkenal banget itu"
"hmm kalau urusan korea giat banget"
"kan aku suka banget yang namanya Korea haha"
"kenapa namanya kok J semua?"
__ADS_1
"ya gak tau aku Rel, aku lebih suka nama depannya J, karena kalah di panggil bisa Jeee gituu"
"yaudah deh terserah kamu, mau buat sekarang"
aku membulatkan kedua mataku,
"enggak Rel jangan dulu, lagian kita kan belum lulus kuliah, nanti waktu wisuda perut aku buncit dikira aku tambah gendutan"
"terus kapan?"
"nunggu lulus saja Rel, gak papa kan?"
"iya gak papa, aku cuman nurut kemauan istri"
aku tertawa lalu memeluk Varrel,
"makasih Rel.."
~•~
setelah lulus kuliah, nafasku sangat lega, akhirnya skripsiku yang amburadul ternyata diterima juga, aku sangat bersyukur mendengarnya.
satu tahun sudah aku menjalankan hidup berumah tangga seperti suami istri pada umumnya.
Varrel sekarang menjadi wakil bos di perusahaan papanya, aku sangat bersyukur kerja keras yang dilalui Varrel memuai hasil yang sangat memuaskan.
yang asli aku ingin bekerja untuk membantu Varrel mencari duit untuk ditabung, tapi Varrel tidak mengizinkan aku bekerja, lebih baik aku dirumah mengurus rumah dan juga dirinya, jadi mau bagaimana lagi, aku menerimanya.
tak lama dari itu, ya sekarang aku tengah hamil 7 bulan dan kalian tau aku sangat senang mempunyai anak, dan aku akan menjadi seorang ibu.
jenis kelamin anakku ini adalah perempuan, aku sangat senang karena Tuhan mengabulkan doa ku, dan nama calon anakku ini adalah Jessie, aku dan Varrel sepakat untuk memberi nama anaknya Jessie Anastasia.
beberapa bulan kemudian anakku lahir dengan cara lahir normal, aku sangat senang melihat anakku lahir, aku menggendongnya dan baru pertama kali aku menggendong bayi, mama dan papaku mencium keningku.
"papa senang banget kamu punya anak Chel" ucap papa sambil mengelus rambutku.
"mama akhirnya punya cucu dan mama akan dipanggil nenek, Jessie jangan manja-manja kayak mamanya ya"
"ih mama, kan Chelsea gak manja, cuman dikit doang sih hehe"
Varrel tersenyum tipis melihat aku menggendong anaknya, dia mengedipkan sebelah matanya ke arah aku, dan aku cuman menjulurkan lidahku ke arahnya sambil tersenyum.
aku berharap semoga kelak anakku ini menjadi anak yang Solehah, berbakti kepada aku dan Varrel, dan cantik seperti aku hahaha amin...
🥀
itu dia cerita singkat perjalanan Chelsea dan Varrel.
terima kasih.😘
__ADS_1