
Tang! Bang! Bung! Eeekkk! Squik, squik?
"Setan, seperti apa kegaduhan di sana? Kuping ku akan budek jika begini terus."
Ling Chyou menutup kuping nya walau itu tidak berguna sama sekali.
"Bagaimana mereka bisa bertarung dengan keberisikan ini!? Kuping ku mau meledak!"
Tuk, tuk.
Ketukan pintu yang tidak berguna kerana di redam suara kegaduhan itu. Seorang anak 11 tahun memasuki ruang salinan itu.
"Kakak, ada kegaduhan berlaku. Ayah menyuruh ku menyampaikan kan ini pada mu. Ayah menyuruh kamu untuk diam di sini."
"Apa!?"
'Apa dia pikir aku bisa mendengar dengan keberisikan ini? Kamu gila apa?'
Adiknya menutup matanya saat masuk jadi dia tidak bisa melihat kakaknya menutup kupingnya. Mendengar kakaknya berteriak 'apa' membuatnya membuka matanya.
Saat itu dia bisa melihat kakaknya yang duduk dan menutup kupingnya dengan ke dua tangannya.
Saat itu dia mengingat yang kakaknya baru di tingkat tanah. Dia belum bisa mengendalikan bunyi di sekelilingnya.
Awalnya dia berpikir 'apa' itu adalah marah kerana tidak di benarkan ke sana. Dia dan kakaknya memiliki hubungan yang buruk. Kakaknya bahkan tidak ingin melihat wajahnya.
Ayahnya memberitahu bahwa kakaknya memiliki kecacatan dalam pelatihan bela diri. Dia menjadi 3 kali lebih lambat dalam menaikkan tingkatnya dari orang biasa dan untuk melindunginya, ayah memberikan kursi waris padanya. Namun melihat kakaknya yang berusaha keras untuk kursi waris membuatnya sedikit memahami mengapa kakaknya membencinya.
Ling Chen mendekati Ling Chyou dan menutupi telinganya dengan ke dua tangannya dan menggunakan energi dalamnya untuk menghalang suara yang tidak diingini masuk.
'Kakak pasti akan kesal.'
Melakukan itu bahkan untuk membantunya pasti akan membuat kakaknya berpikir dia di remehkan.
"Ayah bilang kamu tetap di sini dan jangan pergi ke arena semula. Sekarang terjadi kegaduhan yang bahkan melibatkan senjata."
"Begitu?"
Ling Chyou memalingkan wajahnya walau tangan Ling Chen masih berada di kupingnya.
Wajahnya memerah.
'Duh...... Kamu bukan adik ku. Kekok banget! Mana kamu tampan lagi! Seksaan batin ku! Kamu tidak bisa bersama adik mu Huanrang!'
Ling Chen hanya berpikir kakaknya tidak mahu melihat dirinya.
"Terima kasih. Kuping ku sudah ingin meledak."
'Terima kasih' kata itu membuat Ling Chen membulat matanya.
"Apa kamu baik baik saja sebagai pewaris?"
Ling Chyou menanyakan itu tampa melihat adiknya. Tentu saja, jika dia melihat, dia akan merasa sangat kekok dan malu. Namun yang di pikirkan Ling Chen adalah Kakaknya saat ini merasa tertekan kerana kalah.
"Tentu. Aku ingin meneruskan keluarga Ling."
Ling Chen memutuskan untuk jujur. Itu mungkin membuat kakaknya semakin tertekan. Namun dia tidak ingin berbohong tentang keinginan nya.
"Ling Chen, aku ingin berhenti dari seni bela diri."
Pernyataan itu membuat Ling Chen benar benar tersentak.
"Kakak, apa maksud mu!?"
'Apa dia ingin meninggalkan keluarga ni hanya kerana dia kalah dengan memalukan!?'
Wajah Ling Chen benar benar panik. Namun Ling Chyou tidak bisa melihatnya kerna dia tidak melihatnya.
"Bukan bererti aku ingin meninggalkan keluarga ini. Aku hanya, sangat lambat dalam pelatihan dan pelatihan hanya menyakiti tubuh ku. Berlatih hanya sesuatu yang sia sia buat ku. Aku ingin ke arah academic. Itulah mengapa, aku ingin kamu menjadi pewaris tampa ada yang memaksa mu. Aku ingin melepas hak waris ku, itu saja."
Ling Chen bisa melihat senyum lembut di wajah Kakaknya. Juga Ling Chyou tidak berbohong. Pada pertarungan dia dan Zhang Quon hari ini, teknik yang dia gunakan hanya menyakitinya lebih dari tendangan Zhang Quon di perutnya.
Menitis, menitis.
Air mata mengalir dari mata Ling Chen.
"Ehhhhh!? Ling Chen, kamu kenapa!?"
Ling Chyou secara refleks mengusap air mata Ling Chen dengan ke dua tangannya.
__ADS_1
"Kakak, mengapa kamu menahan diri selama ini!? Jika kamu kesakitan, kamu seharusnya bilang saja! Tidak ada yang memaksa mu untuk melakukan itu!"
"Hahahaha. Kamu bisa mengatakan itu saat semua orang di sekte ini melihat ku seperti duri? Mereka ingin aku menghilang supaya tidak memalukan sekte Ling. Bagaimana aku bisa bilang tidak ingin melakukan ini."
Ling Chyou bisa merasa tangan Ling Chen yang di kupingnya sedikit di tekan.
"Siapa, siapa yang punya nyali berbicara seperti itu? Aku akan bilang ke ayah. Kakak, kamu duduk saja di sini jangan keluar."
"Eh, tapi...."
Ling Chen langsung pergi meninggalkan ruang salinan itu.
..............
"Ouh, dia menggunakan energi dalam untuk membuat ruangan ini kedap suara."
Ling Chyou menghela nafas panjang.
"Hidup di dunia ini juga tidak buruk."
Dia bergumam dan langsung tertidur kerana kesakitan dan kelelahan.
.
.
.
.
.
"Ayah!"
"Ling Chen? Apa kamu bertengkar dengan kakak mu lagi?"
Ling Huo melihat ke arah Ling Chen sambil di tangannya memiliki pedang yang di basahi darah segar.
"Ah, kegaduhan ini tampaknya sangat serius. Ini sudah kelewatan batas bahkan para tetinggi sekte turun hanya kerana anak mereka kalah."
Ling Chen bisa melihat para tetinggi sekte menyerang Zhang Quon. Namun dia di lindungi ayahnya juga sekte Tang.
Tang Jianyin, tetinggi sekte Tang yang berbadan sexy dan baju yang cukup terbuka. Tingkat matahari 7. Dia sudah hampir mencapai tingkat dewa. Tidak ada yang berani menentangnya.
"Tang Jianyin bahkan turun tangan? Seberapa banyak kerosakan yang di lakukan sekte Liu saat aku bertemu kakak!?"
Ling Chen benar benar tidak percaya apa yang dilihat nya.
"Seorang gadis dari sekte Tang mencuba membantu Zhang Quon dan akhirnya di serang juga dan ingin di leceh kan sekte Liu. Itulah mengapa tetinggi sekte Tang turun tangan. Apa yang berlaku hingga kamu datang menemui ku lagi?"
Ling Huo menerangkan apa yang terjadi. Dengan turun tangannya Tang Jianyin, masalah ini sudah selesai.
"Ayah, kakak memberitahu ku ini."
Ling Chen mengatakan semua yang di bicarakan dirinya bersama Ling Chyou.
Niat membunuh keluar dari Ling Huo.
"Hei, pemimpin Ling, apa kamu ingin meneruskan kegaduhan ini dengan niat membunuh itu?"
Tang Jianyin menegur Ling Huo.
"Tidak, ini tentang putra ku. Aku ada urusan dengan sekte ku sekarang. Aku minta diri dulu."
Dengan cepat Ling Huo dan Ling Chen pergi dari sana.
.
.
.
.
.
Di ruang salinan.
Tuk, tuk.
__ADS_1
Sekali lagi Ling Chen mengetuk dan masuk ruangan itu.
Dia melihat kakaknya yang tertidur lelap.
"Mari pulang dulu ayah. Kakak pasti sangat kelelahan."
Ling Huo mengangguk dan mengangkat putra sulungnya itu.
.
.
.
.
.
.
.
2 hari kemudian.
Ling Chyou membuka matanya dan melihat adiknya sedang memerah kain.
"Ling Chen?"
Suaranya garau dan kepalanya terasa berat.
"Kakak? Kamu tertidur untuk 2 hari. Kamu demam tinggi kerana kelelahan dan kerusakan merendian agak teruk. Kakak, kamu terlalu berlebihan pada diri sendiri."
Ling Chen mengatakan itu sambil menukar kain yang ada di dahi Ling Chyou.
"Begitu. Aku tidak mahu makan ubat, bisa tidak?"
Ling Chen menatap tajam Ling Chyou.
"Tidak. Kakak, aku bahkan memakan ubat tampa kesulitan, mengapa kamu yang kesulitan?"
Ling Chyou hanya tersenyum dan pasrah di suapin ubat yang sangat pahit.
'Gila, pahit banget!'
Ling Chyou mengerang sambil mencuba tidak memuntahkan kembali ubat itu.
"Ini bubur, kamu seharusnya sangat lapar sekarang."
Kerana kondisi nya yang lemah, Ling Chyou hanya memakan bubur tampa banyak protes.
"Ayah bilang dia sudah mengeluarkan diri mu dari sekolah bela diri. Sekarang dia mendaftar kan diri mu ke sekolah academic."
Sekolah academic adalah sekolah untuk para buangan yang tidak bisa bela diri. Yah, ini kan murim.
"Aku akan menjadi pewaris yang baik. Kakak, kamu hidup saja sebagai dirimu. Tidak perlu memaksa diri."
Ling Chyou hanya mengangguk perlahan kerana dia sedang lemah saat ini. Dia tidak punya kekuatan untuk berbicara.
"Juga semua orang yang meremehkan mu sudah di usir dari sekte ini. Ayah sangat marah mengetahui kakak memaksa diri kerana omongan mereka yang ayah tidak menyayangi kakak kerana kakak lemah. Mereka keterlaluan!"
Ling Chyou tidak bisa membalasnya. Namun dia memiliki firasat buruk mengatakan dia akan bertemu orang yang di usir itu.
'Well, mari pulihkan diri dan ke sekolah academic.'
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...............
__ADS_1