I Will Be Good People

I Will Be Good People
Episode 50


__ADS_3

Ling Chyou membuka matanya dan melihat wajah Zhang Quon yang tampan di sampingnya yang memeluknya.


Ling Chyou tersenyum dan bangun dari kasurnya. Dia bersiap dan setelah dia selesai, Zhang Quon baru bangun. Zhang Quon bukan seseorang yang bangun lambat namun dia selalu lambat ketika tidur bersama Ling Chyou.


"Benerin rambut mu ini..."


Ling Chyou duduk dan dengan lembut membenarkan rambut Zhang Quon yang berantakan. Namun Zhang Quon tidak meresponnya.


Ling Chyou menghela nafas.


"Apa kamu mimpi buruk? Apa pon yang kamu mimpikan itu tidak akan terjadi. Jadi berhenti mengkhawatirkan sesuatu yang tidak penting."


Zhang Quon mengangguk dan mula bangun. Namun dia masih merasa resah. Ling Chyou berpikir dia harus melakukan sesuatu.


Mentol muncul di samping kepalanya.


"Zhang Quon, jika kamu sangat khawatir, bagaimana jika kita berpisah untuk sementara?"


Zhang Quon tersentak. Dia tidak ingin melakukan itu. Tapi dia juga khawatir...


"Kamu pergi ke kerajaan 3 untuk pertukaran ahli bela diri ini selama seminggu. Aku pasti kamu sangat baik untuk menunjukkan kekuatan ku."


Zhang Quon menghela nafas. Jadi itu adalah kerja. Dia pikir untuk putus.


"Ha.... Aku tidak akan melihat pria imut ku untuk seminggu.... Apa kamu tidak akan merindukan ku? Hnm?"


Ling Chyou menghela nafas dan bangun sambil mendekati Zhang Quon.


"Kamu tidak?"


Zhang Quon tersenyum.


"Tentu saja tidak."


Zhang Quon memeluk Ling Chyou lembut.


"Aku tidak akan bisa sehari pon tidak memikirkan mu."


Wajah Ling Chyou sedikit memerah. Sudah lama sejak Zhang Quon menggunakan ayat manis untuk mencairkannya.


Wajah merah Ling Chyou adalah yang paling di sukainya setelah senyumannya. Zhang Quon mengangkat dagunya dan memberikan ciuman pagi.


"hnm... Hah..."


Zhang Quon memasukkan lidahnya kedalam mulut Ling Chyou dan membuat ciuman itu semakin panas. Ling Chyou sudah lama tidak kehabisan nafas kerana ciuman memukul dada Zhang Quon perlahan. Air liur mengalir keluar dari mulutnya menikmati sensasi itu.


"Hah....."


Ciuman itu di lepaskan dan Ling Chyou mengambil nafasnya. Zhang Quon suka dengan wajah menggoda itu. Dia ingin melakukan lagi.....


Brak!


"!!?"


Ling Chen membuka pintu tanpa mengetuk kerana kebiasaan. Ling Chyou langsung menolak Zhang Quon menjauh.


"Ahem. Li, Ling Chen, kamu harus mengetuk pintu! Kamu tahu kunci tidak berguna kerana kamu kuat."


Ling Chyou langsung mengelap air liur yang mengalir keluar dari mulutnya.


Berapa kuat kunci yang di gunakan Ling Chyou, semuanya hancur dalam semalam hanya kerana kebiasaan Ling Chen untuk buka pintu tanpa di ketuk.


Namun Ling Chen tidak berteriak marah atau mengeluarkan anergi apinya seperti selalu. Rasanya aneh jadi Ling Chyou menatapnya.


"Kakak......."


Mata Ling Chen memerah seolah dia baru saja menangis.


"Ada apa? Apa kamu menangis? Ada sesiapa yang mengganggu mu?"


Ling Chyou dengan cepat mendekatinya dengan cemas.


Zhang Quon juga bingung dengan situasi itu.


"Hisk, Hisk..."


"Uwahhhh!!! Quon, kamu keluar dulu!"


Ling Chyou panik melihat Ling Chen menangis menolak Zhang Quon keluar. Zhang Quon juga bingung dan hanya menurut. Tentu saja keluarganya adalah yang pertama baginya.


****


"Kamu kenapa?"


Ling Chyou dengan lembut bertanya. Ling Chen diam seketika.


"Aku rindu ayah....."


Mata Ling Chyou terbuka lebar pada pernyataan itu.


'Benar. Dia anak kecil juga.'


Ling Chyou tersenyum lembut.


"Aku akan memberikan izin untuk turun. Kamu bisa pergi bermain dan kembali ke sini setelah selesai."


Ling Chen mengangguk. Mereka berbual beberapa minit dan Ling Chen keluar.

__ADS_1


"Hah....."


Ling Chen menghela nafas.


'Pada akhirnya aku tidak bisa mengatakannya.'


Ling Chen terlihat kecewa. Dia berjalan pulang ke kamarnya dan terserempak dengan Yin Mei. Yin Mei memegang buku novel cinta.


"Novel cinta lagi?"


Ling Chen menyapa.


"Mau pinjam?"


Yin Mei mengabaikan soalan Ling Chen. Apa salahnya wanita menyukai novel dengan keasmaraan?


Ling Chen menggeleng.


"Ini, bisa tolong letakkan kembali di perpustakaan? Aku ada janji temu untuk bergosip."


Ling Chen mengambil buku itu.


'Yaelah.... Cewek kerjaannya gosip mulu.'


Ling Chen mendengus dan berjalan ke perpustakaan. Dia hanya penasaran, jadi dia membacanya.


Dia langsung ke tengah buku.


'Jantung ku berdetak sangat cepat. Ciuman hangat yang di berikan orang itu membuat ku terlena.....'


Wajah Ling Chen memerah dan langsung menutup buku itu.


Tik, tok, tik, tok.


'Ah! Aku penasaran!'


Ling Chen kembali membuka buku itu. Dia sampai ke perpustakaan dan duduk membaca novel cinta yang sangat di gemari para cewek juga kakaknya.


****


Ling Chen menutup wajahnya dengan kedua tangannya setelah menutup buku yang dia baca hingga akhir. Soalan yang tidak dapat dia tanyakan pada kakaknya terjawab di sana.


'Aku tidak bisa melihat mu lagi. Ini akan menjadi yang terakhir buat aku melihat mu.'


Orang yang selalu mengganggu mimpinya untuk 3 tahun terakhir, orang itu tidak bisa memasuki mimpinya lagi. Dia bangun dan merasa sangat sedih. Namun dia tidak tahu mengapa hatinya sangat sakit.


Dia tidak mengetahui nama orang itu. Namun dia selalu datang dalam mimpinya dan menceritakan apa yang terjadi di dunia bawah. Bagaimana dengan sekte Ling, bagaimana sekte Liu di hancurkan dan sebagainya. Orang itu lembut, santai dan terkadang..... Romantis?


Jantungnya selalu berdetak dengan cepat setiap kali mereka bersama. Sikap lembut dan nakal juga membuatnya..... Luluh? Ling Chen tidak pernah tahu menahu tentang cinta dan bagaimana itu bertindak pada tubuhnya. Itulah mengapa dia ingin bertanya pada kakaknya yang lebih tahu tentang itu.


Namun sekarang, semuanya terjawab dengan 1 buku.


Namun masalahnya adalah, Ling Chen tidak bisa melihat orang itu lagi jika bukan dalam mimpinya. Dia bahkan tidak tahu di mana dia tinggal.


Orang itu tidak ingin memberitahunya bagaimana keras pon dia bertanya.


'Mari turun dan rehatkan pikiran ku.'


Ling Chen dengan cepat menyingkirkan hal tidak berguna.


****


Ling Chen turun hari itu dengan izin Ling Chyou sebagai raja. Tangga turun dan dia dengan cepat turun.


Turun saja dia, dia bisa melihat ayahnya menunggu di sana.


"Ayah!"


Ling Chen berlari ke arah ayahnya. Sudah 5 tahun sejak dia melihat ayahnya. Dia langsung memeluk ayahnya yang berkepribadian sama dengannya.


Ayahnya juga membalas pelukan Ling Chen.


Mereka bersoal jawab untuk seharian penuh tentang apa yang berlaku 5 tahun terakhir walau itu sudah di tulis pada surat. Ayahnya tentu saja senang mendengarnya langsung dari anaknya. Dia agak sedih kerana anak sulungnya tidak bisa kembali. Namun sebagai ketua sekte, dia tahu betapa banyak kerja seorang raja.


****


Seminggu berlalu dan Ling Chen hanya bermain di bawah. Dia pikir akan kembali dalam sebulan.


Tiba tiba, seseorang berjubah hitam dengan banyak tambalan yang bergerak seperti melarikan diri menarik perhatiannya.


Ling Chen mengikutinya. Dia sampai ke daerah yang kumoh dan orang itu sepertinya tiba di rumahnya dan membuka kain yang menutupi kepalanya.


Mata Ling Chen membulat. Itu adalah orang yang sama persis yang selalu muncul dalam mimpinya. Hatinya mula tidak karuan.


Ling Chen bisa merasakan merendian orang itu hancur.


'Apa itu alasan dia tidak bisa memasuki alam mimpi ku lagi?'


Ling Chen yang hanya melihat orang itu dalam mimpinya tidak begitu bisa jelas mengingat wajahnya. Namun melihatnya lagi di dunia nyata, dia sangat tampan walau dia terlihat lusuh dengan pakaian penuh tambalan.


Rambut hitamnya yang terlihat indah ketika menyentuh matahari juga matanya berwarna biru yang tenang seperti air sungai yang mengalir menarik perhatiannya.


"Hah..... Padahal sedikit lagi....."


Ling Chen mendengarnya seperti akan mengutuk.


"Mengapa banjingan itu harus menghancurkan merendian ku ketika aku hampir mencapai tingkat dewa? Padahal aku sudah hampir bisa menemuinya di dunia nyata.... Aku benar benar menyedihkan...."

__ADS_1


Mata tenang orang itu terlihat sedikit sedih.


"Apakah begitu?"


Orang itu tersentak dan langsung menoleh ke arah suara. Dia benar benar kaget melihat Ling Chen berdiri di sana. Dia kehilangan kata.


"Apakah ini alasan kamu tidak bisa memasuki mimpi ku lagi atau kerana merendian mu?"


Ling Chen terlihat sedikit kesal. Orang itu menghela nafas dan menutup kepalanya seolah dia malu.


"Yang kedua. Aku menggunakan seluruh kekuatan terakhir ku untuk memasuki mimpi mu. Bahkan jika aku mencapai tingkat dewa, kamu mungkin tidak akan melihat ku di dunia nyata. Lihat saja betapa miskinnya diri ku..."


Orang itu memutar tubuhnya seperti ingin pergi. Namun dia di tarik oleh Ling Chen.


"Siapa yang membenarkan kamu pergi?"


Ling Chen menatapnya dengan tatapan akan menghajarnya hingga mati. Matanya berwarna merah namun tidak mengalirkan air mata.


"Apa kamu tahu aku menangis kerana itu? Mengapa kamu begitu jahat? Apa kamu tahu bahwa aku bahkan tidak pernah menangis seumur hidupku?"


Orang itu menghela nafas. Ling Chen benar benar terlihat sedih.


"Maaf. Namun aku benar benar tidak setaraf dengan mu. Nama ku Xu Pio, anggap ini permintaan maaf ku."


Ling Chen membulat matanya. Orang di depannya tidak pernah ingin mengungkapkan namanya walau sekeras apapon dia mencoba. Namun hari ini, dia mendapatkan namanya? Begitu mudah sebagai permintaan maaf? Jangan bercanda.


"Apa kamu memberitahu ku kerana aku sudah mengetahui diri asli mu?"


Xu Pio menggeleng.


"Kerana aku tidak akan lama di dunia ini dengan merendian yang hancur. Dunia ini keras dan kejam. Aku yang bukan dari kalangan orang kaya pasti akan hancur."


Itulah kenyataan pahit dunia ini. Bahkan kakaknya yang datang dari orang ternama melalui pelecehan yang tidak ada hentinya. Bagaimana orang biasa yang bahkan ingin makan saja susah bisa bertahan?


Ling Chen melepaskan pakaian Xu Pio. Dia diam kaku untuk beberapa detik.


'Mengapa aku terlalu baik?'


Ling Chen menanyakan itu. Ling Chen merasa dirinya bukan dirinya sekarang. Dia bersikap sangat baik kerana kakaknya. Yah, walau masih sering di marahi kerana kurang sopan.


'Kakak tidak ada di sini.... Juga ini hidup ku.'


Ling Chen bukanlah anak yang baik dan penurut seperti Ling Chyou. Dia menjadi penurut supaya kakaknya menyayanginya.


'Mengapa aku melepaskannya? Aku hanya harus menculiknya jika begitu sukar.'


Ling Chen mengangkat kepalanya.


"Pil naga hijau, aku bisa memberikan itu pada mu."


Xu Pio tersentak mendengar itu. Pil naga hijau bisa menyembuhkannya total.


"Namun dengan syarat, kamu menjadi budak ku."


Ling Chen tidak akan melepaskannya. Dia pada akhirnya membawa darah seorang bangsawan yang suka memaksa. Keringat mengalir di pipi Xu Pio.


"Itu bukan syarat....."


Xu Pio yang bahkan menghantui Ling Chen untuk 3 tahun tanpa henti tidak mungkin merasa itu syarat yang menyulitkannya.


"Apakah begitu? Apa kamu tidak ingin menjadi budak ku?"


Ling Chen salah paham. Matanya dingin.


"Tidak, bukan itu. Menjadi budak mu..... Aku sangat senang.... Bagaimana mungkin syarat adalah hal yang menyenangkan....."


Ling Chen membulat mata dan menatap Xu Pio dengan baik. Pipi Xu Pio sedikit memerah namun wajahnya masih sangat tenang.


'Ah.... Aku menyukai wajah itu...'


Ling Chen tidak peduli lagi.


"Terima saja jika itu menyenangkan atau tidak. Kamu bisa setidaknya acting kamu kesulitan di depan umum."


Bibir Xu Pio membentuk senyuman.


"Jika begitu, aku akan sangat senang, tidak, dengan berat hati menerimanya..."


Ling Chen mendengus puas dan berjalan pergi. Xu Pio mengikutinya dari belakang.


.


.


.


.


.


...**Bersambung**...


Yin Mei: Oi Thor, kamu ngapain dah? Masa semua couple bxb semua? Kami yang cewek terseksa.....😢


Xia Zu: Kamu aja.


Xin He: Yaelah, kamu juga menikmatinya bukan?

__ADS_1


Xiu Yang: Yah, ini juga kan novel bl. Yang sabar sajalah....


Nulho: Yaelah..... Kalian cantik pergi main sama banyak pria sana. Ato gak temanin aku yang jomblo ini 😢


__ADS_2